
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Jumat (18/9) di zona merah, turun 0,33% ke level 6.441,16.
Sejumlah saham mencatat pergerakan positif, di antaranya BYAN yang naik 19,96%, DCII menguat 3,14%, dan BREN naik 3,25%. Di sisi lain, AMMN turun 4,49%, BMRI terkoreksi 2,07%, dan DSSA melemah 5,36%.
Investor asing membukukan net sell sebesar Rp1,78 triliun di pasar reguler dan Rp1,79 triliun di seluruh pasar.
Secara sektoral, 10 dari 11 sektor berada di zona merah. Sektor Industrials mencatat penurunan 1,64%, sedangkan sektor Technology menjadi satu-satunya sektor yang menguat, naik 0,27%.
Pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi. Dow Jones turun 0,18% ke 51.682, sementara S&P 500 naik 0,17% ke 7.650 dan Nasdaq menguat 0,40% ke 26.522.
Rebalancing FTSE turut memengaruhi arus dana di pasar saham Indonesia. Kondisi tersebut mendorong aksi jual bersih yang tercatat pada level tertinggi sejak 19 Juni, termasuk pada sejumlah emiten yang mengalami perubahan klasifikasi ke Micro Cap seperti BSDE, SCMA, dan BBYB.
Pergerakan indeks offshore Indonesia juga mengalami koreksi, dengan ETF EIDO turun 2,04% dan MSCI Indonesia melemah 1,24%.
Dari sisi aksi korporasi, ada PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) yang menyiapkan pengembangan bisnis makanan dan minuman (F&B) ke pasar global melalui lini Erajaya Food & Nourishment (EFN).
EFN sebelumnya telah membangun portofolio bisnis di pasar domestik melalui sejumlah merek, seperti Paris Baguette, Bacha Coffee, Curry Up, CHAGEE, Wetzel’s Pretzels, hingga GrandLucky Superstore.
Selain menambah portofolio merek, EFN juga memperkuat rantai pasok melalui pendekatan direct sourcing GrandLucky. Salah satunya dilakukan melalui pengembangan jaringan pasok dengan merek Brastagi di Medan.
Perseroan juga mengembangkan greenhouse dan hydroponic farming serta skema offtake untuk memperluas akses pasar bagi produk yang dihasilkan petani. Ke depan, EFN diarahkan untuk membangun portofolio bisnis yang lebih beragam dalam ekosistem Erajaya Group.
Selanjutnya, ada PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) yang melalui anak usahanya, Ratu Karya, menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Perumda Pasar Jaya pada 17 September 2026.
MoU tersebut berkaitan dengan rencana pembangunan dan pengembangan kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan estimasi nilai investasi sekitar Rp1 triliun.
Kawasan yang direncanakan akan dikembangkan tersebut mencakup sejumlah fasilitas, mulai dari kios dan los bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), rumah susun, rumah sakit, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga food court.
Rencana tersebut sekaligus memperluas portofolio BIKE ke sektor properti, infrastruktur, dan pengembangan kawasan.
Dari sisi skala, nilai investasi sekitar Rp1 triliun tersebut setara dengan sekitar 19 kali ekuitas perseroan pada semester I 2026 sebesar Rp51,40 miliar dan sekitar 10 kali total aset sebesar Rp96,05 miliar.
Lalu, ada juga PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) yang tengah berencana melakukan rights issue melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 7,88 miliar saham baru. Jumlah tersebut setara dengan 43,11% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah pelaksanaan PMHMETD IV.
Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp2.150 per saham. Dengan demikian, perseroan berpotensi memperoleh dana hingga Rp16,94 triliun dari aksi korporasi tersebut.
Sebanyak 86,01% dari dana yang dihimpun atau sekitar Rp14,57 triliun akan digunakan untuk mengambil alih 100% saham Frisian Flag Indonesia. Transaksi tersebut akan dilakukan melalui mekanisme inbreng atau penyetoran modal dalam bentuk selain uang.
Sementara itu, bagian dana dalam bentuk setoran tunai akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja, termasuk biaya bahan langsung, upah langsung, pemeliharaan, serta beban listrik.
Nilai rencana transaksi inbreng tersebut mencapai 178,24% dari ekuitas perseroan. Karena nilainya memenuhi kriteria transaksi material, pelaksanaannya memerlukan persetujuan pemegang saham dalam RUPS.
Setelah transaksi terlaksana, FrieslandCampina International Holding B.V. (FCIH) diproyeksikan menjadi pemegang saham pengendali baru ULTJ dengan kepemilikan sekitar 28,95% hingga 30,81%. FCIH juga wajib melakukan penawaran tender atas saham publik yang tersisa.
Di sisi lain, pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya dalam PMHMETD IV berpotensi mengalami dilusi hingga maksimal 43,11%.
Rencana aksi korporasi tersebut masih menunggu persetujuan RUPSLB yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)



















