• Latest
Siaga Krisis? Obligasi Dunia Rontok, Yield AS-Jepang-Inggris Rekor

Siaga Krisis? Obligasi Dunia Rontok, Yield AS-Jepang-Inggris Rekor

September 3, 2026
Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

October 30, 2026
Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

October 30, 2026
Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

October 30, 2026
Warga RI Mulai Kredit Kendaraan Lagi, Laba Adira (ADMF) Naik 56%

Warga RI Mulai Kredit Kendaraan Lagi, Laba Adira (ADMF) Naik 56%

October 30, 2026
Pendapatan Bunga Bersih Naik, KB Bank Lanjutkan Transformasi Bisnis

Pendapatan Bunga Bersih Naik, KB Bank Lanjutkan Transformasi Bisnis

October 30, 2026
Pendapatan Melonjak 55,45%, Laba Bersih Emiten Bakrie (BNBR) Susut

Pendapatan Melonjak 55,45%, Laba Bersih Emiten Bakrie (BNBR) Susut

October 30, 2026
Yield SBN Tembus Rekor Tertinggi 7,7%, Ini Respons Menteri Keuangan

Yield SBN Tembus Rekor Tertinggi 7,7%, Ini Respons Menteri Keuangan

October 30, 2026
WIKA Cetak Penjualan Rp15,8 Triliun di Kuartal III-2026, Naik 11,9%

WIKA Cetak Penjualan Rp15,8 Triliun di Kuartal III-2026, Naik 11,9%

October 30, 2026
Laba Emiten Bus Listrik Bakrie (VKTR) Melonjak 47%, Ini Penopangnya

Laba Emiten Bus Listrik Bakrie (VKTR) Melonjak 47%, Ini Penopangnya

October 30, 2026
Maybank Indonesia Cetak Laba Rp1,43 T, Pendapatan Bunga Tumbuh 4,3%

Maybank Indonesia Cetak Laba Rp1,43 T, Pendapatan Bunga Tumbuh 4,3%

October 30, 2026
Minat Investasi Emas Fisik Vs Emas Digital Hadapi Gejolak Harga

Minat Investasi Emas Fisik Vs Emas Digital Hadapi Gejolak Harga

October 30, 2026
Top! Pendapatan MR.D.I.Y. Indonesia Tumbuh 24,5% di Kuartal III-2026

Top! Pendapatan MR.D.I.Y. Indonesia Tumbuh 24,5% di Kuartal III-2026

October 30, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Friday, October 30, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Siaga Krisis? Obligasi Dunia Rontok, Yield AS-Jepang-Inggris Rekor

2 months ago
in Lifestyle
Siaga Krisis? Obligasi Dunia Rontok, Yield AS-Jepang-Inggris Rekor
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar obligasi global kembali mengalami tekanan. Harga surat utang pemerintah di berbagai negara turun pada Rabu sementara imbal hasil (yield) melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun bahkan puluhan tahun.

Kenaikan yield menunjukkan investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang surat utang. Perlu diketahui, harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah, di mana ketika harga obligasi turun, yield biasanya naik.

Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun mencapai 3,378%, naik 4 basis poin. Angka ini merupakan level tertinggi sejak 2011.

Tekanan juga terjadi di Jepang. Yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun berada di sekitar 3,016%, setelah sehari sebelumnya menembus level 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade.

Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh 4,814%, level tertinggi sejak November 2023. Di Inggris, yield obligasi pemerintah atau gilts tenor 10 tahun bahkan mencapai 5,25%, menjadi level tertinggi sejak setelah krisis keuangan global 2008.

Apa yang Terjadi?

Inflasi dan Perang Timur Tengah Jadi Pemicu

Salah satu faktor utama yang membuat pasar obligasi tertekan adalah kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi. Konflik baru di Timur Tengah ikut menjadi perhatian investor karena berpotensi mendorong harga minyak dunia lebih tinggi.

Jika harga minyak naik, biaya energi dan transportasi dapat meningkat sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Kondisi tersebut menjadi masalah bagi pasar obligasi karena inflasi yang tinggi dapat membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkan bunga.

Pasar saat ini memperkirakan sejumlah bank sentral besar akan menaikkan suku bunga pada September. Ketua bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), Kevin Warsh sebelumnya juga memberikan sinyal hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole.

Di Jepang, Bank of Japan (BoJ), pun diperkirakan berpotensi menaikkan suku bunga untuk membantu menopang yen yang melemah. Sementara itu, pasar juga sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) setelah data inflasi zona euro dirilis pada Selasa.

Utang Negara Jadi Masalah Besar

Selain inflasi, investor juga semakin khawatir terhadap kondisi fiskal negara-negara besar. AS, Jepang hingga Prancis menghadapi beban utang pemerintah yang tinggi.

Ketika kebutuhan pembiayaan pemerintah meningkat, negara harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi untuk menarik investor membeli surat utangnya. Kondisi ini kemudian dapat meningkatkan biaya utang pemerintah.

Tekanan di pasar obligasi juga mulai merembet ke pasar saham. Indeks-indeks utama AS telah turun selama tiga sesi berturut-turut, sementara pasar saham Eropa dan Asia juga berada di zona merah.

Padahal, sepanjang tahun ini banyak pasar saham dunia telah mencatat kenaikan kuat dan bahkan mencapai rekor, didorong optimisme terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Chief Investment Officer dan Global Head of Equities Principal Asset Management, George Maris, mengatakan kondisi fundamental pasar kini mulai lebih rapuh.

“Jika biaya uang dan risiko meningkat, itulah yang terlihat dari kenaikan yield secara global,” ujar Maris kepada CNBC International dalam program Squawk Box Europe, dikutip Kamis (3/9/2026).

“Level utang di seluruh dunia berada pada tingkat yang sangat tinggi dan terus meningkat. Solusi untuk mengatasinya belum terlihat jelas,” katanya merujuk ke kekhawatiran.

Maris menilai situasi menjadi semakin rentan karena kenaikan utang terjadi ketika ekonomi global masih tumbuh cukup sehat. Artinya, jika terjadi guncangan besar terhadap perekonomian atau pasar keuangan, tingginya utang dapat membuat dampaknya menjadi lebih sulit untuk ditangani.

“Kita berada di tempat yang lebih rentan jika terjadi gangguan,” ujarnya.

(sef/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

BEI Kaget Proposal Downgrade MSCI, di Bangkok Tak Ada Pembahasan

October 16, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

Ekosistem Emas Jadi Masa Depan RI, Ungkap Peluangnya di Sini

October 30, 2026
Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

Mengukur Kinerja Perusahaan Asuransi, Siapa yang Terbaik?

October 30, 2026
Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

Laba MTEL Kuartal III Jadi Rp 1,55 T, Manajemen Ungkap Penyebabnya

October 30, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .