
Jakarta, CNBC Indonesia – Tekanan jual di pasar saham Indonesia kembali berlanjut pada perdagangan Senin, (19/10/2026). Kondisi ini membuat mayoritas saham di lantai bursa anjlok dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terperosok hingga ke level di bawah 5.000.
Menariknya, berbagai saham unggulan termasuk saham perbankan kompak terjun bebas hingga mencapai level terendah pada perdagangan hari ini. Salah satunya saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI.
Saham dengan pencetak laba puluhan triliun itu juga ikut terperosok pada perdagangan sesi I pagi tadi dan sempat berada di Rp2.460 atau mencapai harga terendahnya dalam 5 tahun terakhir. Sementara hingga pukul 15:00 pelemahan saham BBRI mulai sedikit berkurang dan menyentuh harga Rp2.560.
Hal ini pun sontak menjadi tanda tanya besar, apakah saham perbankan sudah tidak menarik lagi di pasar, atau justru menjadi sinyal kuat untuk pelaku pasar bisa berburu saham bank unggulan dengan harga murah?
Mengutip data pasar, Price Book Value Ratio saham BRI saat ini berada di 1,25 kali. Hal ini mengindikasikan harga saham BBRI sudah undervalued atau relatif murah. Terlebih dividen yield BRI sangat menggiurkan yakni bisa mencapai di atas 7%.
Seperti diketahui, BBRI tercatat sukses membukukan laba periode berjalan sebesar Rp31,2 triliun, atau tumbuh 17,5% secara tahunan (yoy) sepanjang enam bulan pertama tahun ini.Hasil ini didukung oleh pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) dan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.
Di sisi lain, kualitas aset BRI juga menunjukkan perbaikan dengan Loan at Risk (LaR) industri turun menjadi 8,5%, sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 88,3% dan Return on Asset (ROA) terjaga pada level 2,5%.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Ajhi Gusta mengatakan koreksi saham perbankan, termasuk PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), mulai membuka peluang akumulasi bagi investor dengan orientasi jangka panjang.
“Secara valuasi, PBV BBRI yang sudah terkoreksi ke level relatif rendah dapat menjadi daya tarik, terutama apabila dibandingkan dengan rata-rata historisnya. Namun, investor tetap perlu mencermati kualitas aset, pertumbuhan kredit, tren biaya pencadangan atau cost of credit, serta kemampuan perseroan menjaga profitabilitas di tengah kondisi ekonomi yang menantang,” ujarnya kepada CNBC Indonesia.
Dari sisi dividen, ia menuturkan dividend yield BBRI berpotensi mencapai sekitar 10% dan tentu menarik bagi investor yang mengincar pendapatan pasif.
“Dengan demikian, BBRI dapat dipertimbangkan untuk akumulasi secara bertahap oleh investor jangka panjang, terutama ketika valuasinya sudah atraktif dan imbal hasil dividennya kompetitif,” terangnya.
Sebelum terjadi gonjang ganjing status pasar modal Indonesia oleh MSCI, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi juga sempat menuturkan bahwa BRI sebagai bank yang fokus terhadap UMKM memiliki economic moat atau keunggulan jangka panjang dalam menjaga pangsa pasar dan profitabilitas dari pesaingnya.
“Prospeknya solid. Pendorongnya ekspansi kredit segmen mikro dengan margin tinggi, rasio CASA yang kuat, dan perbaikan kualitas aset,” ujar Wafi.
Efek ini, lanjut Wafi sangat menguntungkan bagi Investor. Dengan begitu investor bisa terus menikmati cuan atau keuntungan dari kinerja BRI yang terus positif sepanjang tahun. Khususnya dari dividen.
Hal tersebutlah yang membuat saham BRI selalu diburu investor, baik institusi maupun ritel.
“Dividennya menarik karena yield yang relatif tinggi. Ini juga mencerminkan fundamental yang solid, profitabilitas tangguh, dan likuiditas kas melimpah. Dividennya tepat dan shareholder-friendly. Keputusan ini membuktikan confidence terhadap CAR yang tetap kokoh untuk menopang target ekspansi bisnis ke depan,” terangnya.
Hal tersebut juga diakui oleh Deputy President Director Samuel Sekuritas Indonesia, Suria Dharma. Ia mengatakan, dividend payout ratio BRI sangat besar dibandingkan dengan bank-bank Himbara lainnya. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri, sehingga saham BRI menjadi salah satu pilihan investor.
Tantangannya, ujar Suria, ke depan bagaimana BRI bisa fokus menekan Non-Performing Loan(NPL) atau kredit bermasalah. Dengan begitu potensi BRI meraih keuntungan bisa semakin besar.
“Tantangan ke depan memang bagaimana BRI menurunkan kembali NPL-nya dan pemilihan penyaluran kredit. Bisnis mikro yang dulu menjadi andalan, sekarang lebih fokus kepada pemulihan kualitas kredit,” ujar Suria.
Disclaimer: Segala bentuk analisis atau rekomendasi dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
(dpu/dpu)



















