
Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan saat ini memasuki era higher for longer atau suku bunga tinggi yang lebih lama.
Kondisi tersebut, ungkapnya, tidak menguntungkan bagi ekonomi negara berkembang, termasuk Indonesia. Pasalnya akan membuat modal investor terbang ke negara maju, seperti Amerika Serikat untuk menjaga imbal hasil investasi dan juga melakukan investasi di sektor teknologi.
“Ini bagi negara berkembang kurang menguntungkan. Kondisi seperti ini ada flight to quality aset mereka akan meng-invest-kan ke sektor masih di luar sektor kita yaitu AI, teknologi itu menyebabkan mereka banyak investasi mereka masuk ke sektor mendatangkan return besar,” ujar Destry saat rapat kerja dengan Komite IV DPD RI di gedung DPD pada Senin (14/9/2026).
Saat ini, pelaku pasar mencermati Amerika Serikat sebagai kiblat pasar uang dan ekonomi dunia.
Destry mengatakan bahwa Amerika saat ini menghadapi kondisi di mana ekonomi bertumbuh solid namun juga dibarengi oleh tingkat inflasi yang meningkat karena harga minyak mentah dunia yang juga kembali meningkat.
Hal tersebut, paparannya menyebabkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya suku bunga obligasi.
“DXY meningkat sekarang, pagi ini 99 sekian dan juga kondisi peningkatan itu di yield goverment dimana 10 tahun sudah mendekati 5 persen padahal normalnya 3%,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini berpotensi ditambah dengan potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve atau The Fed sebesar 25 basis poin.
“Ini situasi higher for longer. Kita menghadapi situasi Fed Fund Rate diperkirakan sebesar 70% pada September Oktober naik 25bps,” imbuhnya.
(rob/haa)



















