• Latest
Saham JELI dan BACH Kompak Dibuang Investor, Ada Apa?

Saham JELI dan BACH Kompak Dibuang Investor, Ada Apa?

July 10, 2026
Pemerintah RI Terbitkan Rp615,9 T Surat Utang Ritel dalam 20 Tahun

Pemerintah RI Terbitkan Rp615,9 T Surat Utang Ritel dalam 20 Tahun

September 22, 2026
Jadi Saingan RI, Bursa Saham Vietnam Naik Kelas ke Emerging Market

Jadi Saingan RI, Bursa Saham Vietnam Naik Kelas ke Emerging Market

September 22, 2026
IHSG Parkir Anjlok 1,69% di Zona Merah, Ini Penyebabnya

IHSG Parkir Anjlok 1,69% di Zona Merah, Ini Penyebabnya

September 22, 2026
Bursa Vietnam Naik Kelas, FTSE Buka Keran Dana Asing Rp100 Triliun

Bursa Vietnam Naik Kelas, FTSE Buka Keran Dana Asing Rp100 Triliun

September 22, 2026
Siloam Mau Caplok 14 Perusahaan Pemilik Aset RS, Senilai Rp 6,9 T

Siloam Mau Caplok 14 Perusahaan Pemilik Aset RS, Senilai Rp 6,9 T

September 22, 2026
Menkeu Suahasil Lapor Prabowo, Utang BLBI Akhirnya Lunas Tuntas

Menkeu Suahasil Lapor Prabowo, Utang BLBI Akhirnya Lunas Tuntas

September 22, 2026
Utang BLBI Lunas, Menkeu Suahasil Tetap Kejar Para Obligor!

Utang BLBI Lunas, Menkeu Suahasil Tetap Kejar Para Obligor!

September 22, 2026
1.435 Balpres Ilegal Hampir Masuk RI, Ternyata dari Malaysia

1.435 Balpres Ilegal Hampir Masuk RI, Ternyata dari Malaysia

September 22, 2026
Rupiah Ditutup Melemah 0,14%, Dolar AS Naik ke Rp17.850

Rupiah Ditutup Melemah 0,14%, Dolar AS Naik ke Rp17.850

September 22, 2026
Akhirnya Lunas! Nilai Utang Obligasi BLBI Ternyata Rp218,3 Triliun

Akhirnya Lunas! Nilai Utang Obligasi BLBI Ternyata Rp218,3 Triliun

September 22, 2026
Dorong Pertumbuhan Nasabah Baru, Asuransi Gaet Segmen Mahasiswa

Dorong Pertumbuhan Nasabah Baru, Asuransi Gaet Segmen Mahasiswa

September 22, 2026
Viral! Rupiah dengan Tanda Tangan Purbaya, Ini Penjelasan Lengkap BI

Viral! Rupiah dengan Tanda Tangan Purbaya, Ini Penjelasan Lengkap BI

September 22, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Tuesday, September 22, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home People & Culture

Saham JELI dan BACH Kompak Dibuang Investor, Ada Apa?

2 months ago
in People & Culture
Saham JELI dan BACH Kompak Dibuang Investor, Ada Apa?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Euforia initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai senyap pada perdagangan Jumat (10/7/2026) seiring dengan dua penghuni gelombang IPO awal Juli, PT Niramas Utama Tbk (JELI) dan PT Bach Multi Global Tbk (BACH), kompak tertekan aksi jual.

Saham JELI, produsen makanan bermerek INACO, menjadi yang paling tertekan hari ini. Emiten ini anjlok 14,81% ke level Rp1.495 per saham dan menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). Sementara itu, saham BACH, emiten genset dan infrastruktur telekomunikasi afiliasi Grup Djarum, rontok nyaris 10% ke Rp500 per saham hari ini.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kinerja dua emiten baru lainnya, yakni PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) milik Raffi Ahmad melesat ke ARA di hari perdananya, dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) yang ikut memimpin top gainers.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri bergerak tenang di zona hijau hari ini.

Ada Apa dengan Saham JELI?

JELI resmi melantai pada 7 Juli 2026 dengan harga IPO Rp900 per saham, melepas 266 juta saham (21,01% modal) dan menghimpun Rp239,4 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Sucor Sekuritas.

Persoalan pertama ada pada valuasi yang terbang meninggalkan kinerja labanya. Sepanjang 2025, JELI hanya membukukan laba bersih sebesar Rp39,0 miliar. Angka ini memang melonjak 235,5% dibanding laba tahun sebelumnya yang cuma Rp11,6 miliar, tetapi lonjakan persentase sebesar itu berasal dari basis yang sangat kecil. Dengan laba semungil itu, harga IPO JELI saja sudah mencerminkan rasio harga terhadap laba (PER) di kisaran 31-39 kali – jauh di atas rata-rata emiten sejenis di sektor makanan dan minuman yang berada di rentang 12-18 kali. Di harga pasar saat ini, apalagi di puncaknya kemarin, valuasi itu menjadi kian sulit dijustifikasi oleh kinerja riil.

Yang membuat premium tersebut makin rawan adalah arah bisnis intinya. Alih-alih tumbuh, pendapatan JELI justru menyusut tiga tahun berturut-turut, dari Rp838,94 miliar pada 2023 menjadi Rp753,05 miliar pada 2025. Artinya, lonjakan laba yang jadi daya tarik utama emiten ini bukan berasal dari bertambahnya volume penjualan, melainkan dari efisiensi dan perbaikan marjin – sumber pertumbuhan yang punya batas dan tidak bisa diulang tanpa henti setiap tahun. Ketika ruang efisiensi habis, pertanyaannya kembali ke apakah penjualan bisa benar-benar tumbuh.

Sinyal paling menohok justru muncul dari arus kasnya. Berdasarkan prospektus, arus kas dari aktivitas operasi JELI ambruk sekitar 83% pada 2025. Penyebabnya adalah lonjakan piutang usaha dari Rp104,21 miliar menjadi Rp174,13 miliar akibat penjualan kredit menjelang akhir tahun. Kondisi ini menjadi red flag klasik soal kualitas laba: keuntungan yang tercatat di atas kertas belum tentu berubah menjadi kas yang benar-benar masuk ke kas perusahaan, sekaligus memunculkan risiko gagal bayar dari sisi distributor.

Rekam jejak dalam berbagi keuntungan pun belum teruji. Sejak berdiri pada 1990 atau lebih dari tiga dekade lalu, perseroan tercatat belum pernah sekalipun membagikan dividen kepada pemegang saham. Manajemen memang menjanjikan kebijakan dividen tunai hingga maksimal 30% dari laba bersih setelah IPO, tetapi komitmen tersebut masih sebatas rencana yang perlu dibuktikan pada tahun-tahun mendatang.

Di luar itu, JELI sendiri secara terbuka mencantumkan risiko volatilitas harga dan ketersediaan bahan baku sebagai salah satu risiko utama dalam prospektusnya – faktor yang relevan mengingat bisnisnya bertumpu pada komoditas berbasis kelapa dan serat alami.

Secara keseluruhan, kombinasi harga yang premium, mesin pertumbuhan yang justru menyusut, dan arus kas operasional yang seret menjadikan posisi hold jangka panjang di saham ini jauh lebih berisiko dibanding sekadar ikut berspekulasi di hari-hari awal listing. Bagi investor, membaca angka di balik hiruk-pikuk ARA menjadi keharusan sebelum memutuskan untuk masuk.

Ada Apa dengan BACH?

BACH melantai bursa pada 8 Juli 2026 dengan harga final Rp442 per saham (dari rentang bookbuilding Rp400-Rp500), melepas 615 juta saham setara 15,06% modal – free float yang termasuk tipis. Penjamin pelaksana emisi efeknya adalah PT Erdikha Elit Sekuritas bersama PT Pilarmas Investindo Sekuritas.

Pelemahan saham BACH hari ini bukan tanpa alasan, melainkan telah muncul sinyal yang perlu diwaspadai. Data ringkasan broker sejak listing menunjukkan satu broker tercatat sebagai net seller senilai sekitar Rp117,4 miliar di BACH yang merupakan angka terbesar di antara emiten IPO batch ini, dengan indikator mengarah ke fase Big Distribution. Jejak seperti ini kerap mendahului tekanan harga pada saham yang baru melantai.

Dari sisi fundamental, sorotan pertama datang dari sisi likuiditas. Berdasarkan prospektus, rasio kas (cash ratio) BACH pada 2025 tercatat hanya 0,02 kali atau sekitar 2%, anjlok dari 0,09 kali pada tahun sebelumnya. Angka setipis itu menunjukkan ruang gerak yang sangat sempit bagi perseroan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya, sebuah kondisi yang perlu terus dipantau terutama karena sebagian dana IPO justru dialokasikan untuk modal kerja pembelian genset.

Persoalan kedua menyangkut ketergantungan pada pihak terafiliasi. Sebagian besar klien di lini telekomunikasi BACH merupakan entitas yang berada dalam ekosistem Grup Djarum sendiri, seperti TOWR, Protelindo, dan SUPR. Struktur ini memang memberikan stabilitas pendapatan dalam jangka pendek, tetapi sekaligus membuat kinerja perseroan sangat bergantung pada keputusan bisnis internal grup ketimbang murni dinamika pasar.

Dari sisi operasional, BACH menghadapi risiko rantai pasok. Perseroan sangat bergantung pada prinsipal genset luar negeri seperti Himoinsa dan Guangdong Westinpower untuk komponen utamanya, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maupun gangguan pasokan global. Selain itu, peningkatan rasio utang mengikat perseroan pada negative covenants yang ketat dari perbankan, yang dapat membatasi ruang gerak aksi korporasi tanpa persetujuan kreditur.

Yang juga tak kalah penting adalah overhang pada struktur kepemilikan. Prospektus mengungkap adanya perjanjian opsi antara pemegang saham, di mana PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) selaku entitas Djarum akan mengeksekusi hak opsi pembelian saham sehingga kepemilikannya di BACH naik menjadi 51% dan itu dijadwalkan terjadi tak lebih dari lima hari kerja setelah pencatatan saham di bursa. Perubahan struktur pengendalian secepat itu menjadi variabel yang perlu dicermati investor jangka menengah.

Terakhir, dengan porsi saham publik atau free float yang hanya 15,06%, jumlah saham yang beredar di pasar relatif terbatas. Kondisi ini membuat harga BACH lebih mudah bergerak liar oleh volume perdagangan yang tidak terlalu besar, memperbesar volatilitas di pasar.

(fsd/fsd)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Pemerintah RI Terbitkan Rp615,9 T Surat Utang Ritel dalam 20 Tahun

Pemerintah RI Terbitkan Rp615,9 T Surat Utang Ritel dalam 20 Tahun

September 22, 2026
Jadi Saingan RI, Bursa Saham Vietnam Naik Kelas ke Emerging Market

Jadi Saingan RI, Bursa Saham Vietnam Naik Kelas ke Emerging Market

September 22, 2026
IHSG Parkir Anjlok 1,69% di Zona Merah, Ini Penyebabnya

IHSG Parkir Anjlok 1,69% di Zona Merah, Ini Penyebabnya

September 22, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .