
Jakarta, CNBC Indonesia — Rupiah Garuda semakin menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Merujuk data Refinitiv, pada Rabu (5/8/2026) pukul 11.15 WIB, rupiah menguat 0,61% ke posisi Rp17.905/US$.
Penguatan tersebut semakin tajam dibandingkan pembukaan perdagangan pagi tadi. Pada awal perdagangan, rupiah tercatat terapresiasi 0,32% ke posisi Rp17.957/US$.
BPS melaporkan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29% secara tahunan atau year on year/yoy. Secara kuartalan atau quarter to quarter/qtq, ekonomi tumbuh 3,73% dibandingkan kuartal I-2026.
Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp6.552,1 triliun. Sementara PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.
Realisasi pertumbuhan ekonomi ini berada di atas konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga dan institusi. Sebelumnya, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,12% secara tahunan dan 3,56% secara kuartalan.
Capaian tersebut menjadi sentimen positif bagi rupiah karena menunjukkan ekonomi domestik masih mampu tumbuh solid di tengah tekanan eksternal. Pertumbuhan 5,29% juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal II-2025 yang sebesar 5,12%.
Meski demikian, secara tahunan, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 masih melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61%. Namun secara kuartalan, ekonomi berhasil tumbuh kuat setelah pada kuartal sebelumnya terkontraksi 0,77%.
(evw/evw)
















