• Latest
KOSPI Korea Anjlok 10%, Gelembung AI-Teknologi Pecah?

KOSPI Korea Anjlok 10%, Gelembung AI-Teknologi Pecah?

June 23, 2026
Emiten Tak Sanggup Penuhi Free Float 15%? Bursa Siapkan Exit Policy

Emiten Tak Sanggup Penuhi Free Float 15%? Bursa Siapkan Exit Policy

October 8, 2026
Rayakan HUT ke-28, Bank Mandiri Tebar Dividen Interim Rp 6,16 T

Rayakan HUT ke-28, Bank Mandiri Tebar Dividen Interim Rp 6,16 T

October 8, 2026
Saham HSC Rawan Digoreng, OJK Awasi Ketat

Saham HSC Rawan Digoreng, OJK Awasi Ketat

October 8, 2026
Thomas Sugiarto Oentoro Jadi Dirut, Garuda Rombak Susunan Manajemen

Thomas Sugiarto Oentoro Jadi Dirut, Garuda Rombak Susunan Manajemen

October 8, 2026
Dampaknya ke Pasar RI Kini Terbatas

Dampaknya ke Pasar RI Kini Terbatas

October 8, 2026
Tiket MotoGP 90% Terjual, BP BUMN: Dorong Industri Wisata Mandalika

Tiket MotoGP 90% Terjual, BP BUMN: Dorong Industri Wisata Mandalika

October 8, 2026
Rawan Digoreng, OJK Pelototi Saham Terkonsentrasi Tinggi

Rawan Digoreng, OJK Pelototi Saham Terkonsentrasi Tinggi

October 8, 2026
Akhiri Perdagangan Hari Ini, IHSG Anjlok 1,88% ke Level 6.031

Akhiri Perdagangan Hari Ini, IHSG Anjlok 1,88% ke Level 6.031

October 8, 2026
OJK Sebut Status RI dari FTSE Jadi Bukti Kepercayaan Investor Global

OJK Sebut Status RI dari FTSE Jadi Bukti Kepercayaan Investor Global

October 8, 2026
Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.890

Rupiah Ditutup Melemah, Nilai Tukar Dolar AS Naik ke Rp17.890

October 8, 2026
BEI-KSEI Umumkan 99,95% Saham BSWD Dikuasai Segelintir Investor

BEI-KSEI Umumkan 99,95% Saham BSWD Dikuasai Segelintir Investor

October 8, 2026
4 Merger BUMN Karya November, Danantara Ungkap Nasib Waskita-Wika

4 Merger BUMN Karya November, Danantara Ungkap Nasib Waskita-Wika

October 8, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Thursday, October 8, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Market

KOSPI Korea Anjlok 10%, Gelembung AI-Teknologi Pecah?

4 months ago
in Market
KOSPI Korea Anjlok 10%, Gelembung AI-Teknologi Pecah?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Korea Selatan terkoreksi tajam pada perdagangan Senin (23/6/2026) setelah kekhawatiran terhadap kemampuan monetisasi kecerdasan buatan (AI) oleh perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat memicu aksi jual di pasar global. Indeks KOSPI yang sebelumnya mencatat reli kuat akhirnya kembali tertekan dan jatuh di bawah level psikologis 9.000 poin.

Berdasarkan data Korea Exchange (KRX), KOSPI dibuka di level 9.083,54 atau turun 31,01 poin (0,34%) dibandingkan penutupan sebelumnya di 9.114,55. Tekanan jual yang muncul sejak awal perdagangan membuat indeks semakin melemah hingga menyentuh 8.203 atau anjlok 10%.

Melansir Business Korea, pelemahan juga terjadi pada indeks KOSDAQ yang didominasi saham teknologi dan pertumbuhan, seiring merosotnya sentimen investor akibat kejatuhan indeks Nasdaq di Wall Street.

Arah pasar pada perdagangan hari ini ditentukan oleh aksi jual agresif investor asing dan institusi. Koreksi tajam saham-saham teknologi besar di Amerika Serikat mendorong pelaku pasar mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan merealisasikan keuntungan di pasar domestik.

Investor asing tercatat menjadi penekan utama pasar dengan nilai jual bersih mencapai 1,18 triliun won hingga 1,8 triliun won pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, investor institusi turut melepas saham senilai 65 miliar won hingga 205 miliar won sehingga mempercepat penurunan indeks.

Aktivitas perdagangan program juga menunjukkan dominasi aksi jual dengan nilai lebih dari 1,67 triliun won. Tekanan tersebut membuat pasar kesulitan mempertahankan level 9.000 poin yang selama ini menjadi area penopang psikologis.

Di tengah tekanan tersebut, investor ritel menjadi satu-satunya kelompok yang aktif melakukan pembelian. Investor individu membukukan pembelian bersih antara 1,24 triliun won hingga 1,97 triliun won dengan memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi saham.

Meski demikian, besarnya aksi beli investor ritel belum mampu mengimbangi gelombang jual dari investor asing dan institusi. Upaya menopang pasar tersebut hanya berhasil memperlambat laju penurunan indeks dalam perdagangan pagi.

Perhatian pasar juga tertuju pada dua raksasa semikonduktor Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK hynix. Keduanya menjadi sorotan setelah SK hynix untuk pertama kalinya dalam sekitar 25 tahun melampaui Samsung Electronics dalam kapitalisasi pasar saham biasa.

Saham Samsung Electronics dibuka melemah 0,57% ke level 351.500 won dan terus tertekan hingga turun 12,31% jelang penutupan perdagangan. Di sisi lain, SK hynix sempat menguat 0,31% berkat kenaikan indeks semikonduktor Philadelphia dan lonjakan saham Micron di Amerika Serikat, sebelum akhirnya berbalik anjlok 12,47% mengikuti pelemahan pasar secara keseluruhan.

Sebagian pelaku pasar mulai membandingkan fenomena naiknya SK hynix ke posisi teratas kapitalisasi pasar dengan peristiwa pada era gelembung dot-com tahun 2000 ketika Cisco sempat melampaui Microsoft sebelum pasar mengalami koreksi besar. Namun, sejumlah analis menilai kondisi saat ini berbeda karena reli sektor AI masih didukung pertumbuhan laba yang kuat.

Analis Kiwoom Securities Han Ji-young menilai fokus investor seharusnya tidak hanya tertuju pada pergantian posisi kapitalisasi pasar terbesar. Menurutnya, faktor yang lebih penting adalah apakah kenaikan harga saham didorong oleh valuasi yang berlebihan atau peningkatan fundamental laba perusahaan.

Di tengah pelemahan sektor semikonduktor, sejumlah saham yang diuntungkan program peningkatan nilai perusahaan dan saham baterai justru mencatat penguatan. LG Energy Solution naik 2,59%, Samsung Life Insurance melonjak 5,44%, Samsung C&T menguat 3,46%, dan HD Hyundai Heavy Industries bertambah 2,52%.

Sebaliknya, saham Hyundai Motor turun 0,86% akibat aksi ambil untung investor asing. Tekanan jual muncul setelah saham tersebut mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir sehingga memicu kekhawatiran terhadap valuasi.

Koreksi pasar Korea Selatan terjadi setelah pergerakan bursa Amerika Serikat yang beragam pada perdagangan sebelumnya. Indeks Dow Jones masih mampu menguat 0,29% ke 51.712,71, namun Nasdaq anjlok 1,33% ke 26.166,60 dan S&P 500 turun 0,37% ke 7.472,79.

Pelemahan Nasdaq dipicu kekhawatiran investor terhadap efektivitas belanja modal AI yang sangat besar di perusahaan teknologi raksasa. Alphabet tercatat merosot 4,99%, sementara SpaceX anjlok 16,43% setelah muncul kabar penerbitan obligasi korporasi dalam jumlah besar.

Dari pasar valuta asing, nilai tukar won Korea terhadap dolar AS juga mengalami tekanan. Kurs won dibuka melemah ke level 1.539,4 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 1.537 won dan terus bergerak di kisaran tinggi 1.530 won sepanjang sesi.

Penguatan dolar AS dipicu ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang ketat. Tingginya kurs dolar meningkatkan risiko kerugian nilai tukar bagi investor asing sehingga mendorong arus keluar dana dari pasar saham Korea Selatan.

Sementara itu, harga komoditas bergerak melemah setelah muncul perkembangan positif dalam negosiasi lanjutan pascakonflik antara Amerika Serikat dan Iran. Meredanya risiko geopolitik mengurangi permintaan aset aman sehingga harga minyak dan emas terkoreksi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli turun 2,32% menjadi US$74,82 per barel, level terendah sejak Maret lalu. Penurunan ini dipicu ekspektasi peningkatan pasokan minyak Iran ke pasar global.

Di pasar logam mulia, harga emas berjangka turun 1,10% menjadi US$4.199,10 per ons. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi faktor utama yang menekan harga emas.

Secara keseluruhan, pasar saham Korea Selatan saat ini menghadapi tekanan dari kombinasi kekhawatiran monetisasi AI di sektor teknologi Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan aksi jual investor asing. Meski demikian, sejumlah analis menilai koreksi ini masih merupakan fase konsolidasi setelah reli tajam dan belum mengindikasikan perubahan tren jangka panjang.

(fsd/fsd)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Emiten Tak Sanggup Penuhi Free Float 15%? Bursa Siapkan Exit Policy

Emiten Tak Sanggup Penuhi Free Float 15%? Bursa Siapkan Exit Policy

October 8, 2026
Rayakan HUT ke-28, Bank Mandiri Tebar Dividen Interim Rp 6,16 T

Rayakan HUT ke-28, Bank Mandiri Tebar Dividen Interim Rp 6,16 T

October 8, 2026
Saham HSC Rawan Digoreng, OJK Awasi Ketat

Saham HSC Rawan Digoreng, OJK Awasi Ketat

October 8, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .