• Latest
Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama

Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama

September 2, 2026
Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

October 30, 2026
Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

October 30, 2026
Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

October 30, 2026
Warga RI Mulai Kredit Kendaraan Lagi, Laba Adira (ADMF) Naik 56%

Warga RI Mulai Kredit Kendaraan Lagi, Laba Adira (ADMF) Naik 56%

October 30, 2026
Pendapatan Bunga Bersih Naik, KB Bank Lanjutkan Transformasi Bisnis

Pendapatan Bunga Bersih Naik, KB Bank Lanjutkan Transformasi Bisnis

October 30, 2026
Pendapatan Melonjak 55,45%, Laba Bersih Emiten Bakrie (BNBR) Susut

Pendapatan Melonjak 55,45%, Laba Bersih Emiten Bakrie (BNBR) Susut

October 30, 2026
Yield SBN Tembus Rekor Tertinggi 7,7%, Ini Respons Menteri Keuangan

Yield SBN Tembus Rekor Tertinggi 7,7%, Ini Respons Menteri Keuangan

October 30, 2026
WIKA Cetak Penjualan Rp15,8 Triliun di Kuartal III-2026, Naik 11,9%

WIKA Cetak Penjualan Rp15,8 Triliun di Kuartal III-2026, Naik 11,9%

October 30, 2026
Laba Emiten Bus Listrik Bakrie (VKTR) Melonjak 47%, Ini Penopangnya

Laba Emiten Bus Listrik Bakrie (VKTR) Melonjak 47%, Ini Penopangnya

October 30, 2026
Maybank Indonesia Cetak Laba Rp1,43 T, Pendapatan Bunga Tumbuh 4,3%

Maybank Indonesia Cetak Laba Rp1,43 T, Pendapatan Bunga Tumbuh 4,3%

October 30, 2026
Minat Investasi Emas Fisik Vs Emas Digital Hadapi Gejolak Harga

Minat Investasi Emas Fisik Vs Emas Digital Hadapi Gejolak Harga

October 30, 2026
Top! Pendapatan MR.D.I.Y. Indonesia Tumbuh 24,5% di Kuartal III-2026

Top! Pendapatan MR.D.I.Y. Indonesia Tumbuh 24,5% di Kuartal III-2026

October 30, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Friday, October 30, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama

2 months ago
in Lifestyle
Krisis 1997 Bakal Terjadi? Bank Raksasa Beri Warning-Sebut 3 Ciri Sama
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Krisis keuangan Asia tahun 1997 yang berujung resesi ekonomi di seluruh kawasan, menjadi momok tersendiri saat ini. Hal tersebut terjadi di tengah gejolak pasar, yang ditandai dengan runtuhnya nilai mata uang, pelarian modal, dan kegagalan perbankan.

Bahkan, kepala ekonom bank raksasa HSBC, Frederick Neumann, mengatakan kemiripan antara situasi sekarang dengan periode tepat sebelum krisis 1997 terjadi sudah terlihat. Hal ini ia beberkan dalam sebuah catatan tertanggal 31 Agustus lalu.

3 Ciri-Ciri yang Sama

Mengutip CNBC International, Rabu (2/9/2028), ada beberapa aspek yang disoroti Neumann. Pertama, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury).

Hal ini, katanya, menjadi kemiripan yang paling utama dengan detik-detik sebelum krisis 1997. Kala itu, imbal hasil obligasi acuan AS tenor 10 tahun naik dari 5% pada Oktober 1993 menjadi sekitar 8% pada November 1994.

Pada April 1997, imbal hasil berada di kisaran 7%, atau sekitar 200 basis poin lebih tinggi dibandingkan posisinya empat tahun sebelumnya. Perlu diketahui, hingga Selasa pagi, imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun telah naik dari titik terendah 0,5% pada Agustus 2020 menjadi sekitar 4,79%.

“Memang, proses itu memakan waktu enam tahun,” ujarnya.

“Namun tahun ini saja, imbal hasil telah melonjak sekitar 80 basis poin dari angka 3,9% pada bulan Februari,” tegasnya.

Sebagai informasi, Departemen Keuangan AS mengumumkan akan menargetkan segmen pasar obligasi tenor 10 hingga 30 tahun untuk operasi pembelian kembali (buyback). Pemerintah akan “setidaknya melipatgandakan” ukuran maksimum operasi pembelian kembali tersebut, dari US$2 miliar (sekitar Rp 35,49 triliun/ Rp 17.746 per US$) menjadi “setidaknya” US$4 miliar (Rp 70,98 triliun).

Kedua, kemiripan lain terlihat pada pergerakan nilai tukar yen Jepang belakangan. Pada April 1995, yen diperdagangkan pada titik terendah siklus di level 80 terhadap dolar AS, sementara pada April 1997, nilainya telah melemah ke level 130, terdepresiasi sekitar 55%.

Saat ini, yen telah melemah sebesar 57% dari titik terendah sekitar 103 pada Januari 2021 ke titik tertinggi 163 pada bulan Juli, sebelum intervensi gabungan yang jarang terjadi dari Washington dan Tokyo memperkuat mata uang tersebut ke level saat ini di kisaran 160. Pasar kini sedang mempertimbangkan kemungkinan adanya intervensi lanjutan.

Ketiga, menjelang krisis tahun 1997, pasar juga diliputi optimisme terhadap teknologi seiring dengan munculnya internet. Jika dikaitkan dengan saat ini, Neumann memperlihatkan bagaimu alonjakan AI memicu optimisme serupa.

Ada Perbedaan?

Meski demikian, masih merujuk laman yang sama, Neumann berpendapat bahwa perbedaan antara tahun 1997 dan 2026 lebih besar daripada persamaannya. Yang paling signifikan, ujarnya, sebagian besar ekonomi Asia merupakan importir modal pada tahun 1990-an, yang artinya mereka menerima lebih banyak investasi dari luar negeri dibandingkan investasi yang mereka tanamkan di luar negeri, serta memiliki tingkat tabungan yang tidak memadai untuk memenuhi komitmen pengeluaran mereka.

“Meningkatnya biaya pendanaan dalam US$ dan yen yang tidak stabil- yang membuat investor cemas- menjadi katalis utama tekanan di kawasan ini,” kata Neumann.

Sementara saat ini, ekonomi Asia merupakan eksportir modal. Dengan demikian, tingginya biaya pendanaan AS dan melemahnya yen bukanlah faktor penekan utama.

Akan tetapi, ini tidak berarti kawasan akan terbebas dari dampak negatif. Masalah paling relevan bagi Asia, tegas Neumann lagi, adalah ketergantungannya pada lonjakan perangkat keras AI di AS, yang menjadi penggerak bagi banyak ekonomi di kawasan ini.

“Ekspor barang elektronik yang terkait dengan lonjakan AI telah menopang pertumbuhan di Korea Selatan (Korsel), Jepang, Taiwan, dan Singapura,” catatnya.

“Alih-alih kerentanan finansial seperti pada tahun 1990-an, Asia kini menghadapi kerentanan permintaan,” ujar Neumann.

“Jika kenaikan imbal hasil obligasi dan biaya pendanaan AS menghambat lonjakan perangkat keras AI, atau jika yen mengguncang pasar pendanaan global, permintaan terhadap produk-produk kawasan ini bisa merosot dan pertumbuhan ekonomi akan melambat drastis,” katanya memperingatkan lagi.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

October 30, 2026
Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

October 30, 2026
Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

October 30, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .