Jakarta,CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/7/2026).
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.02 WIB rupiah harus terdepresiasi sebesar 0,25% ke posisi Rp18.100/US$. Pelemahan ini membuat mata uang Garuda kembali menyentuh level psikologisnya.
Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (28/7/2026), rupiah ditutup melemah 0,31% ke level Rp18.055/US$. Mata uang Garuda bahkan sempat menyentuh posisi terlemah hariannya di Rp18.095/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 101,405. Pelemahan tersebut melanjutkan koreksi sebesar 0,12% pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah, penantian terhadap keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia (BI).
Meski cenderung melemah, Greenback tetap mendapat dukungan dari permintaan terhadap aset aman setelah ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat.
Meski demikian, pergerakan mata uang global cenderung terbatas pada awal perdagangan Asia. Pelaku pasar memilih menahan diri menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu waktu AS atau Kamis dini hari WIB.
Pasar saat ini memperhitungkan peluang sebesar 33% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Keputusan serta pernyataan The Fed akan menjadi perhatian karena dapat menentukan arah dolar AS dan mata uang global berikutnya.
Meski demikian, BI kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global dan transisi kepemimpinan bank sentral.
Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan stabilitas menjadi prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi,” papar Erwin.
Menurut Erwin, upaya menjaga rupiah tidak hanya dilakukan melalui suku bunga kebijakan. BI juga terus mempertajam penggunaan instrumen moneter lainnya.
“Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valas (spot, NDF, dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing,” ujarnya.
BI juga terus menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan. Penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) akan disesuaikan dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas sekaligus diarahkan untuk mendukung masuknya aliran modal asing.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google



















