
Jakarta, CNBC Indonesia – Korea Utara (Korut) dengan tegas menolak tuduhan Amerika Serikat (AS) yang mengaitkan Pyongyang dengan peretasan Binance senilai US$ 6,3 miliar (Rp 114 triliun). Media pemerintah melaporkan bahwa mereka mengecam keras tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai sebuah provokasi politik yang berat.
Mengutip CNBC International, Selasa (3/11/2026), saudara perempuan Pemimpin Kout, Kim Yo Jong, langsung bereaksi atas klaim tersebut. Ia mengecam laporan Biro Investigasi Federal (FBI) yang mengaitkan serangan siber tersebut dengan kelompok peretas yang terafiliasi dengan Korea Utara, TraderTraitor.
“FBI mencoba mencap DPRK (Republik Rakyat Demokratik Korea) sebagai ‘negara penjahat siber’,” kata Kim.
“Mengklaim bahwa mereka memperoleh informasi bahwa sebuah organisasi peretasan yang ‘didukung’ oleh DPRK terlibat dalam insiden tersebut,” paparnya.
Ia juga menuduh Washington sengaja menyesatkan opini publik internasional mengenai masalah peretasan global saat ini. AS dinilai seolah-olah menggambarkan bahwa kejahatan siber di seluruh dunia merupakan hasil kerja Korut.
Di sisi lain, Binance pada hari Selasa menyatakan akan mulai secara bertahap membuka kembali layanan penarikan untuk berbagai aset kripto tambahan di lebih banyak jaringan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemulihan layanan secara bertahap pascaperetasan minggu lalu.
Penolakan dari pihak Korut ini muncul bersamaan dengan upaya sejumlah firma analitik blockchain melacak asal muasal kerugian. Mereka terus memantau miliaran dolar mata uang kripto yang dicuri dari Binance melalui ribuan dompet kripto di berbagai jaringan.
Firma analitik terkemuka, Elliptic dan Chainalysis, membeberkan bahwa para peretas yang terkait dengan Korea Utara menggunakan taktik canggih. Taktik peretasan mutakhir itu diyakini melibatkan teknik yang semakin kompleks demi mengaburkan jejak pergerakan dana.
Dalam laporannya pada hari Senin, Elliptic menyebut peretas menggunakan sekitar 12.000 dompet di 11 jaringan dan melakukan lebih dari 40.000 transaksi. Hal ini terjadi dalam empat hari pertama setelah serangan yang diduga kuat dilakukan secara terotomasi, dengan penggunaan rata-rata satu dompet baru setiap 25 detik.
Menurut pelacakan Elliptic, sebagian besar aktivitas pencucian uang pada awalnya terjadi di jaringan Tron. Dana curian senilai lebih dari US$ 147 juta kemudian didistribusikan ke sekitar 7.700 alamat sebelum akhirnya dipindahkan ke Ethereum.
Para peretas juga terpantau memanfaatkan berbagai bursa terdesentralisasi yang tersedia guna menukar stablecoin curian ke mata uang kripto lain. Jenis kripto alternatif seperti Ether ini dipilih karena tak dapat dibekukan oleh penerbitnya.
Elliptic menyebutkan sekitar US$ 786 juta dalam bentuk stablecoin dikonversi sebelum perusahaan penerbit seperti Tether dan Circle membekukan sisa aset. Aktivitas pencucian tersebut telah menyebar ke jaringan lain, termasuk Solana.
Chainalysis mengatakan kelompok yang berafiliasi dengan Korut telah memulai fase pencucian baru pascainsiden Binance. Hal ini terjadi setelah mereka memindahkan lebih dari US$ 500 juta melalui deretan dompet perantara di jaringan Tron.
Elliptic juga mengidentifikasi jejak pertama pencampuran Bitcoin yang dirancang khusus untuk membuat transaksi lebih sulit dilacak. Sekitar 28 Bitcoin yang bernilai US$ 2,2 juta telah melewati 18 transaksi pencampuran pada awal Senin.
Meskipun pergerakan dana peretasan Binance sangat besar, nyatanya sekitar US$ 2,85 miliar atau 44% dari total kerugian US$ 6,43 miliar telah berhasil dibekukan atau disita. Sayangnya, sisa US$ 3,24 miliar masih berada di alamat yang terkait dengan pencurian.
Firma tersebut mengklaim hanya sejumlah kecil dana curian yang tampaknya telah diuangkan oleh sang peretas. Mayoritas sisa aktivitas justru melibatkan transfer atau konversi antar kripto ketimbang penukaran menjadi uang fiat yang dapat dibelanjakan.
Elliptic menilai proses pencucian uang kali ini bergerak lebih lambat dibandingkan pascaperetasan Bybit senilai US$ 1,5 miliar pada Februari 2025 lalu. Pada insiden itu, peretas asal Korea Utara sukses memindahkan semua Ether curian dalam waktu 10 hari saja.
Melihat insiden sebelumnya, dana yang tersisa dari peretasan Binance ini diperkirakan akan diubah secara bertahap ke dalam bentuk Bitcoin. Aset haram tersebut berpotensi diuangkan melalui broker dan bursa di luar bursa resmi (over-the-counter) dalam beberapa bulan ke depan.
Terkait peretasan ini, Binance menambahkan bahwa pihaknya telah berhasil menutupi sekitar 95% dari nilai kerugian yang dialami pelanggan. Sementara itu, sisa 5% lainnya terdiri dari berbagai token kurang likuid yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dicari gantinya.
Guna melacak seluruh sisa aset, Binance mengatakan sedang gencar bekerja sama dengan berbagai mitra di industri kripto tersebut.
(sef/sef)


















