
Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberi tamparan bertubi-tubi ke Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa Iran justru merupakan “korban terorisme global” yang dilakukan Trump.
Lalu, apa saja poin-poin lengkapnya? Berikut rangkuman CNBC Indonesia, Kamis (24/9/2026).
1.Iran Korban dari Terorisme
Di awal pidatonya, Pezeshkian langsung membantah bagaimana negerinya dicap teroris oleh Trump. Ia menyatakan justru negaranya adalah “korban dari terorisme” yang dilakukan pemerintahan Trump sendiri.
“Presiden Amerika Serikat menggambarkan kami sebagai teroris, padahal kami adalah korban dari terorisme,” ujarnya Rabu.
“Saya berasal dari Iran, di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun. Dan saya berasal dari Iran, di mana pada kenyataannya mereka mengebom sebuah sekolah. Anda melihat anak-anak ini, anak-anak ini tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan oleh Amerika Serikat dan Israel. Mereka tidak bersalah, mereka tidak melakukan kejahatan apa pun,” katanya.
2.Rakyat Kami Tidak Bersalah
Ia pun menegaskan bagaimana rakyat Iran yang menjadi korban serangan AS dan Israel sebenarnya tidak bersalah. Ini merujuk serangan awal perang 28 Februari lalu.
Ia menggambarkan bagaimana di kota Ilan terdapat sebuah gedung olahraga di mana anak-anak sedang sibuk bermain. Menurutnya, AS tiba-tiba datang menggunakan senjata berlapis hulu ledak ganda menargetkan gedung olahraga tersebut.
“Mereka memartirkan, membunuh para ilmuwan kami, laki-laki, perempuan, dan anak-anak kami. Anak-anak tak berdosa yang sejatinya tidak melakukan kejahatan atau dosa apa pun,” jelasnya.
“Mereka yang merupakan teroris serta melatih dan melindungi teroris, justru menggambarkan kami seperti itu.Kami hanya membela diri, kami bukan teroris,” katanya lagi.
“Rakyat kami yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi yang dijatuhkan ke negara kami, dan kami membela diri dengan segenap kekuatan kami,” tambahnya.
“Amerika dan Israel menyerang kami dengan dilengkapi teknologi dan sistem persenjataan terbaru, dan rakyat kami tetap teguh.”
3.Bertentangan dengan Hukum Internasional
Di kesempatan yang sama, ia juga mengatakan bagaimana Iran tidak bertekuk lutut. Menurutnya, Iran memang membalas tapi tak menyerang sipil.
“Ya, mereka memang menyerang kami, tetapi kami tidak bertekuk lutut, kami tidak menundukkan kepala. Kami membalas, tetapi kami tidak menyerang penduduk sipil,” ujar Pezeshkian.
Ia mengatakan bagaimana semua hal yang dilakukan AS dan Israel itu sebenarnya bertentangan dengan hukum internasional.`
“Mereka masuk ke wilayah-wilayah sekitar dan menargetkan universitas kami, pusat layanan kesehatan kami, sekolah-sekolah kami, rumah sakit kami, serta infrastruktur kami. Semuanya bertentangan dengan hukum internasional,” katanya.
“Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri. Apakah kami yang menyebabkan ketidakstabilan? Mereka yang melakukan terorisme dan melakukan kejahatan, apakah mereka pelindung perdamaian dan stabilitas? Tidak ada satu pun hukum internasional yang mereka patuhi. Inilah yang sedang kami hadapi,” ujarnya.
4.Israel yang Teroris
Pezeshkian juga mengatakan bagaimana Israel-lah sebenarnya yang teroris. Ia membeberkan bagaimana sekutu AS itu melakukan sejumlah kekerasan baik di Iran maupun wilayah lain.
“Ketika saya mengambil alih tanggung jawab sebagai presiden, mereka (Israel) membunuh Ismail Haniyeh di Iran tepat pada hari pelantikan saya. Israel menargetkan wilayah manapun, di kota manapun, di provinsi manapun, serta melakukan pembunuhan layaknya teroris sejati,” katanya.
“Di Gaza, lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh, dibunuh secara brutal, dan ratusan ribu orang lainnya telah mengungsi. Mereka melakukan genosida dengan menggunakan teknologi yang mereka miliki, lalu melabeli pihak lain sebagai teroris,” tambahnya.
“Bom atom dan nuklir berada di tangan rezim Israel, namun para inspektur (PBB) diminta untuk datang ke Iran. Israel telah membunuh lebih dari 70.000 warga tak berdosa di Gaza secara biadab, namun ketika Iran sedang berada di balik meja perundingan, mereka malah dibom. Israel memiliki bom, memiliki senjata pemusnah massal, tidak tergabung dalam Perjanjian Non-Proliferasi (NPT), dan selama keberadaannya yang memalukan mereka tidak pernah mengizinkan satu pun inspeksi. Namun mereka justru dihargai dengan segala sarana yang diperlukan agar mereka dapat mengebom ibu kota mana pun di wilayah itu sesuka hati,” jelasnya.
“Saya ulangi: senjata nuklir ada di Israel, tetapi inspektur ada di Iran. Israel membunuh, tetapi Iran yang dikenai sanksi. Ini adalah sebuah tragedi sejati yang mungkin akan membuat siapa pun yang mendengarnya tertawa. Mereka membunuh, kami disanksi, kami dihukum. Orang-orang yang sakit, orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang miskin dan kelompok yang paling tidak beruntung di masyarakat kamilah yang menjadi sasaran sanksi-sanksi ini. Dan inilah yang berusaha dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap semua negara; mengorbankan populasi suatu negara demi mencapai tujuannya yang tidak sah.”
5.Selama 200 Tahun Tak Pernah Serang Negara Lain
Dalam pidato ia juga mengatakan bagaimana sebenarnya Iran hanya ingin hidup mandiri. Dikatakannya bagaimana selama 200 tahun berdiri, negara itu tak pernah menyerang negara atau wilayah manapun.
“Selama 200 tahun atau dua abad terakhir, Iran tidak pernah menyerang negara atau wilayah mana pun, tetapi kami selalu membela diri kami dengan teguh,” ujarnya.
“Namun kini kami dituduh sebagai sumber ketidakstabilan di kawasan, dan kami dilabeli teroris. Hal inilah yang membuat jalan yang kami pilih mengharuskan kami memiliki kekuatan untuk membela diri,” tegasnya.
6. Program Nuklir untuk Tujuan Damai
Dalam pidatonya, ia juga kembali membela program nuklir negaranya. Ia mengatakan teknologi nuklir dibutuhkan Iran untuk berbagai keperluan, mulai dari pengobatan, pertanian, industri hingga penyediaan energi. Ia menegaskan Iran tidak akan menyerahkan apa yang disebutnya sebagai hak negara tersebut untuk mengembangkan teknologi nuklir damai.
“Kami tidak mencari kekuatan untuk menyerang atau melakukan agresi,” katanya.
“Kami mencari energi untuk kemajuan, bukan untuk mengancam masyarakat dengan senjata, dan kami ingin bekerja sama serta berkolaborasi demi keamanan,” ujarnya.
“Kami mencari energi untuk kemajuan. Selama bertahun-tahun, ketika menyangkut teknologi nuklir kami, mereka telah melabelinya dengan isu sentrifugal, sanksi internasional, dan label-label lainnya. Namun bagi negara kami, teknologi nuklir damai adalah bagian yang melekat pada kemajuan kami,” tambahnya.
“Bagi orang-orang kami yang sakit, ini adalah untuk obat dan perawatan; bagi sektor pertanian, ini untuk ketahanan pangan; bagi industri, ini untuk perkembangan, kemajuan, dan pasokan energi listrik.”
7.Nuklir Bukan Hanya Milik Ekslusif Segelintir
Ia pun menyinggung bagaimana nuklir seharusnya bukan hanya segelintir pihak. Dikatakannya hal ini adalah realita yang terlihat di dunia saat ini.
“Iran tidak dapat menerima jika teknologi nuklir hanya berada dalam kendali eksklusif segelintir pihak,” ujarnya.
“Kami tidak akan menundukkan kepala kami dan menyerahkan hak yang pada dasarnya adalah milik kami. Kami menyatakannya dengan jelas: tidak untuk senjata nuklir dan tidak ada pembatasan pada teknologi nuklir yang damai,” tambahnya.
Halaman 2>>


















