
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa Efek Indonesia (BEI) merevisi target pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) menjadi 15 perusahaan pada 2026, turun dari target sebelumnya sebanyak 50 perusahaan.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, meskipun tantangan pasar ke depan diperkirakan masih berlanjut, bursa tetap melihat potensi yang dapat dioptimalkan untuk mendorong perusahaan melantai di pasar modal.
“Kami melihat terlepas bahwa tantangan ke depan mungkin tidak berkurang, tetapi potensi yang bisa kita upayakan dengan kerja keras itu masih bisa kita lakukan,” ujar Jeffrey sat ditemui di gedung BEI Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Untuk prospek IPO pada 2027, Bursa menargetkan 25 perusahaan tercatat. Jeffrey berharap kondisi pasar modal dapat membaik sehingga mendukung perusahaan untuk melakukan pencatatan saham di bursa.
Namun, di luar kondisi pasar, BEI juga melihat potensi penambahan emiten dari aktivitas investasi di sektor industri dan restrukturisasi perusahaan di lingkungan Danantara.
Jeffrey menjelaskan, pemerintah saat ini aktif membangun kawasan industri dan mendorong perusahaan untuk berinvestasi di sektor manufaktur. Perkembangan tersebut dinilai dapat membuka peluang pembiayaan melalui pasar modal, termasuk dengan mendorong perusahaan yang membutuhkan pendanaan untuk melakukan IPO.
Selain itu, Jeffrey melihat potensi pencatatan saham dari perusahaan-perusahaan yang terbentuk melalui proses restrukturisasi di lingkungan Danantara. Menurutnya, sejumlah perusahaan hasil restrukturisasi tersebut berpeluang untuk dicatatkan di BEI.
Sebelumnya, BEI menargetkan sebanyak 50 perusahaan melakukan IPO pada 2026, dengan enam di antaranya diharapkan masuk kategori lighthouse IPO atau IPO perusahaan berkapitalisasi pasar besar. Dalam target tersebut, perusahaan lighthouse ditetapkan memiliki kapitalisasi pasar minimal Rp3 triliun dan porsi saham publik atau free float sebesar 15%, sehingga nilai saham publik yang ditawarkan minimal Rp700 miliar.
(rob/rob)


















