
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia bergerak sedikit menguat pada perdagangan Kamis (6/8/2026) pagi waktu Indonesia setelah sehari sebelumnya pasar mencerna perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah, kenaikan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS), serta gangguan pasokan dari sejumlah jalur ekspor utama.
Merujuk data Refinitiv, pada Kamis (6/8/2026) pukul 08.45 WIB, harga minyak Brent berada di US$80,09 per barel, naik 0,81% dibanding penutupan sebelumnya di US$79,45 per barel. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,69% menjadi US$75,74 per barel dari US$75,22 per barel.
Kenaikan ini terjadi setelah Brent sempat ditutup di bawah US$80 per barel pada Rabu untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli. Sepanjang sepekan terakhir, pergerakan harga masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Fokus utama pasar tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum pecahnya perang pada akhir Februari dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Presiden AS Donald Trump mengungkapkan telah berlangsung negosiasi sepanjang hari dengan Iran dan menyebut pembicaraan tersebut berlangsung positif. Namun, ia tetap mengancam akan mengambil tindakan keras apabila kesepakatan gagal tercapai.
Di sisi lain, Iran membantah adanya perundingan damai. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan Teheran dan Oman telah mencapai kesepahaman mengenai pengelolaan Selat Hormuz, sementara pengumuman bersama masih dalam tahap finalisasi.
Harapan bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat kembali normal sempat menekan harga minyak pada perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar masih berhati-hati karena proses negosiasi dinilai belum memberikan kepastian mengenai mekanisme pengelolaan jalur strategis tersebut.
Dari sisi fundamental, pasar turut merespons data persediaan minyak AS. Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak mentah naik 2,5 juta barel menjadi 407 juta barel pada pekan lalu. Hasil ini berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 1,5 juta barel.
Kenaikan persediaan terjadi seiring berkurangnya aktivitas pengolahan kilang serta meningkatnya impor minyak mentah. Stok di Cushing, Oklahoma, yang menjadi titik penyerahan kontrak WTI, juga bertambah lebih besar dari perkiraan pasar sehingga sempat membebani harga minyak AS.
Di tengah sentimen tersebut, risiko gangguan pasokan global masih belum sepenuhnya hilang. Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang kapal tanker minyak Arab Saudi di dekat pelabuhan ekspor Yanbu. Pada saat yang sama, serangan terhadap kapal, pelabuhan, dan terminal ekspor di kawasan Laut Hitam masih mengganggu distribusi komoditas.
Pasokan dari Kazakhstan turut menghadapi hambatan. Caspian Pipeline Consortium (CPC), jalur ekspor utama minyak Kazakhstan, beberapa kali menghentikan operasinya sepanjang pekan ini akibat persoalan keselamatan dan keterbatasan kapal tanker.
Sementara itu, China melonggarkan pembatasan ekspor bahan bakar pada Agustus. Kebijakan tersebut berpotensi menambah pasokan produk olahan minyak ke pasar internasional dan menjadi salah satu faktor yang terus dipantau investor.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

















