
Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan BUMN, PT PLN (Persero) memperkirakan, kebutuhan listrik Indonesia akan terus meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun kedepan. EVP Manajemen Aset dan Sistem Manajemen Terintegrasi PT PLN (Persero) Tri Hardimasyar mengatakan, pihaknya memastikan kesiapan penyediaan listrik untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.
“Salah satu langkah yang kami lakukan adalah melalui pengembangan energi surya 100 GWp secara bertahap,” ujarnya dalam keterangan tertulis dalam Indonesia International Sustainability Forum 2026, Rabu (7/10/2026).
Ia mengungkapkan, pada fase pertama, upaya tersebut difokuskan untuk mengurangi konsumsi diesel di wilayah yang belum terintegrasi dengan jaringan listrik konvensional. “Melalui pengembangan PLTS atap maupun PLTS terapung,” imbuhnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tenggara Strategics dan Centre for Strategic and Internasional Studies (CSIS) Indonesia, total konsumsi listrik diperkirakan meningkat dari 539 TWh di 2025 menjadi 1,813 TWh pada tahun 2060. Sekitar 28% dari permintaan listrik akan muncul dari rumah tangga, sementara kendaraan listrik menyumbang sekitar 11% dari total permintaan.
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia Yose Rizal Damuri mengatakan, program konversi dari kompor LPG ke kompor induksi atau kompor listrik akan menambah permintaan listrik paling besar dari sektor rumah tangga.
Menurutnya, program konversi kompor LPG ke kompor induksi jika dijalankan secara penuh, akan menciptakan permintaan listrik baru antara 27,62 gigawatt (GW) sampai 53,43 GW, tergantung dari tingkat efisiensi kompor induksi yang dipakai.
“Program konversi ini akan menciptakan permintaan listrik untuk program energi surya 100 GWp,” ucapnya.
Pada saat ini, penggunaan kompor LPG berkontribusi signifikan terhadap konsumsi energi rumah tangga. Sekitar 41,46% dari total konsumsi energi rumah tangga berasal dari penggunaan LPG. Di sisi lain, Indonesia masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik, dengan sekitar 77,6% kebutuhan LPG nasional dipenuhi melalui impor.
“Program konversi kompor LPG ke kompor induksi akan menghemat devisa dan bahkan akan menghemat subsidi apabila kompor induksi yang paling efisien yang dipakai,” sebutnya.
Selain itu, Ia menambahkan, elektrifikasi transportasi melalui adopsi kendaraan listrik (EV) juga menjadi bagian penting dari upaya dekarbonisasi sekaligus mendukung industrialisasi Indonesia. Pada 2025, sekitar 23.660 kiloliter (KL), atau sekitar 65% konsumsi bensin nasional, masih harus dipenuhi melalui impor.
“Peningkatan adopsi EV dapat mengurangi ketergantungan tersebut, dengan setiap tambahan 1 juta EV diperkirakan dapat menghemat sekitar 1.250 KL konsumsi bensin
per tahun.
(rob/rob)



















