• Latest
BI Rate Naik Jadi 5.25%, Nasib Rupiah Bisa Menguat ke Rp17.300

BI Rate Naik Jadi 5.25%, Nasib Rupiah Bisa Menguat ke Rp17.300

May 21, 2026
Kasus IPO CUAN, OJK Beri Sanksi 2 Sekuritas dan Direkturnya

Kasus IPO CUAN, OJK Beri Sanksi 2 Sekuritas dan Direkturnya

October 21, 2026
Denda Rp500 Miliar, OJK Bongkar Masalah di Balik IPO Saham BREN

Denda Rp500 Miliar, OJK Bongkar Masalah di Balik IPO Saham BREN

October 21, 2026
Kasus Saham DSSA, Ini Daftar Sekuritas Kena Sanksi OJK

Kasus Saham DSSA, Ini Daftar Sekuritas Kena Sanksi OJK

October 21, 2026
OJK Bongkar Daftar Pihak Terkait Pelanggaran 3 Emiten Konglomerat

OJK Bongkar Daftar Pihak Terkait Pelanggaran 3 Emiten Konglomerat

October 21, 2026
GIC & Temasek Jawab Dugaan Pengaruhi MSCI Downgrade Bursa RI

GIC & Temasek Jawab Dugaan Pengaruhi MSCI Downgrade Bursa RI

October 21, 2026
OJK Imbau Event Lari Lindungi Peserta Pakai Asuransi

OJK Imbau Event Lari Lindungi Peserta Pakai Asuransi

October 21, 2026
Membaca MSCI dengan Kepala Dingin

Membaca MSCI dengan Kepala Dingin

October 21, 2026
Akhiri Perdagangan IHSG Parkir Naik 0,9%

Akhiri Perdagangan IHSG Parkir Naik 0,9%

October 21, 2026
OJK & BEI Kumpulkan Investor Institusi Usai Pengumuman MSCI, Bahas Ini

OJK & BEI Kumpulkan Investor Institusi Usai Pengumuman MSCI, Bahas Ini

October 21, 2026
WIFI Angkat Komut dan Dirut Baru, Fadel Muhammad Gantikan Hashim

WIFI Angkat Komut dan Dirut Baru, Fadel Muhammad Gantikan Hashim

October 21, 2026
Meleset dari Ramalan Pasar! BI Tahan Suku Bunga di 5,75%

Meleset dari Ramalan Pasar! BI Tahan Suku Bunga di 5,75%

October 21, 2026
BI Ungkap Kredit Nganggur Tembus Rp2.562 T hingga September 2026

BI Ungkap Kredit Nganggur Tembus Rp2.562 T hingga September 2026

October 21, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Wednesday, October 21, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Market

BI Rate Naik Jadi 5.25%, Nasib Rupiah Bisa Menguat ke Rp17.300

5 months ago
in Market
BI Rate Naik Jadi 5.25%, Nasib Rupiah Bisa Menguat ke Rp17.300
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% bisa menjadi langkah agresif yang dibutuhkan untuk menyelamatkan stabilitas rupiah.

Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian menilai langkah BI tersebut tepat dan menunjukkan otoritas moneter tidak ingin terlambat merespons gejolak pasar.

Maka dari itu, jika Bank Indonesia tidak cepat tanggap dalam merespons pelemahan tersebut biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal.

“Keputusan BI sudah tepat. Ini bukan sekadar kenaikan suku bunga, ini adalah pernyataan bahwa policy anchor Indonesia masih dijaga. Dalam situasi seperti ini, Bank Indonesia tidak boleh terlambat. Kalau terlambat, biaya stabilisasi akan jauh lebih mahal,” ujar Fakhrul dalam keterangan resmi dikutip Kamis (21/5/2026).

Menurut Fakhrul, tekanan terhadap Indonesia saat ini bukan sekedar volatilitas biasa, melainkan fase yang membutuhkan respons moneter yang pre-emptive. Kenaikan suku bunga acuan ini akan menjadi titik balik bagi rupiah setelah sebelumnya mengalami tekanan hebat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Dirinya memproyeksikan rupiah berpotensi menguat secara bertahap dengan target awal di kisaran Rp 17.300/US$ sebelum bergerak menuju level keseimbangan baru di sekitar Rp 16.800/US$.

“Rupiah sudah selesai fase overshootingnya. Dengan respons BI yang tegas, pasar sekarang punya jangkar baru. Level Rp17.300 menjadi titik berhenti pertama, dan apabila koordinasi kebijakan berjalan baik, Rupiah bisa bergerak menuju Rp16.800,” ujarnya.

Tak hanya itu, dengan kombinasi kenaikan BI Rate, intervensi valas, penguatan DNDF/NDF, serta perluasan transaksi CNH-Rupiah dan LCT, keyakinan pasar akan penguatan rupiah akan semakin baik

“Ini saatnya mulai buang dolar secara bertahap. Bukan karena risiko global hilang, tetapi karena Indonesia akhirnya memberi respons kebijakan yang cukup kuat,” ujarnya.

Setelah BI menaikkan suku bunga acuan, langkah berikutnya adalah memperbaiki struktur pasar uang dan obligasi domestik. Menurut Fakhrul, suku bunga SRBI perlu mulai diturunkan secara bertahap agar tidak terus menyedot likuiditas dari pasar obligasi negara dan aset berdurasi panjang.

“Setelah BI Rate naik, SRBI tidak boleh terlalu lama menjadi magnet utama likuiditas. Kalau SRBI terlalu menarik, dana akan terus terkonsentrasi di instrumen pendek. Ini bisa mengganggu pasar SBN, menekan yield curve, dan membuat transmisi kebijakan tidak sehat,” ujar Fakhrul.

Ia menilai normalisasi yield curve sangat penting agar pasar kembali berfungsi secara wajar. Kurva imbal hasil yang lebih sehat akan membantu investor kembali masuk ke obligasi jangka panjang, mendukung pembiayaan pembangunan, dan memperbaiki ekspektasi terhadap Rupiah.

Tak hanya itu, kekompakan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan juga penting. Menurutnya, kenaikan suku bunga BI harus diikuti komunikasi fiskal yang jelas, terutama terkait subsidi energi, strategi penerbitan SBN, serta arah pembiayaan pemerintah.

“BI dan Kemenkeu harus kompak. BI menjaga jangkar stabilitas, Kemenkeu menjaga kredibilitas fiskal. Kalau keduanya berjalan bersama, Rupiah bisa menguat, yield bisa lebih sehat, dan pasar akan kembali percaya pada cerita besar Indonesia,” ujar Fakhrul.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan pagi ini di level Rp17.600/US$, atau tidak berubah dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada Rabu (20/5/2026), rupiah ditutup menguat 0,54% ke posisi Rp17.600/US$, setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.

(arj/arj)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Kasus IPO CUAN, OJK Beri Sanksi 2 Sekuritas dan Direkturnya

Kasus IPO CUAN, OJK Beri Sanksi 2 Sekuritas dan Direkturnya

October 21, 2026
Denda Rp500 Miliar, OJK Bongkar Masalah di Balik IPO Saham BREN

Denda Rp500 Miliar, OJK Bongkar Masalah di Balik IPO Saham BREN

October 21, 2026
Kasus Saham DSSA, Ini Daftar Sekuritas Kena Sanksi OJK

Kasus Saham DSSA, Ini Daftar Sekuritas Kena Sanksi OJK

October 21, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .