
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah hingga penutupan Sesi I perdagangan Rabu (7/10/2026). Hingga sekitar pukul 12.00 WIB, IHSG berada di level 6.158,78, turun 34,14 poin atau 0,55%.
IHSG dibuka menguat di level 6.210,42 dan sempat menyentuh titik tertinggi di 6.214,76 tidak lama setelah pembukaan. Namun, tekanan jual segera muncul sehingga indeks berbalik arah dan turun tajam ke kisaran 6.170-an.
Indeks sempat rebound ke area 6.200, tetapi kembali tertekan dan bergerak turun menjelang pukul 10.00 WIB. Memasuki sesi siang, IHSG bergerak sideways di rentang sempit sekitar 6.150 hingga 6.170, dengan level terendah sesi tercatat di 6.146,02.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mencapai 212,49 juta lot dengan nilai transaksi Rp4.772,24 miliar atau sekitar Rp4,77 triliun.
Sentimen pasar pada Rabu (7/10/2026) akan dipengaruhi perkembangan sektor eksternal dan arah kebijakan moneter global. Kemarin, pelebaran defisit perdagangan Amerika Serikat menjadi perhatian, sementara kenaikan proyeksi pertumbuhan Indonesia memberi kabar positif dari dalam negeri.
Hari ini, investor menantikan laporan cadangan devisa Indonesia untuk menilai ketahanan eksternal dan ruang stabilisasi rupiah.
Perhatian kemudian beralih ke risalah rapat The Fed yang terbit dini hari besok dan berpotensi memengaruhi dolar, obligasi, serta pasar saham.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dijadwalkan terbit dini hari besok pukul 01.00 WIB.
Dokumen ini akan menjelaskan pembahasan di balik keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023.
Investor akan mencari petunjuk mengenai persistensi inflasi dan seberapa besar dukungan pejabat terhadap pengetatan lanjutan. Proyeksi September menunjukkan 16 dari 18 pejabat melihat kemungkinan setidaknya satu kenaikan tambahan sebesar 25 basis poin tahun ini.
Nada yang lebih ketat berpotensi menopang dolar dan menekan aset berisiko. Sebaliknya, penekanan pada risiko perlambatan dapat meredakan kekhawatiran pasar. Risalah bukan keputusan suku bunga baru, tetapi dapat mengubah ekspektasi kebijakan berikutnya.
Sementara itu, bursa saham Asia bergerak variatif pada perdagangan Rabu, (7/10/2026). Pergerakan ini berbanding terbalik dengan Wall Street seiring dengan perkembangan imbal hasil obligasi Amerika Serikat.
Indeks Nikkei 225 Jepang cenderung datar, sementara Kospi Korea Selatan turun 0,57%. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 juga melemah 0,13%.
(rob/rob)



















