
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan sesi I pagi ini. Pada menit kedua setelah pembukaan, IHSG berada di level 5.191,55, turun 74,58 poin atau 1,42%.
IHSG dibuka di level 5.249,07, lebih rendah dari penutupan perdagangan sebelumnya. Indeks sempat menyentuh level tertinggi di 5.255,67 pada awal sesi, tetapi tidak mampu bertahan. Tekanan jual kemudian menyeret indeks turun hingga menyentuh titik terendah di 5.190,31.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 18,41 juta lot dengan nilai transaksi Rp779,84 miliar.
Mengutip data Refinitiv, pelemahan IHSG pada awal perdagangan hari ini dibebani oleh sektor infrastruktur yang anjlok 2,4%, disusul oleh sektor teknologi yang anjlok 1,3%, dan sektor energi yang turun 0,7%.
Adapun saham-saham pemberatIHSG antara lain, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT. Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT. Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA).
Sementara saham-saham penekankoeksi IHSG antara lain, PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN),PT. Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT. Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), dan PT. Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).
Pasar keuangan global dan Tanah Air hari ini kemungkinan akan wait and see menunggu keputusan suku bunga bank sentral AS The Fed. Dalam hitungan 18 jam ke depan, penantian dunia mengenai kebijakan The Fed akan terjawab.
Dari dalam negeri, sejumlah sentimen akan membayangi pergerakan pasar saham dan mata uang. Di antaranya aksi demo mahasiswa hingga jatuhnya minat lelang.
Berikut beberapa sentimen pasar hari ini:
1. Keputusan Suku Bunga The Fed Oktober 2026
Sentimen terbesar hari ini akan datang dari The Fed. The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.
Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September
Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya.
Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS.
Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik SBM.
2. Minat Lelang SBN Turun
Minat investor dalam lelang Surat Utang Negara (SUN) merosot tajam pada Selasa (27/10/2026). Total penawaran masuk hanya Rp31,09 triliun, anjlok 52,1% dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024.
Di tengah lesunya permintaan, yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan untuk SUN tenor sekitar 10 tahun justru melonjak ke 7,54%, tertinggi sejak November 2022. Angka ini naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 bps dibandingkan awal 2026.
Pemerintah hanya menyerap SUN sebesar Rp20,65 triliun, di bawah target indikatif Rp30 triliun. Kombinasi penawaran yang melemah dan yield yang meningkat mengindikasikan tekanan pembiayaan, sekaligus berpotensi membuat biaya utang baru pemerintah semakin mahal.
Jatuhnya minat SBN ini dikhawatirkan akan terus memicu outflow sehingga saham an rupiah melemah.
3. Laba Industri China Naik
Laba industri China naik 15,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi CNY 6,03 triliun dalam sembilan bulan pertama 2026. Angka ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 15,7% pada periode Januari-Agustus 2026.
Pertumbuhan laba masih ditopang oleh sektor manufaktur berteknologi tinggi, industri terkait kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta peralatan elektronik. Namun, permintaan domestik yang masih lesu terus membebani sejumlah industri.
Laba perusahaan milik negara meningkat 13,1% menjadi CNY 1,94 triliun. Sementara itu, perusahaan berbentuk perseroan saham gabungan mencatat kenaikan laba sebesar 20,8% menjadi CNY 4,67 triliun. Adapun laba perusahaan swasta tumbuh 8,7% menjadi CNY 1,51 triliun.
(rob/rob)



















