
Jakarta, CNBC Indonesia – Mata uang Garuda kembali mengawali perdagangan di zona merah pada Selasa (27/10/2026), melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.120/US$, melemah 0,06% atau 10 poin dibandingkan penutupan Senin (26/10/2026) di posisi Rp18.110/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat 0,10% ke posisi 102,065.
Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi sejumlah sentimen dari dalam negeri maupun global.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada peningkatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan nilai transaksi LCT sepanjang 2026 dapat mencapai US$55 miliar, melonjak sekitar 120% dibandingkan tahun sebelumnya.
“Perkiraan akhir tahun ini sekitar 55 miliar USD padahal tahun lalu itu baru sekitar 25 miliar USD. Mainly adalah dari China,” kata Destry dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Destry, peningkatan pemanfaatan LCT dapat membantu mengurangi kebutuhan dolar AS di dalam negeri sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
“Ini akan mengurangi penggunaan juga USD sehingga juga nilai tukar kita juga akan bisa lebih balance. Jadi pendekatan bilateral banyak kami lakukan,” ujarnya.
Sementara dari eksternal, harga minyak dunia terkoreksi pada perdagangan Senin (26/10/2026) di tengah harapan meredanya konflik Timur Tengah.
Harga minyak mentah Brent turun 0,8% menjadi US$115,81 per barel, sedangan WTI melemah 1,46% ke US$101,76 per barel.
Penurunan tersebut terjadi seiring berlangsungnya pertemuan antara Arab Saudi, Turki, Pakistan, dan Iran di Teheran untuk meredakan ketegangan kawasan. Meski demikian, serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta risiko gangguan pelayaran masih membayangi pasokan energi global.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak bersih, penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Namun, harga yang masih bertahan di level tinggi membuat risiko terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda.
(evw/evw)


















