• Latest
Rupiah Rp18.125 per Dolar AS

Rupiah Rp18.125 per Dolar AS

November 2, 2026
Free Float Saham Sisa 9,33%, Bos BSI (BRIS) Buka Suara

Free Float Saham Sisa 9,33%, Bos BSI (BRIS) Buka Suara

November 2, 2026
Breaking! IHSG Balik Arah Naik 1%, Ini Penyebabnya

Breaking! IHSG Balik Arah Naik 1%, Ini Penyebabnya

November 2, 2026
Ini 10 Saham Paling Boncos sepanjang 2026, Ada DSSA dan BREN

Ini 10 Saham Paling Boncos sepanjang 2026, Ada DSSA dan BREN

November 2, 2026
Ada BREN, DSSA hingga BYAN, Ini Daftar Saham Terdepak Perhitungan IHSG

Ada BREN, DSSA hingga BYAN, Ini Daftar Saham Terdepak Perhitungan IHSG

November 2, 2026
Rugi Kimia Farma (KAEF) Susut 94,49%, Ini Penyebabnya

Rugi Kimia Farma (KAEF) Susut 94,49%, Ini Penyebabnya

November 2, 2026
Usai Dicaplok Haji Isam, Bayan (BYAN) Rombak Direksi-Komisaris

Usai Dicaplok Haji Isam, Bayan (BYAN) Rombak Direksi-Komisaris

November 2, 2026
Buka 202 Toko Baru di 2026, MDIY Bawa Dampak Nyata ke Mitra Lokal

Buka 202 Toko Baru di 2026, MDIY Bawa Dampak Nyata ke Mitra Lokal

November 2, 2026
OJK Resmi Gabungkan 4 Bank, Begini Nasibnya Pasca Merger

OJK Resmi Gabungkan 4 Bank, Begini Nasibnya Pasca Merger

November 2, 2026
Bulan Oktober 2026 Brutal untuk IHSG

Bulan Oktober 2026 Brutal untuk IHSG

November 2, 2026
OJK Resmi Gabungkan 4 BPR, Begini Nasib Bank Hasil Merger

OJK Resmi Gabungkan 4 BPR, Begini Nasib Bank Hasil Merger

November 2, 2026
OJK Belum Pidanakan Kasus BREN, CUAN-DSSA, Ini Alasannya

OJK Belum Pidanakan Kasus BREN, CUAN-DSSA, Ini Alasannya

November 2, 2026
Breaking! IHSG Turun 1% Lebih, Ini Penyebabnya

Breaking! IHSG Turun 1% Lebih, Ini Penyebabnya

November 2, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Monday, November 2, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Economy

Rupiah Rp18.125 per Dolar AS

2 hours ago
in Economy
Rupiah Rp18.125 per Dolar AS
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah melemah tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pertama November (2/11/2026), setelah menguat selama dua hari berturut-turut pada pekan sebelumnya.

Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.125/US$, melemah 0,03% dibandingkan penutupan Jumat (30/10/2026) di posisi Rp18.120/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,04% ke posisi 101,917.



Rupiah menghadapi pekan krusial pada awal November 2026. Sejumlah agenda ekonomi berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.

Aktivitas manufaktur Indonesia mengawali November dengan kabar positif. Berdasarkan data S&P Global yang dirilis hari ini, Senin (2/11/2026), Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai 54,0 pada Oktober 2026, tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

Penguatan tersebut didorong lonjakan pesanan baru yang tumbuh paling cepat sejak Oktober 2021. Pesanan ekspor bahkan meningkat dengan laju tertinggi sejak survei dimulai pada April 2011, sementara produksi mencatat pertumbuhan tercepat sejak Maret 2024.

“Ekspansi berlangsung solid dan menjadi yang terkuat sejak Maret 2024, didorong salah satu kenaikan pesanan baru terkuat dalam sejarah survei,” ujar ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti.

Meski demikian, ekspansi manufaktur masih dibayangi kenaikan biaya bahan baku dan lemahnya penyerapan tenaga kerja. Tekanan biaya juga mendorong produsen menaikkan harga jual lebih cepat pada Oktober.

Selain aktivitas manufaktur, perhatian pasar juga tertuju pada rilis inflasi Oktober oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dijadwalkan hari ini.

Berdasarkan konsensus 12 institusi yang dihimpun CNBC Indonesia, inflasi diperkirakan mencapai 0,24% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan 3,25% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dibandingkan September sebesar 0,30% mtm dan 3,28% yoy.

Meski diperkirakan melandai, kenaikan harga sejumlah bahan pangan, terutama beras dan minyak goreng, masih berpotensi menahan perlambatan inflasi. Data tersebut akan menjadi perhatian pasar untuk menilai perkembangan tekanan harga dan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

(evw/evw)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Free Float Saham Sisa 9,33%, Bos BSI (BRIS) Buka Suara

Free Float Saham Sisa 9,33%, Bos BSI (BRIS) Buka Suara

November 2, 2026
Breaking! IHSG Balik Arah Naik 1%, Ini Penyebabnya

Breaking! IHSG Balik Arah Naik 1%, Ini Penyebabnya

November 2, 2026
Ini 10 Saham Paling Boncos sepanjang 2026, Ada DSSA dan BREN

Ini 10 Saham Paling Boncos sepanjang 2026, Ada DSSA dan BREN

November 2, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .