• Latest
Rupiah Dibuka di Zona Merah, Dolar AS Menguat ke Rp17.900

Rupiah Dibuka di Zona Merah, Dolar AS Menguat ke Rp17.900

October 14, 2026
Pemegang Saham Pegendali VICI Lepas 402,48 Juta Saham

Pemegang Saham Pegendali VICI Lepas 402,48 Juta Saham

October 14, 2026
IHSG Melesat 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Melesat 1%, Ini Penyebabnya

October 14, 2026
Breaking! IHSG Melesat 1%

Breaking! IHSG Melesat 1%

October 14, 2026
BTPN Syariah (BTPS) Bakal Buyback Saham Rp1 Triliun

BTPN Syariah (BTPS) Bakal Buyback Saham Rp1 Triliun

October 14, 2026
Bidik Pasar RI, Investor Kakap UEA Masuk ke Majoris Asset Management

Bidik Pasar RI, Investor Kakap UEA Masuk ke Majoris Asset Management

October 14, 2026
Investor Berebut! Pemerintah Kantongi Rp35 T dari Lelang Surat Utang

Investor Berebut! Pemerintah Kantongi Rp35 T dari Lelang Surat Utang

October 14, 2026
Emiten RI Ini Garap Program Rumah Subsidi Prabowo

Emiten RI Ini Garap Program Rumah Subsidi Prabowo

October 14, 2026
Dony Oskaria Sentil BUMN, Pelayanan Publik Jadi Tolok Ukur

Dony Oskaria Sentil BUMN, Pelayanan Publik Jadi Tolok Ukur

October 14, 2026
Dony Oskaria Sentil BUMN, Pelayanan Publik Jadi Tolak Ukur

Dony Oskaria Sentil BUMN, Pelayanan Publik Jadi Tolak Ukur

October 14, 2026
IHSG Dibuka Menguat 0,25% ke Level 5.940

IHSG Dibuka Menguat 0,25% ke Level 5.940

October 14, 2026
IHSG Tinggalkan Level 6.000, Simak 5 Rekomendasi Saham Hari Ini

IHSG Tinggalkan Level 6.000, Simak 5 Rekomendasi Saham Hari Ini

October 14, 2026
Bursa Asia Dibuka Variatif, Investor Cermati Saham Chip dan Inflasi AS

Bursa Asia Dibuka Variatif, Investor Cermati Saham Chip dan Inflasi AS

October 14, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Wednesday, October 14, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Rupiah Dibuka di Zona Merah, Dolar AS Menguat ke Rp17.900

2 hours ago
in Lifestyle
Rupiah Dibuka di Zona Merah, Dolar AS Menguat ke Rp17.900
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Garuda kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu (14/10/2026), setelah gagal mempertahankan penguatan yang dicatatkan pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.900/US$ atau melemah 0,08% dibandingkan penutupan Selasa (13/10/2026) di Rp17.885/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke posisi 102,130.



Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini turut dibayangi sejumlah sentimen domestik dan global, mulai dari komitmen pemerintah menjaga kredibilitas fiskal hingga perkembangan inflasi China.

Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan pemerintah akan mempertahankan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), serta rasio utang pemerintah tidak melampaui 60% terhadap PDB.

Komitmen tersebut disampaikan dalam pertemuan bilateral dengan Presiden World Bank Group Ajay Banga di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).

“Satu-satunya mata uang yang kami miliki adalah kredibilitas. Karena itu, kami ingin menjaga kredibilitas kami dan menegaskan kembali komitmen terhadap defisit anggaran 3% serta rasio utang 60% terhadap PDB,” ujar Suahasil.

Penegasan tersebut menjadi perhatian pasar karena disiplin fiskal merupakan salah satu faktor yang memengaruhi persepsi risiko dan kepercayaan investor terhadap aset keuangan Indonesia, termasuk instrumen berdenominasi rupiah.

Sementara dari eksternal, pelaku pasar mencermati rilis data inflasi China yang meningkat pada September 2026, tetapi masih berada di bawah ekspektasi pasar.

Inflasi konsumen China secara tahunan tercatat sebesar 0,9%, meningkat dari 0,8% pada Agustus, tetapi lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 1%. Angka tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sejak Juni 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga di China mulai meningkat, meskipun kenaikannya belum merata. Perkembangan inflasi China turut menjadi perhatian pasar karena kondisi permintaan di negara tersebut dapat memengaruhi prospek perdagangan Indonesia, mengingat China merupakan salah satu mitra dagang utama Tanah Air.

(evw/evw)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Pemegang Saham Pegendali VICI Lepas 402,48 Juta Saham

Pemegang Saham Pegendali VICI Lepas 402,48 Juta Saham

October 14, 2026
IHSG Melesat 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Melesat 1%, Ini Penyebabnya

October 14, 2026
Breaking! IHSG Melesat 1%

Breaking! IHSG Melesat 1%

October 14, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .