• Latest
Fenomena ‘Utang Hantu’ Pay Later di AS, Apa Kabar di RI?

Fenomena ‘Utang Hantu’ Pay Later di AS, Apa Kabar di RI?

July 10, 2025
Raja Mobil Dunia Diambang Kebangkrutan, Tandanya Makin Terlihat

Raja Mobil Dunia Diambang Kebangkrutan, Tandanya Makin Terlihat

October 24, 2026
Bos Pinjol Respons Hakim PN Jakpus Batalkan Putusan Kartel Bunga KPPU

Bos Pinjol Respons Hakim PN Jakpus Batalkan Putusan Kartel Bunga KPPU

October 24, 2026
Singapura Sebut PT PML Penyebab Karhutla RI, Emiten Ini Buka Suara

Singapura Sebut PT PML Penyebab Karhutla RI, Emiten Ini Buka Suara

October 24, 2026
2 Ketegori Aset Kripto Dapat ‘Kode’ Halal dari MUI, Ini Bocorannya

2 Ketegori Aset Kripto Dapat ‘Kode’ Halal dari MUI, Ini Bocorannya

October 24, 2026
Kata-Kata Bos Danantara Soal Harga Saham Saat Sentimen MSCI Melanda

Kata-Kata Bos Danantara Soal Harga Saham Saat Sentimen MSCI Melanda

October 24, 2026
Bersaing Dengan LPG Non Subsidi, Ini Sumber Cuan Bisnis CNG

Bersaing Dengan LPG Non Subsidi, Ini Sumber Cuan Bisnis CNG

October 24, 2026
Ungkap Efek Penilaian MSCI ke Minat Investasi & IPO Saham

Ungkap Efek Penilaian MSCI ke Minat Investasi & IPO Saham

October 24, 2026
2 Pengusaha Properti Bangkrut Rampok Bank Rp157 M, Ditangkap-Diampuni

2 Pengusaha Properti Bangkrut Rampok Bank Rp157 M, Ditangkap-Diampuni

October 24, 2026
Ekspansi Panas Bumi 1 GW, Geo Dipa Energi Bakal Rilis Obligasi

Ekspansi Panas Bumi 1 GW, Geo Dipa Energi Bakal Rilis Obligasi

October 24, 2026
700 BUMN Ditutup Tahun Ini, Danantara Targetkan Laba Rp 334 Triliun

700 BUMN Ditutup Tahun Ini, Danantara Targetkan Laba Rp 334 Triliun

October 24, 2026
Neraca Sehat & Kinerja Solid, BMRI Catat Laba Rp 45,5 T di Kuartal III

Neraca Sehat & Kinerja Solid, BMRI Catat Laba Rp 45,5 T di Kuartal III

October 23, 2026
Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan

Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan

October 23, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Sunday, October 25, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home People & Culture

Fenomena ‘Utang Hantu’ Pay Later di AS, Apa Kabar di RI?

1 year ago
in People & Culture
Fenomena ‘Utang Hantu’ Pay Later di AS, Apa Kabar di RI?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia — Amerika Serikat (AS) belakangan tengah dilanda fenomena phantom debt atau ‘utang hantu’, yang didorong oleh pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL). 

Di AS, Wall Street umumnya menilai kondisi ekonomi konsumen AS pasca-Covid jauh lebih baik dari perkiraan, namun seorang analis mengungkap adanya celah besar yang belum diperhitungkan. Ia menyebutnya sebagai phantom debt-, yakni pengeluaran lewat skema BNPL yang sering tidak tercatat oleh biro kredit.

Di Indonesia sendiri, penyaluran BNPL oleh multifinance naik 54,26% per Mei 2025, mencapai Rp8,58 T. Selain dari multifinance, perbankan kini juga gencar bermain di segmen tersebut. 

Direktur Pefindo Wahyu Trenggono mengatakan phantom debt bisa saja terjadi di Indonesia karena tidak semua data pinjaman tercatat dalam sistem resmi seperti SLIK OJK.

“Misalnya, data pinjaman dari koperasi atau pinjol yang tidak terdaftar di OJK tidak tercatat dalam data kredit nasional. Akibatnya, jika Lembaga Jasa Keuangan (LJK) memeriksa individu atau korporasi yang memiliki pinjaman kredit yang tidak dilaporkan di sistem SLIK, nilai credit scoring nya akan misleading,” ungkap Wahyu kepada CNBC Indonesia, Rabu, (9/7/2025).

Menurut Wahyu, credit scoring yang misleading cenderung membahayakan perusahaan finansial. Pasalnya, hal ini tidak mencerminkan risiko kredit yang sebenarnya, dan mengarah pada risiko non performing financing (NPF) hingga gagal bayar. 

Asal tahu saja, tingkat NPF gross BNPL per Mei 2025 tercatat 3,74%. Angka ini turun dibanding bulan sebelumnya, 3,78%. Akan tetapi tetap cenderung terbilang tinggi. 

“Idealnya, semua data fasilitas yang diberikan lembaga pemberi pinjaman, termasuk koperasi dan pindar, tercatat dalam sistem data pelaporan kredit nasional. Dengan begitu, data pinjaman lebih terintegrasi dan transparan sehingga masyarakat bisa terlindungi dari risiko utang yang tidak sah,” kata dia.

Sejauh ini, Pefindo menghimpun data BNPL dari lembaga jasa keuangan seperti bank, multifinance dan fintech yang sudah terintegrasi di SLIK maupun melaporkan datanya langsung ke IdScore.

Sebagai salah satu penyedia layanan pay later, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi mengatakan bahwa tingkat NPF membaik seiring dengan pengetatan seleksi calon debitur pay later.

“Non-profiling financing-nya kan juga membaik. Ya, berarti kualitasnya juga sudah mulai membaik karena dengan pengetatan kredit kita menjaga supaya jangan sampai sudah nggak bisa tumbuh terjadi pemburukan kualitas,” kata Suwandi dikonfirmasi terpisah.

Meski demikian, Suwandi mengatakan, kontribusi pay later kepada pembiayaan multifinace nilainya masih kecil.

“Tapi ya memang itu salah satu alternatif orang sudah duitnya juga terbatas ya, salah satunya ya dengan adanya BNPL mereka bisa lebih mengatur cash flow-nya. Tapi yang saya imbau adalah kalau sudah mendapatkan pinjaman dan mengambil pinjaman dari BNPL, jangan lupa dibayar,” ungkapnya.

Kembali ke fenomena di Amerika Serikat, CEO Citi Jane Fraser mengingatkan adanya “retakan” pada kelompok berpendapatan rendah, sementara analis Wells Fargo menyoroti tren keuangan pribadi yang sering luput dari perhatian, yakni konsumen membeli produk tanpa langsung melunasi pembayaran.

Melansir Forbes.com, pembayaran dilakukan secara mencicil dalam jangka waktu tertentu, terkadang disertai biaya layanan atau skema pembayaran yang berubah sesuai risiko kredit konsumen.

Masalahnya bagi para ekonom, banyak platform BNPL enggan membagikan data transaksi konsumen ke biro kredit karena khawatir akan merusak skor kredit pengguna. Contohnya, Afterpay sama sekali tidak melaporkan datanya, sedangkan Klarna hanya membagikannya ke lembaga kredit di Inggris.

(mkh/mkh)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Warga RI Pakai Paylater Bank hingga Rp 22,57 Triliun




Source link

Share197Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Raja Mobil Dunia Diambang Kebangkrutan, Tandanya Makin Terlihat

Raja Mobil Dunia Diambang Kebangkrutan, Tandanya Makin Terlihat

October 24, 2026
Bos Pinjol Respons Hakim PN Jakpus Batalkan Putusan Kartel Bunga KPPU

Bos Pinjol Respons Hakim PN Jakpus Batalkan Putusan Kartel Bunga KPPU

October 24, 2026
Singapura Sebut PT PML Penyebab Karhutla RI, Emiten Ini Buka Suara

Singapura Sebut PT PML Penyebab Karhutla RI, Emiten Ini Buka Suara

October 24, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .