
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan sesi I hari ini, Selasa (13/10/2026), melanjutkan tekanan jual yang sudah membayangi pasar sejak hari sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga penutupan sesi I, IHSG berada di level 5.911,46, turun 24,68 poin atau 0,42% dari penutupan sebelumnya. Indeks sempat dibuka melemah di level 5.914,98 dan sempat anjlok ke level terendah 5.828,68 atau longsor lebih dari 1,7% sekitar pukul 09.30 WIB, sebelum berhasil menyempitkan pelemahan menjelang siang dan menyentuh level tertinggi 5.927,13. Nilai transaksi sepanjang sesi I tercatat Rp5.608,26 miliar dengan volume 217,03 juta lot.
Pelemahan IHSG hari ini masih dibayangi eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan rudal dan drone kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang berlanjut pada Minggu (12/10/2026). Serangan tersebut dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang, sementara Bandara Internasional Riyadh masih ditutup. Iran menawarkan diri sebagai mediator, sementara Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan keterlibatan Washington dalam serangan balasan terhadap Houthi, meski operasi militer AS belum dimulai. Eskalasi ini turut mengerek harga minyak dunia, dengan Brent ditutup naik US$1,93 (1,8%) ke US$106,65 per barel, level tertinggi sejak 15 September – dan WTI naik US$1,89 (2%) ke US$93,74 per barel, sejalan dengan penguatan indeks dolar AS.
Selain sentimen geopolitik, pasar juga masih dibayangi isu terkait Indeks MSCI. Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati mengatakan kekhawatiran investor masih berkaitan dengan risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, serta penantian terhadap pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks yang diproyeksikan baru terealisasi pada semester II-2027. “Isu-isu di market masih berkaitan dengan MSCI,” kata Desy.
Di tengah tekanan tersebut, berdasarkan data Stockbit Sekuritas, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp62,53 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I hari ini.
Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp3,78 triliun, dengan rincian foreign buy sebesar Rp1,86 triliun dan foreign sell Rp1,92 triliun.
Aksi jual asing terbesar terjadi pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan nilai mencapai Rp91,03 miliar. Di posisi berikutnya terdapat PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang dilepas asing senilai Rp51,56 miliar, disusul PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp49,95 miliar.
Selain itu, investor asing juga melakukan aksi jual pada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar Rp45,81 miliar, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) Rp27,85 miliar, serta PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Rp17,05 miliar.
Tekanan jual juga terlihat pada PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) sebesar Rp10,57 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) Rp8,60 miliar, serta PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp7,64 miliar.
Di sisi lain, sejumlah saham sektor komoditas masih menjadi buruan investor global. PT Timah Tbk. (TINS) menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp26,05 miliar, disusul PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) senilai Rp24,00 miliar.
Selanjutnya, asing juga memborong PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) sebesar Rp20,22 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp17,96 miliar, serta PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (SINI) Rp15,39 miliar.
Berikut daftar net foreign buy dan net foreign sell investor asing pada perdagangan sesi I Selasa (13/10/2026).
Net Foreign Buy
PT Timah Tbk. (TINS) – Rp26,05 miliar
PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) – Rp24,00 miliar
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) – Rp20,22 miliar
PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) – Rp17,96 miliar
PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) – Rp15,39 miliar
PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL) – Rp13,55 miliar
PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) – Rp12,56 miliar
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR) – Rp12,22 miliar
PT Petrosea Tbk. (PTRO) – Rp11,44 miliar
PT Astra International Tbk. (ASII) – Rp11,23 miliar
Net Foreign Sell
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – Rp91,03 miliar
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – Rp51,56 miliar
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – Rp49,95 miliar
PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – Rp45,81 miliar
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) – Rp27,85 miliar
PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) – Rp17,05 miliar
PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) – Rp10,57 miliar
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) – Rp8,60 miliar
PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) – Rp7,64 miliar
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) – Rp7,27 miliar
(fsd/fsd)



















