• Latest
Ex Mendag Lutfi Duga Ada Manuver Asing Tekan MSCI Downgrade Bursa RI

Ex Mendag Lutfi Duga Ada Manuver Asing Tekan MSCI Downgrade Bursa RI

October 20, 2026
Ramai-Ramai Borong Saham RI, Ada yang Nilainya Triliunan

Ramai-Ramai Borong Saham RI, Ada yang Nilainya Triliunan

October 20, 2026
Emiten Prajogo Pangestu (CUAN) Buka Suara Pasca Disanksi OJK

Emiten Prajogo Pangestu (CUAN) Buka Suara Pasca Disanksi OJK

October 20, 2026
Petinggi Emiten Ramai-Ramai Borong Saham, Ada yang Nilainya Triliunan

Petinggi Emiten Ramai-Ramai Borong Saham, Ada yang Nilainya Triliunan

October 20, 2026
Banyak Saham Diborong, Akhir Sesi I IHSG Menguat 4,16%

Banyak Saham Diborong, Akhir Sesi I IHSG Menguat 4,16%

October 20, 2026
Pangkas Impor LPG Pakai CNG, Pengusaha Gas Ungkap Tantangannya

Pangkas Impor LPG Pakai CNG, Pengusaha Gas Ungkap Tantangannya

October 20, 2026
Video: Harga Minyak Turun – Harga Batu Bara Rekor Tertinggi 3 Tahun

Video: Harga Minyak Turun – Harga Batu Bara Rekor Tertinggi 3 Tahun

October 20, 2026
Bos CNG & Jurus Ekspansi Distribusi Gas Alam-Masuk Pasar Ritel

Bos CNG & Jurus Ekspansi Distribusi Gas Alam-Masuk Pasar Ritel

October 20, 2026
Danantara Siap Borong Saham BUMN, IHSG Menguat 3%

Danantara Siap Borong Saham BUMN, IHSG Menguat 3%

October 20, 2026
IHSG Dibuka Melemah Lebih Dari 4% & Ambruk ke 4.900-an

IHSG Dibuka Melemah Lebih Dari 4% & Ambruk ke 4.900-an

October 20, 2026
Pengendali WIFI Lego Hampir Setengah Kepemilikan Sahamnya, Raup Rp4 T

Pengendali WIFI Lego Hampir Setengah Kepemilikan Sahamnya, Raup Rp4 T

October 20, 2026
IHSG Bangkit, Sufmi Dasco Pamer Pergerakan Saham BMRI Hingga BBRI

IHSG Bangkit, Sufmi Dasco Pamer Pergerakan Saham BMRI Hingga BBRI

October 20, 2026
IHSG Terpuruk, Paling Babak Belur di Dunia

IHSG Terpuruk, Paling Babak Belur di Dunia

October 20, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Tuesday, October 20, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Ex Mendag Lutfi Duga Ada Manuver Asing Tekan MSCI Downgrade Bursa RI

2 hours ago
in Lifestyle
Ex Mendag Lutfi Duga Ada Manuver Asing Tekan MSCI Downgrade Bursa RI
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan Menteri Perdagangan Lutfi menyoroti rencana lembaga indeks global MSCI yang membuka konsultasi terkait kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Dia menilai, perkembangan tersebut perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap pasar modal Indonesia.

Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan posisi Indonesia dalam klasifikasi pasar global, melainkan juga menyangkut kepentingan ekonomi dan penguasaan aset-aset strategis nasional. Sebab, Standalone Market kerap diasosiasikan dengan pasar yang memiliki keterbatasan akses bagi investor internasional, termasuk dalam konteks pembatasan pergerakan modal atau capital control.

Lutfi juga membongkar alasan di balik rencana perubahan klasifikasi tersebut. Luthfi menilai Indonesia tidak menerapkan kebijakan pengendalian modal seperti yang dia gambarkan. Ia menyinggung dugaan adanya tekanan dari institusi investasi asal Singapura, termasuk Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), terhadap MSCI.

Dia bahkan menyebut nama Rachel Goh dari GIC yang menurut pengakuannya diduga mendorong penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.

“Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan. Come on, Rachel, don’t you know walls in Jakarta do talk and scream?,” ujarnya melalui sosial media Instagram, Selasa (20/10/2026).

Namun, tudingan mengenai adanya tekanan tersebut belum disertai bukti independen yang dapat diverifikasi. Oleh karena itu, dugaan keterlibatan institusi investasi Singapura dalam proses penentuan klasifikasi MSCI perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada pihak-pihak terkait.

Lutfi juga menilai persoalan yang disoroti MSCI tidak terlepas dari kondisi internal pasar modal Indonesia, termasuk persoalan transparansi kepemilikan saham dan perilaku sejumlah emiten. Meski demikian, dia menduga terdapat kepentingan lain di balik dinamika yang sedang berlangsung.

“Alasannya dipakai karena ulah segelintir emiten konglomerat kita sendiri,” ucapnya.

Menurut Lutfi, keluarnya dana investor asing dari pasar saham Indonesia seharusnya tidak langsung ditafsirkan sebagai tanda bahwa fundamental pasar modal domestik telah memburuk. Dia berpendapat, apabila harga saham tidak mengalami penurunan signifikan setelah investor asing melepas kepemilikannya, investor yang sebelumnya keluar akan kesulitan kembali masuk pada harga yang lebih rendah.

“Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80% dari pasar Indonesia. Masalahnya, waktu mereka keluar, bursa kita tidak hancur. Karena harganya tidak turun, mereka tidak bisa masuk lagi buat beli murah,” ucapnya.

Dia kemudian mengemukakan dugaan bahwa ancaman perubahan klasifikasi pasar dapat memicu kepanikan investor dan menekan harga saham domestik. Dalam skenario yang dia sampaikan, kondisi tersebut berpotensi membuka peluang bagi investor bermodal besar untuk membeli kembali saham-saham unggulan Indonesia dengan harga lebih murah.

“Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke standalone market, bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok, lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon,” ungkapnya.

Meski demikian, klaim bahwa ancaman perubahan klasifikasi MSCI sengaja dimanfaatkan untuk menjatuhkan harga saham demi kepentingan pembelian kembali aset domestik belum memiliki bukti yang terverifikasi. Keputusan MSCI sendiri perlu dilihat berdasarkan metodologi indeks, hasil konsultasi dengan pelaku pasar, serta evaluasi terhadap aksesibilitas dan investabilitas pasar saham Indonesia.

Lutfi pun mengingatkan masyarakat agar tidak terpecah dalam menyikapi dinamika pasar modal tersebut. Dia menilai, kepentingan nasional perlu menjadi perhatian di tengah meningkatnya tekanan terhadap pasar saham domestik.

“Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik, kita jaga harga diri bangsa kita sendiri,” tutupnya.

(rob/rob)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Ramai-Ramai Borong Saham RI, Ada yang Nilainya Triliunan

Ramai-Ramai Borong Saham RI, Ada yang Nilainya Triliunan

October 20, 2026
Emiten Prajogo Pangestu (CUAN) Buka Suara Pasca Disanksi OJK

Emiten Prajogo Pangestu (CUAN) Buka Suara Pasca Disanksi OJK

October 20, 2026
Petinggi Emiten Ramai-Ramai Borong Saham, Ada yang Nilainya Triliunan

Petinggi Emiten Ramai-Ramai Borong Saham, Ada yang Nilainya Triliunan

October 20, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .