
Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Hingga pukul 12.30 WIB, rupiah tercatat di level Rp18.079/US$, lebih lemah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp18.045/US$.
Bank Indonesia (BI) menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik bagi investor.
Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Firman Mochtar menjelaskan, kenaikan imbal hasil obligasi AS, khususnya tenor 10 tahun, telah meningkatkan daya tarik investasi di Negeri Paman Sam. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat investor untuk menempatkan dananya di negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Dampaknya adalah DXY, indeks mata uang dolar terhadap negara maju sudah menguat. Kemarin sudah tercatat 101,” ujar Firman dalam taklimat media di Gedung BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) mencerminkan menguatnya dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Kondisi ini turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
“Kalau menguat tentunya mata uang negara berkembang akan menjadi lemah, termasuk Indonesia,” lanjutnya.
Selain faktor global, Firman mengatakan perkembangan di pasar keuangan domestik juga turut menekan rupiah. Salah satunya adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait rencana mendiskusikan kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Perkembangan tersebut dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan Indonesia dan mendorong tekanan arus modal.
“Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik. Yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jadi itu yang terjadi,” kata Firman.
Dengan demikian, pelemahan rupiah terjadi di tengah kombinasi tekanan eksternal berupa penguatan dolar AS dan faktor domestik yang berkaitan dengan sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
(haa/haa)


















