• Latest
IHSG Putus Tren Penguatan, Ditutup Anjlok 1,89% ke Level 5.873

IHSG Putus Tren Penguatan, Ditutup Anjlok 1,89% ke Level 5.873

July 8, 2026
Geo Dipa Siap Jadi Alat Fiskal Ekonomi Hijau

Geo Dipa Siap Jadi Alat Fiskal Ekonomi Hijau

October 2, 2026
Update Merger BUMN Karya, Perusahaan Ini Lebih Dulu Digabung

Update Merger BUMN Karya, Perusahaan Ini Lebih Dulu Digabung

October 2, 2026
Bos OJK Ungkap RI Bakal Punya 5 Bank Syariah Jumbo di 2027

Bos OJK Ungkap RI Bakal Punya 5 Bank Syariah Jumbo di 2027

October 2, 2026
Inovasi Pengusaha Fashion Lokal Saat Tren Konsumen Berubah

Inovasi Pengusaha Fashion Lokal Saat Tren Konsumen Berubah

October 2, 2026
Curi Start, Bos Erajaya Ungkap Strategi Memperkuat Bisnis di 2027

Curi Start, Bos Erajaya Ungkap Strategi Memperkuat Bisnis di 2027

October 2, 2026
BI Buka Keran Repo Surat Utang SMF, Transaksi Tembus Rp1,25 T

BI Buka Keran Repo Surat Utang SMF, Transaksi Tembus Rp1,25 T

October 2, 2026
IHSG Happy Weekend, Menguat 0,46% ke Level 6.036

IHSG Happy Weekend, Menguat 0,46% ke Level 6.036

October 2, 2026
Kejagung Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pengadaan Motor Listrik MBG

Kejagung Tetapkan 5 Tersangka Korupsi Pengadaan Motor Listrik MBG

October 2, 2026
Baru Dibuka BI, Repo Surat Utang SMI Tembus Rp60 Miliar

Baru Dibuka BI, Repo Surat Utang SMI Tembus Rp60 Miliar

October 2, 2026
Rupiah Akhiri Pekan Menguat 0,40%, Dolar AS Turun ke Rp17.868

Rupiah Akhiri Pekan Menguat 0,40%, Dolar AS Turun ke Rp17.868

October 2, 2026
Asuransi BUMN Bakal Ramping, Aksi Merger Rampung Akhir Tahun

Asuransi BUMN Bakal Ramping, Aksi Merger Rampung Akhir Tahun

October 2, 2026
Dicoret MSCI & FTSE, GOTO Ungkap Biang Kerok Gejolak Saham

Dicoret MSCI & FTSE, GOTO Ungkap Biang Kerok Gejolak Saham

October 2, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Friday, October 2, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

IHSG Putus Tren Penguatan, Ditutup Anjlok 1,89% ke Level 5.873

3 months ago
in Lifestyle
IHSG Putus Tren Penguatan, Ditutup Anjlok 1,89% ke Level 5.873
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta,CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (7/7/2026), menghentikan penguatan enam hari beruntun di tengah optimisme pelaku pasar terhadap prospek pasar saham domestik.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui IDX Mobile pada akhir sesi kedua, IHSG berada di level 5.873,37, turun 113,12 poin atau 1,89% dari penutupan sebelumnya di level 5.986,50.

Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 10,55 triliun dengan volume perdagangan mencapai 22,70 miliar saham dalam 1,97 juta kali transaksi. Sebanyak 191 saham berada di zona hijau, sementara 482 saham melemah dan 116 saham bergerak stagnan.

Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh sektor barang baku, properti dan konsumer. Emiten yang menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini termasuk BBCA, BBRI, AMMN, BMRI dan BREN.

Adapun emiten yang menopang IHSG dari pelemahan yang lebih dalam adalah TLKM, JECX, UNTR dan ENRG.

Sentimen buruk pasar keuangan Indonesia hari ini khususnya datang dari peringatan S&P Global Indices.

Lembaga penyedia indeks global S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) kembali mempertahankan status Bursa Efek Indonesia (BEI) pada klasifikasi Emerging Market alias pasar berkembang. Namun, dalam pengumuman terbaru itu lembaga tersebut juga ikut memberikan ancaman berat apabila sejumlah permasalahan di pasar modal domestik tak kunjung selesai.

Dalam pengumuman Country Classification – 2026/2027 Watchlist yang dirilis pada 7 Juli 2026, S&P DJI menempatkan Indonesia ke dalam Watchlist 2027. Artinya, RI kini masuk daftar pantauan lembaga indeks tersebut untuk kemungkinan perubahan klasifikasi pada review tahunan 2027 mendatang. Indonesia yang saat ini masuk klasifikasi Emerging, berpotensi direklasifikasi menjadi Special Measures/Frontier.

Inti persoalan yang membuat S&P DJI menaruh Indonesia dalam pantauan adalah isu transparansi kepemilikan saham dan dampaknya terhadap likuiditas serta keandalan pembentukan harga di pasar.

Investor institusi global kerap mempersoalkan minimnya keterbukaan struktur kepemilikan saham di bursa RI, ditambah kekhawatiran terhadap dugaan pola perdagangan terkoordinasi. Kedua hal ini menyulitkan investor asing mengukur free float yang sesungguhnya, sekaligus meragukan apakah harga pasar benar-benar mencerminkan mekanisme yang wajar.

Kabar baiknya, S&P DJI menilai otoritas di Indonesia – mulai dari OJK hingga BEI – telah mengambil sejumlah langkah regulasi untuk membenahi persoalan tersebut. Namun, S&P memberi catatan tegas: jika permasalahan tak kunjung tuntas, Indonesia berpotensi dikenai Special Measures atau bahkan direklasifikasi menjadi Frontier Market pada review 2027.

Sebaliknya, jika transparansi dan likuiditas pasar membaik, sentimen positif akan mengalir dan status Emerging Market Indonesia berpeluang dipertahankan.

Peringatan S&P DJI ini datang di tengah tekanan serupa dari lembaga indeks global lainnya, MSCI, yang justru lebih dulu menyorot tajam bursa RI.

Dalam MSCI 2026 Market Classification Review yang dirilis akhir Juni 2026, MSCI memang mempertahankan Indonesia sebagai Emerging Market. Namun, MSCI menurunkan peringkat kriteria Information Flow (arus informasi) Indonesia – dari kategori tanpa masalah menjadi kategori yang perlu perbaikan.

MSCI menyoroti tiga persoalan struktural yang nyaris sama persis dengan kekhawatiran S&P: opasitas atau ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, indikasi pola perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga, serta minimnya ketersediaan informasi berbahasa Inggris bagi investor asing.

Lembaga tersebut memperingatkan bahwa apabila kemajuan yang memadai tak terlihat hingga Index Review November 2026, MSCI akan mempertimbangkan langkah lanjutan – termasuk kemungkinan untuk mereklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Tekanan ini bukan tanpa konsekuensi nyata. Aliran dana asing terus keluar dari pasar saham RI, dengan net foreign sell di Bursa Efek Indonesia yang menembus sekitar US$3,6 miliar sepanjang tahun berjalan. Sebuah penurunan kelas – baik oleh MSCI maupun S&P – berisiko memicu arus keluar modal lebih besar, mengingat dana pasif global mengekor pada indeks yang terikat pada tingkatan pasar tertentu.

(fsd/fsd)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Geo Dipa Siap Jadi Alat Fiskal Ekonomi Hijau

Geo Dipa Siap Jadi Alat Fiskal Ekonomi Hijau

October 2, 2026
Update Merger BUMN Karya, Perusahaan Ini Lebih Dulu Digabung

Update Merger BUMN Karya, Perusahaan Ini Lebih Dulu Digabung

October 2, 2026
Bos OJK Ungkap RI Bakal Punya 5 Bank Syariah Jumbo di 2027

Bos OJK Ungkap RI Bakal Punya 5 Bank Syariah Jumbo di 2027

October 2, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .