
Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah kian tertekan hingga mendekati level Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam dua hari terakhir. Tekanan terhadap mata uang Garuda diperkirakan masih berlanjut, bahkan berisiko membawa rupiah ke kisaran Rp18.800-Rp18.900 per dolar AS jika gejolak global memburuk dan arus modal asing semakin tertekan.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai rupiah masih berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. Dalam dua hingga empat minggu ke depan, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp18.050-Rp18.350 per dolar AS.
Menurut Josua, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, termasuk peluang bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) kembali menaikkan suku bunga pada Desember.
Selain itu, konflik di Timur Tengah yang menjaga harga minyak di atas US$115 per barel, tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ketidakpastian terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi pergerakan rupiah.
“Hingga akhir 2026, saya memperkirakan rupiah berada pada kisaran Rp17.950-Rp18.450 per dolar AS, dengan kecenderungan masih bergerak di sekitar Rp18.000,” kata Josua kepada CNBC Indonesia.
Josua memperingatkan, tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga, konflik geopolitik memburuk, dan arus modal asing semakin tertekan.
Dalam skenario tersebut, rupiah berisiko melemah menuju kisaran Rp18.500-Rp18.800 per dolar AS. Sebaliknya, jika tekanan global mereda dan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia membaik, rupiah berpeluang menguat ke kisaran Rp17.700-Rp17.950 per dolar AS.
Di sisi lain, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menilai pelemahan rupiah mencerminkan semakin besarnya tekanan terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Menurut Rizal, penguatan dolar AS, ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed, dan meningkatnya risiko geopolitik menjadi faktor eksternal utama yang menekan rupiah.
Namun, tekanan tersebut juga diperburuk oleh sentimen negatif terkait MSCI, arus keluar modal asing, serta meningkatnya persepsi risiko investasi di Indonesia.
“Artinya, pelemahan rupiah tidak bisa terus-menerus dianggap sebagai dampak faktor global, tetapi juga harus menjadi evaluasi terhadap kredibilitas kebijakan dan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (29/10/2026).
Rizal menilai pelemahan rupiah berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat. Depresiasi nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor energi, pangan, dan bahan baku industri.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor membuat pelemahan rupiah berisiko menaikkan biaya produksi. Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang dan jasa pun berpotensi meningkat.
Kondisi ini dapat menambah tekanan inflasi, menggerus daya beli, dan menurunkan pendapatan riil masyarakat. Di sisi lain, kenaikan biaya usaha juga berisiko menghambat ekspansi bisnis dan penyerapan tenaga kerja.
“Dengan demikian, pelemahan rupiah bukan sekadar persoalan moneter, melainkan ancaman nyata terhadap kesejahteraan masyarakat,” kata Rizal.
Ke depan, Rizal menilai risiko pelemahan rupiah masih terbuka apabila arus keluar modal asing dan ketidakpastian global terus berlanjut.
Tekanan nilai tukar yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Karena itu, menurut Rizal, upaya stabilisasi rupiah tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia (BI).
Pemerintah juga perlu memperkuat kredibilitas fiskal, menjaga konsistensi kebijakan, memperbaiki tata kelola pasar keuangan, serta meningkatkan pasokan devisa.
“Tanpa pembenahan fundamental yang konkret, tekanan rupiah berisiko semakin membebani masyarakat sekaligus melemahkan prospek pertumbuhan ekonomi nasional,” tuturnya.
(haa/haa)

















