
Jakarta, CNBC Indonesia – Insiden keamanan di bursa kripto terbesar di dunia, Binance, memicu kekhawatiran global. Terutama mengenai keamanan penyimpanan aset digital di platform perdagangan kripto.
Peretasan yang memengaruhi aset senilai US$6,3 miliar (Rp111,8 triliun) tersebut disebut sebagai “pencurian kripto terbesar dalam sejarah”. Perlu diketahui, Iinsiden ini terjadi pada Kamis lalu, di tengah meningkatnya ancaman serangan siber yang memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Mengutip CNBC International, sejumlah pakar keamanan siber memiliki pandangan berbeda mengenai apakah investor perlu khawatir menyimpan dana mereka di bursa kripto. Sebagian pakar menilai penyimpanan aset dalam jumlah besar di bursa kripto sangat berisiko.
Namun, ada pula yang menilai bursa memiliki kemampuan finansial dan infrastruktur keamanan yang lebih baik dibandingkan investor individu. Namun apakah benar?
Perlu diketahui, insiden tersebut juga terjadi bersamaan dengan gangguan keamanan di platform pasar prediksi Polymarket. Pada hari yang sama, Polymarket menghentikan sementara perdagangan di bursa internasionalnya setelah penyedia data pihak ketiga diretas. Insiden tersebut menyebabkan setidaknya US$2,7 juta (Rp47,9 miliar) terkuras dari dompet pengguna.
Sebenarnya, para pakar menilai insiden keamanan di industri kripto bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Mereka bahkan memperkirakan serangan siber serupa akan semakin sering terjadi dalam waktu dekat, terutama seiring perkembangan AI yang berpotensi membuka celah baru dalam sistem keamanan siber.
Profesor keamanan siber di University of Tulsa, Tyler Moore, yang telah mengikuti perkembangan industri kripto selama lebih dari satu dekade, memperingatkan investor agar berhati-hati menyimpan aset di bursa kripto. Ia menyoroti perbedaan mendasar antara sistem perbankan dan bursa kripto.
“Saya pikir ini sangat berbahaya. Anda harus sangat berhati-hati dalam menyimpan dana dalam jumlah signifikan di bursa. Tidak ada perlindungan bawaan ketika peretasan yang tak terhindarkan ini terjadi,” kata Moore.
Khusus di Amerika misalnya, menurutnya, nasabah perbankan di Amerika Serikat dapat mengandalkan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) yang menjamin simpanan hingga US$250.000 per deposan, per bank yang diasuransikan, apabila lembaga keuangan tersebut mengalami kegagalan. Namun, tidak ada perlindungan serupa bagi dana yang hilang akibat peretasan bursa kripto.
CEO perusahaan keamanan blockchain Blockaid, Ido Ben-Natan, menilai komitmen perusahaan menjadi alasan bagi pengguna untuk tetap percaya terhadap bursa kripto. Sebelumnya Di Binance dan Polymarket telah meyakinkan pengguna bahwa investor yang terdampak akan mendapatkan penggantian dana.
“Saya sebenarnya berpikir tidak akan ada pengguna yang kehilangan uang. Binance telah mengatakan bahwa mereka akan menanggung semuanya,” ujarnya.
Menurut Ben-Natan, menyimpan dana di bursa kripto bukanlah pilihan yang buruk selama perusahaan terus memperkuat sistem keamanannya. Ia juga menilai meningkatnya serangan siber akibat perkembangan AI pada akhirnya dapat membuat industri kripto menjadi lebih kuat karena perusahaan memiliki pengalaman lebih besar dalam menghadapi serangan.
“Dalam jangka panjang, dompet kripto bahkan berpotensi menjadi tempat penyimpanan dana yang lebih aman dibandingkan alternatif lainnya,” klaimnya.
Platform Kripto di Luar AS Lebih Rentan?
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah lokasi platform yang mengalami insiden keamanan. Binance mengalami insiden pada platform internasionalnya.
Sementara itu, bursa kripto terpusat Binance yang beroperasi secara teregulasi di AS tidak mengalami masalah serupa. Hal yang sama juga terjadi pada platform domestik Polymarket.
Bursa kripto Amerika Serikat seperti Coinbase dan Robinhood juga tidak terdampak langsung oleh insiden Binance. Meski demikian, saham kedua perusahaan tersebut mengalami penurunan pada perdagangan Jumat lalu.
Ketua Commodity Futures Trading Commission (CFTC), Michael Selig, mengatakan bahwa status platform luar AS menjadi aspek penting dalam memahami insiden tersebut. Ia mengatakan regulator ingin menyediakan jalur bagi bursa kripto untuk mendaftar secara resmi kepada CFTC sehingga mereka dapat tunduk pada standar perlindungan keamanan siber yang berlaku di pasar keuangan AS.
“Mereka tidak memiliki jenis perlindungan yang sama seperti yang kami miliki di pasar keuangan,” kata Selig.
Profesor sekaligus direktur Crypto and Society Lab di University of Pennsylvania, Brett Falk, menilai sebenarnya regulasi AS belum tentu dapat mencegah insiden seperti yang terjadi di Binance. Binance sebelumnya menyebut kemungkinan peretasan melibatkan laptop seorang insinyur DevOps yang telah dikompromikan.
“Sebagian besar regulasi tidak menyentuh tumpukan perangkat lunak spesifik yang harus digunakan untuk mengautentikasi pengguna,” kata Falk.
Dalam unggahan media sosial berikutnya, Binance mengatakan penyelidikan mereka menemukan titik-titik tambahan yang menjadi sumber pelanggaran keamanan. Namun, perusahaan tidak menjelaskan secara terperinci titik-titik tersebut.
AI Bikin Ancaman Peretasan Makin Besar
Di sisi lain, Falk sependapat dengan Ben-Natan bahwa investor kemungkinan tidak akan mengalami kerugian langsung akibat insiden tersebut. Menurutnya, menyimpan dana di bursa yang memiliki dukungan finansial perusahaan dapat lebih menguntungkan dibandingkan menyimpan aset dalam dompet yang sepenuhnya dikendalikan sendiri atau self-custody wallet.
Dalam skenario peretasan, investor yang menggunakan dompet mandiri tidak memiliki pihak lain yang dapat mengganti kerugian mereka. Ben-Natan juga menilai banyak serangan siber berhasil dihentikan oleh perusahaan keamanan sebelum berkembang menjadi insiden besar yang diketahui publik.
Meski demikian, para pakar menilai industri kripto memiliki daya tarik tersendiri bagi peretas. Hal ini karena aset kripto menawarkan akses terhadap likuiditas dalam jumlah besar yang dapat dipindahkan dengan cepat apabila peretasan berhasil dilakukan.
CEO perusahaan infrastruktur blockchain Global Settlement Network, Ryan Kirkley, memperingatkan investor agar berhati-hati menyimpan aset di dompet yang tidak memiliki perlindungan asuransi.
Menurutnya, perusahaan keuangan perlu meningkatkan infrastruktur keamanan mereka sebelum investor dapat merasa benar-benar aman.
“Saya tidak berpikir saat ini ada solusi umum di pasar yang benar-benar dapat menjamin keamanan aset Anda,” kata Kirkley.
“Jika Anda tidak berurusan dengan broker-dealer bereputasi baik yang menyediakan asuransi aset, Anda mempertaruhkan aset Anda dengan menempatkannya di ekosistem mana pun saat ini, hanya karena masih begitu banyak hal yang belum diketahui,” tambahnya.
(sef/sef)



















