
Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang diberikan BI telah mengalirkan sekitar Rp118 triliun ke sektor perumahan.
Dari jumlah itu, Rp68-69 triliun masuk ke program perumahan Asta Cita, dengan dampak pembangunan lebih dari 115 ribu rumah.
Hal itu disampaikan Destry dalam paparannya di hadapan pelaku usaha, ketika menjelaskan bagaimana BI menyeimbangkan stabilitas dengan dorongan pertumbuhan ekonomi.
“Dari KLM yang sebelumnya, kan kita ada 5% KLM yang masuk ke sektor perumahan, itu sekitar Rp118 triliun. Dari Rp118 triliun, sekitar Rp68 sampai Rp69 triliun itu masuk ke sektor perumahan program Asta Cita,” ujar Destry.
“Dari dana sekitar itu, bisa terbangun sekitar 115 ribu lebih rumah,” lanjutnya.
Destry mengatakan BI sengaja menguji seberapa efektif kebijakan insentif tersebut. BI, katanya, duduk bersama Menteri Perumahan untuk membedah penyaluran KLM, yaitu insentif khusus bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor strategis seperti pertanian, industri, hilirisasi, dan perumahan.
“Kami ingin melihat seberapa jauh efektivitasnya di kebijakan kami,” kata Destry.
Hasil pembedahan itu, menurut dia, menunjukkan dampak yang nyata, tidak hanya pada jumlah rumah yang terbangun, tetapi juga penyerapan tenaga kerja. Destry mengasumsikan satu rumah menyerap sekitar tiga hingga empat tenaga kerja sebagai dampak langsung.
Selain itu, ada dampak tidak langsung dari ekosistem yang terbentuk di sekitar pembangunan rumah, mulai dari warung, industri genteng, hingga sopir truk dan kendaraan pengangkut.
Destry menyebut BI akan mengukur dampak kebijakannya bersama Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk melalui analisis keterkaitan ke belakang (backward linkage) dan ke depan (forward linkage).
“Nanti dengan BPS kita akan ukur dampak dari segala macam kebijakan ini,” ujarnya.
(haa/haa)


















