• Latest
Emas Cetak Kenaikan Terbaik 7 Bulan, Investor Mulai Borong Lagi

Emas Cetak Kenaikan Terbaik 7 Bulan, Investor Mulai Borong Lagi

August 11, 2026
Buka 202 Toko Baru di 2026, MDIY Bawa Dampak Nyata ke Mitra Lokal

Buka 202 Toko Baru di 2026, MDIY Bawa Dampak Nyata ke Mitra Lokal

November 2, 2026
OJK Resmi Gabungkan 4 Bank, Begini Nasibnya Pasca Merger

OJK Resmi Gabungkan 4 Bank, Begini Nasibnya Pasca Merger

November 2, 2026
Bulan Oktober 2026 Brutal untuk IHSG

Bulan Oktober 2026 Brutal untuk IHSG

November 2, 2026
OJK Resmi Gabungkan 4 BPR, Begini Nasib Bank Hasil Merger

OJK Resmi Gabungkan 4 BPR, Begini Nasib Bank Hasil Merger

November 2, 2026
OJK Belum Pidanakan Kasus BREN, CUAN-DSSA, Ini Alasannya

OJK Belum Pidanakan Kasus BREN, CUAN-DSSA, Ini Alasannya

November 2, 2026
Rupiah Rp18.125 per Dolar AS

Rupiah Rp18.125 per Dolar AS

November 2, 2026
Breaking! IHSG Turun 1% Lebih, Ini Penyebabnya

Breaking! IHSG Turun 1% Lebih, Ini Penyebabnya

November 2, 2026
IHSG Dibuka Turun 0,35% ke 5.039

IHSG Dibuka Turun 0,35% ke 5.039

November 2, 2026
Bursa Kripto Terbesar Binance Kena Hack Rp111 T, Apakah Kripto Aman?

Bursa Kripto Terbesar Binance Kena Hack Rp111 T, Apakah Kripto Aman?

November 2, 2026
Investor Cermati Saham Teknologi, Bursa Asia Bergerak Melemah

Investor Cermati Saham Teknologi, Bursa Asia Bergerak Melemah

November 2, 2026
IHSG Anjlok 7% Sepekan, Simak 5 Saham Pilihan Hari Ini

IHSG Anjlok 7% Sepekan, Simak 5 Saham Pilihan Hari Ini

November 2, 2026
Gandeng China, MKNT Bidik Proyek Sampah Jadi Listrik Danantara

Gandeng China, MKNT Bidik Proyek Sampah Jadi Listrik Danantara

November 2, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Monday, November 2, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Market

Emas Cetak Kenaikan Terbaik 7 Bulan, Investor Mulai Borong Lagi

3 months ago
in Market
Emas Cetak Kenaikan Terbaik 7 Bulan, Investor Mulai Borong Lagi
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Harga emas mencatatkan kinerja mingguan terbaik dalam tujuh bulan terakhir. Logam mulia tersebut melonjak sekitar 7% dalam sepekan.

Hal ini didorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS), penurunan imbal hasil Treasury, serta data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan. Kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Januari.

Mengutip CNBC International, Selasa (11/8/2026), pergerakan emas kembali menarik perhatian investor karena sejumlah faktor makroekonomi mulai mendukung aset safe haven tersebut. Data ketenagakerjaan AS yang lebih lunak dari perkiraan menunjukkan adanya tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja.

Revisi data sebelumnya juga memperkuat ekspektasi bahwa tekanan terhadap pasar tenaga kerja mulai meningkat. Kondisi tersebut kemudian mendorong investor mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang lebih agresif.

Di sisi lain, penurunan imbal hasil Treasury dan pelemahan dolar AS membuat emas menjadi relatif lebih menarik. Emas tidak memberikan imbal hasil atau bunga, sehingga biaya peluang untuk memegang logam mulia tersebut menurun ketika yield obligasi turun.

Emas Kembali Jadi Aset Safe Haven

Selain faktor suku bunga dan dolar, kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter AS turut menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Penguatan juga terjadi di pasar logam mulia lainnya.

Harga perak, platinum, dan palladium ikut mengalami kenaikan. Sementara tembaga masih berada di dekat level tertingginya.

Analis Michael Khouw menilai momentum penguatan emas masih berpotensi berlanjut. Menurutnya, masih merujuk CNBC International, emas memang masih berada di bawah rata-rata pergerakan 150 hari.

Namun, sejumlah instrumen yang terkait dengan emas mulai menunjukkan sinyal penguatan. Salah satunya adalah saham perusahaan tambang emas Newmont Mining.

Perusahaan tersebut merupakan salah satu komponen terbesar dalam ETF pertambangan emas dan telah menembus level rata-rata pergerakan 150 hari. Pergerakan tersebut dinilai dapat menjadi sinyal bahwa instrumen lain seperti ETF VanEck Gold Miners (GDX) dan SPDR Gold Shares (GLD) berpotensi mengikuti.

China Tambah Cadangan Emas di Hong Kong

Permintaan emas dari China juga menjadi salah satu perhatian pasar. Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBOC) memperluas fasilitas penyimpanan emas di Hong Kong.

Langkah tersebut dilakukan seiring ambisi Hong Kong untuk memperkuat posisinya sebagai pusat perdagangan emas internasional. Peningkatan fasilitas penyimpanan tersebut juga menjadi bagian dari tren yang lebih luas, yakni kembalinya cadangan emas negara-negara berdaulat ke kawasan Asia dari London.

PBOC sendiri telah mencatatkan pembelian emas selama 21 bulan berturut-turut. Pada Juli 2026 saja, bank sentral China menambah sekitar 20 ton emas ke dalam cadangannya. Langkah tersebut menunjukkan bahwa permintaan dari bank sentral masih menjadi salah satu penopang penting pasar emas global.

Investor Mulai Membidik Kenaikan Lebih Lanjut

Dari sisi pasar opsi, struktur volatilitas emas juga menunjukkan peluang kenaikan yang lebih besar. Menurut Khouw, opsi beli atau call option di luar harga pasar memiliki volatilitas tersirat yang lebih tinggi dibandingkan opsi yang berada di sekitar harga pasar.

Kondisi tersebut membuat strategi call spread menjadi lebih menarik bagi investor yang ingin mengambil posisi atas potensi kenaikan harga emas. Salah satu contoh yang digunakan adalah strategi call spread pada ETF SPDR Gold Shares (GLD) dengan harga kesepakatan US$400 dan US$460 untuk November.

Strategi tersebut membutuhkan biaya sekitar US$16,15 per saham atau sekitar US$1.615 per kontrak, dengan potensi imbal hasil hampir tiga kali lipat apabila GLD kembali melonjak sekitar 15% dalam 100 hari berikutnya.

Dengan kombinasi pelemahan dolar, penurunan yield Treasury, ekspektasi kebijakan The Fed yang lebih longgar, serta pembelian emas oleh bank sentral, emas kembali mendapatkan dukungan kuat dari pasar. Namun, pergerakan harga selanjutnya tetap akan sangat bergantung pada data ekonomi AS dan arah kebijakan moneter The Fed.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Buka 202 Toko Baru di 2026, MDIY Bawa Dampak Nyata ke Mitra Lokal

Buka 202 Toko Baru di 2026, MDIY Bawa Dampak Nyata ke Mitra Lokal

November 2, 2026
OJK Resmi Gabungkan 4 Bank, Begini Nasibnya Pasca Merger

OJK Resmi Gabungkan 4 Bank, Begini Nasibnya Pasca Merger

November 2, 2026
Bulan Oktober 2026 Brutal untuk IHSG

Bulan Oktober 2026 Brutal untuk IHSG

November 2, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .