• Latest
Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

September 25, 2026
Siloam Rampungkan Akuisisi 5 RS Milik First REIT Rp 3,47 Triliun

Siloam Rampungkan Akuisisi 5 RS Milik First REIT Rp 3,47 Triliun

September 25, 2026
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315

September 25, 2026
Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900

September 25, 2026
IHSG Turun ke 6.200, Asing Net Sell Jumbo 10 Saham Ini

IHSG Turun ke 6.200, Asing Net Sell Jumbo 10 Saham Ini

September 25, 2026
IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

IHSG Masih Volatil, Deretan Saham Ini Menarik Buat Dilirik

September 25, 2026
Jadi First Mover, Bank Mega Sediakan QRIS Cross Border hingga KKI

Jadi First Mover, Bank Mega Sediakan QRIS Cross Border hingga KKI

September 25, 2026
Investor Cermati Yield Obligasi AS, Bursa Asia Dibuka Beragam

Investor Cermati Yield Obligasi AS, Bursa Asia Dibuka Beragam

September 25, 2026
10 Saham Ini Paling Banyak Masuk Keranjang Asing Kala IHSG Anjlok

10 Saham Ini Paling Banyak Masuk Keranjang Asing Kala IHSG Anjlok

September 25, 2026
Obligasi BLBI Lunas, Tak Berarti Pemerintah Bebas Utang dengan BI

Obligasi BLBI Lunas, Tak Berarti Pemerintah Bebas Utang dengan BI

September 25, 2026
Jasa Armada Indonesia Angkat Dwi Rahmad Toto Jadi Direktur Utama

Jasa Armada Indonesia Angkat Dwi Rahmad Toto Jadi Direktur Utama

September 25, 2026
67 Juta Orang Pakai QRIS, Gimana Nasib Uang Tunai?

67 Juta Orang Pakai QRIS, Gimana Nasib Uang Tunai?

September 25, 2026
Komisaris Silfester Matutina Dicopot, Pelindo Jasa Maritim Buka Suara

Komisaris Silfester Matutina Dicopot, Pelindo Jasa Maritim Buka Suara

September 25, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Friday, September 25, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun

1 hour ago
in Lifestyle
Aksi Jual Obligasi Dunia Menggila, Yield AS Rekor Tertinggi 22 Tahun
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Aksi jual di pasar obligasi global kembali berlanjut. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade, di tengah kekhawatiran investor terhadap inflasi, tingginya harga energi, serta peningkatan belanja pemerintah.

Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 30 tahun naik hingga 5,48% pada Kamis, level tertinggi sejak 2004. Sementara itu, yield Treasury tenor 10 tahun mencapai 5,20%.

Kenaikan yield tersebut menunjukkan harga obligasi yang semakin tertekan. Pasar obligasi global sendiri telah mengalami tekanan selama berbulan-bulan.

Kondisi tersebut terjadi ketika investor menghadapi kombinasi sejumlah faktor, mulai dari tingginya biaya energi, pertumbuhan ekonomi AS yang masih kuat, hingga kekhawatiran mengenai peningkatan belanja pemerintah. Perang Iran juga menjadi salah satu faktor yang mendorong harga energi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi.

Yield 10 Tahun Jadi Sorotan

Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah yield Treasury AS tenor 10 tahun menembus level 5% pada bulan ini. Level tersebut tergolong tinggi dan jarang dicapai dalam beberapa dekade terakhir.

Kini, pasar mulai memperhatikan level 6% sebagai “ambang berikutnya” yang dapat meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dan perusahaan AS. Kenaikan imbal hasil juga mulai terasa pada sektor rumah tangga.

Suku bunga hipotek AS tenor 30 tahun kini berada di sekitar 7%, sekitar satu poin persentase lebih tinggi dibandingkan sebelum perang, dan berada di kisaran tertinggi dalam dua tahun terakhir. Suku bunga hipotek adalah bunga yang dikenakan atas pinjaman untuk membeli rumah atau properti, yang biasanya dijamin dengan properti tersebut.

Sebenarnya, sejak pertemuan kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (The Fed/Fed) pada Juni, yield Treasury 10 tahun telah meningkat sekitar 0,70 poin persentase. Jika dihitung sejak awal Maret, kenaikannya mencapai sekitar 1,25 poin persentase.

“Sebagian besar kenaikan imbal hasil sejak Maret didorong oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed, sementara sisanya didorong oleh kombinasi antara ekspektasi pertumbuhan yang meningkat dan harga minyak yang lebih tinggi,” ujar kepala strategi suku bunga AS di TD Securities, Gennadiy Goldberg, dalam catatan risetnya, sebagaimana dimuat Reuters, Jumat (25/9/2026).

Data aktivitas bisnis terbaru yang menunjukkan perekonomian AS masih tumbuh kuat, bersamaan dengan meningkatnya tekanan inflasi, turut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan The Fed kembali menaikkan suku bunga.

Ekonomi AS Masih Tangguh

Berbeda dengan obligasi tenor pendek yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, yield Treasury tenor 30 tahun mencerminkan tingkat imbal hasil yang diminta investor untuk memberikan pembiayaan kepada pemerintah AS dalam jangka panjang.

“Kita melihat adanya penyesuaian harga (repricing) pada beberapa hal-pertumbuhan ekonomi AS tetap tangguh, dan itu menjadi alasan yang lebih positif mengapa kita berada dalam lingkungan suku bunga bebas risiko yang lebih tinggi,” kata Kepala strategi investment grade dan makro di CreditSights, Zachary Griffiths.

Sejauh ini, pasar saham AS masih mampu menyerap kenaikan yield. Pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat, kenaikan laba perusahaan, serta besarnya investasi terkait ledakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih menjadi penopang sentimen investor.

Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi bahkan sempat mencetak rekor tertinggi pada Selasa. Namun, tingginya yield obligasi dapat meningkatkan biaya pendanaan bagi pemerintah, perusahaan, maupun rumah tangga.

Yield Obligasi Dunia Ikut Naik

Tekanan tidak hanya terjadi di AS. Sejumlah negara ekonomi besar juga menghadapi kenaikan biaya pembiayaan di tengah kebutuhan belanja pemerintah yang semakin besar.

Di Jerman, otoritas keuangan memperkirakan pinjaman pemerintah federal mencapai rekor €525,5 miliar atau sekitar US$598 miliar pada 2026. Kebutuhan tersebut terutama didorong oleh pembiayaan kembali utang dan meningkatnya kebutuhan pendanaan.

Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun bahkan sempat menembus 3,6% bulan ini, level tertinggi dalam 17 tahun. Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun pada Kamis juga mencapai level tertinggi sejak 1996.

Sementara itu, pertumbuhan nominal ekonomi AS berada di kisaran 8% pada kuartal II-2026, menunjukkan perekonomian masih cukup kuat meski biaya pinjaman meningkat. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan disebut telah mengambil sejumlah langkah untuk meredam kenaikan biaya pinjaman. Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan kenaikan yield obligasi jangka panjang.

“Obligasi pemerintah AS bersaing dengan instrumen pasar lainnya untuk mendapatkan pembeli, jadi pertanyaannya adalah, seberapa tinggi lagi imbal hasilnya bisa naik?” ujar ahli strategi pasar global SMBC EMEA, Hank Calenti.

Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams pada Kamis mengatakan ekonomi AS menunjukkan “ketahanan yang luar biasa”. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat investor terus menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga dan inflasi AS, sementara pasar obligasi global menghadapi tekanan yang semakin besar.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Siloam Rampungkan Akuisisi 5 RS Milik First REIT Rp 3,47 Triliun

Siloam Rampungkan Akuisisi 5 RS Milik First REIT Rp 3,47 Triliun

September 25, 2026
IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315

IHSG Sesi I Dibuka Menguat 0,27% ke Level 6.315

September 25, 2026
Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900

Rupiah Dibuka Melemah, Dolar AS Kembali Tembus Rp17.900

September 25, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .