
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 11,6% secara tahunan (year on year/YoY). Capaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah BNI untuk periode kuartal III.
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) BNI tumbuh 13,6% YoY menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan fee-based income meningkat 8,3% YoY menjadi Rp13,9 triliun. Lantas, BNI membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6% YoY menjadi Rp16,1 triliun.
Pada fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit sebesar 22,2% YoY menjadi Rp992,5 triliun. Kualitas kredit turut terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross membaik menjadi 1,9%.
Dana murah atau current account savings account (CASA) juga tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp733,7 triliun, dengan distribusi yang merata di semua segmen.
Hingga September 2026, giro BNI tumbuh 25,9% YoY, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro meningkat 120 bps menjadi 13,2%, sementara pangsa pasar tabungan naik 10 bps menjadi 9,2%, didukung pertumbuhan tabungan BNI sebesar 11,6% YoY.
Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.
“Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan,” ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
(rob/rob)


















