
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan global masih menghadapi sejumlah tekanan seiring dengan belanjutnya ketegangan di Timur Tengah yang mengerek Harga minyak mentah dunia dan berimbas pada lonjakan inflasi hingga kenaikan suku bunga acuan bank sentral termasuk bank sentral AS, The Fed.
SEVP Head of Treasury Sales & Distribution Bank CIMB Niaga, Hernaman Tandianto menyebutkan tekanan yang mendorong The Fed Kembali mengerek level Fed Funds Rate (FFR) masih cukup besar guna menekan lonjakan inflasi. Pasar memproyeksi The Fed berpeluang Kembali menaikkan suku bunga pada FOMC Oktober dan Desember 2026 masing-masing 25 Bps, bahkan probabilitasnya sudah di atas 50%, sementara Bank Indonesia memiliki potensi menaikkan level BI Rate sebanyak 1x.
Jika suku bunga The Fed Kembali naik, maka tekanan dinilai tukar Rupiah akan semakin besar. Namun Langkah Bank Indonesia yang memberikan swap hedging facility discount sangat efektif untuk menarik bagi investor.
Seperti apa pelaku pasar melihat arah kebijakan bank sentral dan dampaknya ke pasar keuangan RI? Selengkapnya simak ulasan Andi Shalini dengan SEVP Head of Treasury Sales & Distribution Bank CIMB Niaga, Hernaman Tandianto dalam Power Lunch, CNBC (Jum’at, 25/09/2026)a


















