• Latest
Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?

Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?

July 1, 2025
Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan

Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan

October 23, 2026
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

October 23, 2026
Perkuat Bisnis, Antam Fokus Ciptakan Nilai Tambah Jangka Panjang

Perkuat Bisnis, Antam Fokus Ciptakan Nilai Tambah Jangka Panjang

October 23, 2026
Meneropong Wajah Baru IHSG Usai Saham HSC Didepak

Meneropong Wajah Baru IHSG Usai Saham HSC Didepak

October 23, 2026
BMRI Respons Kebijakan DHE SDA: Buka Peluang DPK Valas

BMRI Respons Kebijakan DHE SDA: Buka Peluang DPK Valas

October 23, 2026
OJK Heran Potensi Turun Kelas Bursa RI, 16 dari 18 Indikator Unggul

OJK Heran Potensi Turun Kelas Bursa RI, 16 dari 18 Indikator Unggul

October 23, 2026
BI Ungkap Kabar Baik dari Sektor Swasta, Kredit Tumbuh Kencang

BI Ungkap Kabar Baik dari Sektor Swasta, Kredit Tumbuh Kencang

October 23, 2026
Keterbukaan Kepemilikan Saham RI Lebih Ketat dari Negara Lain

Keterbukaan Kepemilikan Saham RI Lebih Ketat dari Negara Lain

October 23, 2026
74% Emiten Cetak Laba di Tengah Badai MSCI, OJK: Bursa RI Kuat

74% Emiten Cetak Laba di Tengah Badai MSCI, OJK: Bursa RI Kuat

October 23, 2026
OJK Ancam Pelaku Pasar Modal, Denda Manipulasi Saham Tembus Rp2,5 T

OJK Ancam Pelaku Pasar Modal, Denda Manipulasi Saham Tembus Rp2,5 T

October 23, 2026
Bos OJK Lapor Prabowo, Bursa Mineral Meluncur 4 Januari 2027

Bos OJK Lapor Prabowo, Bursa Mineral Meluncur 4 Januari 2027

October 23, 2026
BMRI Ungkap 3 Fokus Prioritas Perusahaan di Sisa 2026

BMRI Ungkap 3 Fokus Prioritas Perusahaan di Sisa 2026

October 23, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Friday, October 23, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home People & Culture

Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?

1 year ago
in People & Culture
Dolar AS Catatkan Kinerja Terburuk Sejak Krisis 1973, Ada Apa?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Amerika Serikat mencatat pergerakan awal tahun terburuk sejak 1973, tertekan oleh kebijakan ekonomi dan perdagangan Presiden Donald Trump. Sepanjang enam bulan pertama 2025, indeks dolar anjlok 10,8%, menjadi penurunan semester terbesar sejak runtuhnya sistem Bretton Woods.

Diketahui, indeks dolar menggambarkan pergerakan mata uang tersebut terhadap enam mata uang utama lain, termasuk poundsterling, euro, dan yen. Pelemahan ini mencerminkan kegelisahan investor terhadap prospek ekonomi AS di tengah kebijakan yang dinilai tidak konsisten.

“Dolar menjadi kambing hitam dari kebijakan Trump 2.0 yang serba tidak pasti,” kata Francesco Pesole, analis valuta asing dari ING, dikutip dari Financial Times, Selasa, (1/7/2025).

Ia menyebut perang tarif yang tidak menentu, utang jumbo AS, serta kekhawatiran atas independensi The Fed sebagai penyebab menurunnya daya tarik dolar sebagai aset aman.

Pada perdagangan Senin, dolar kembali turun 0,6% menjelang pemungutan suara di Senat AS terkait amandemen terhadap RUU pajak Trump. Undang-undang yang disebut sebagai “big, beautiful tax bill” itu diperkirakan akan menambah utang AS sebesar US$3,2 triliun dalam sepuluh tahun ke depan.

Kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan fiskal AS memicu aksi jual besar-besaran di pasar obligasi negara tersebut. Hasilnya, permintaan terhadap dolar ikut terguncang di tengah eksodus dari aset-aset safe haven AS.

Kondisi ini berkebalikan dari prediksi awal tahun yang memperkirakan perang dagang Trump justru akan memperkuat dolar. Alih-alih menguat, dolar justru melemah drastis, sementara euro menguat 13% hingga menembus level US$1,17.

Beberapa bank Wall Street bahkan sebelumnya memprediksi euro akan jatuh ke level paritas terhadap dolar. Namun justru kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi AS mendorong investor beralih ke aset lain seperti obligasi Jerman.

Andrew Balls, Chief Investment Officer di Pimco, menyebut pengumuman Trump soal “reciprocal tariffs” pada April sebagai titik balik kebijakan ekonomi AS. Meski ia menilai tak ada ancaman nyata terhadap status dolar sebagai mata uang cadangan global, Balls mengakui tren pelemahan tetap bisa terjadi.

Menurutnya, investor global kini semakin aktif melakukan lindung nilai terhadap eksposur dolar. Aktivitas ini justru menambah tekanan terhadap nilai tukar greenback.

Ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga secara agresif juga menjadi beban tambahan bagi dolar. Pasar kini memperkirakan setidaknya lima kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun depan.

Meskipun pelemahan dolar mendukung reli saham AS yang mencapai rekor tertinggi, indeks S&P 500 tetap tertinggal jauh dari bursa Eropa jika diukur dalam satuan mata uang yang sama. Investor institusi, termasuk dana pensiun dan bank sentral, juga mulai mengurangi kepemilikan terhadap aset berdenominasi dolar.

“Investor asing kini menuntut lindung nilai lebih besar atas aset dolar mereka, dan itu turut menghambat dolar untuk ikut rebound bersama saham AS,” kata Pesole.

Di saat bersamaan, harga emas melonjak ke rekor baru akibat pembelian besar-besaran dari bank sentral dan investor yang khawatir terhadap risiko depresiasi dolar.

Saat ini, dolar berada di titik terlemah terhadap mata uang saingannya dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Namun karena posisi jual terhadap dolar sudah terlalu ramai, sebagian analis memperkirakan laju penurunan akan segera melambat.

“Pelemahan dolar sudah jadi tren yang terlalu padat, dan saya menduga kecepatannya akan melambat,” ujar Guy Miller, kepala strategi pasar di Zurich Insurance Group.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Tak Banyak Sentimen, Dolar AS Ditutup Stagnan Rp16.820




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan

Kinerja Melesat, PTBA Siapkan Langkah Strategis Jaga Nilai Perusahaan

October 23, 2026
BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Senilai Rp1 Triliun

October 23, 2026
Perkuat Bisnis, Antam Fokus Ciptakan Nilai Tambah Jangka Panjang

Perkuat Bisnis, Antam Fokus Ciptakan Nilai Tambah Jangka Panjang

October 23, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .