
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak stagnan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (6/8/2026), setelah menguat pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 12.00 WIB IHSG berada di level 6.351,22 atau tidak bergerak dari penutupan sebelumnya. Sepanjang sesi I, indeks bergerak di rentang terendah 6.324 hingga tertinggi 6.388. Nilai transaksi tercatat cukup ramai, yakni mencapai Rp10,36 triliun dengan volume perdagangan 34,72 miliar saham dalam 1,63 juta kali transaksi, di mana 274 saham menguat, 333 saham melemah, dan 184 saham stagnan.
Sektor utilitas, industri, dan konsumer primer menjadi penopang utama indeks, sementara sektor kesehatan, teknologi, properti, dan finansial tercatat terkoreksi. Dari dalam negeri, sentimen masih ditopang pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% serta laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai tingkat kemiskinan yang turun ke level terendah sejak 1999. Sementara dari eksternal, harapan meredanya konflik AS-Iran seiring kemajuan negosiasi pembukaan kembali Selat Hormuz turut menopang sentimen risiko.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, di tengah pergerakan indeks yang cenderung datar tersebut, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp339,05 miliar di seluruh pasar (all market) sepanjang sesi I hari ini.
Secara keseluruhan, nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp5,06 triliun, dengan rincian foreign buy sebesar Rp2,36 triliun dan foreign sell Rp2,70 triliun.
Aksi jual asing terbesar terjadi pada saham perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dengan nilai mencapai Rp86,58 miliar. Di posisi berikutnya terdapat PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang dilepas asing senilai Rp64,15 miliar, disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp62,19 miliar.
Selain itu, investor asing juga melakukan aksi jual pada PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar Rp60,57 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) Rp58,38 miliar, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) Rp54,03 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp44,65 miliar.
Tekanan jual juga terlihat pada PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) sebesar Rp42,11 miliar, PT DMS Propertindo Tbk. (KOTA) Rp34,56 miliar, dan PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) Rp27,86 miliar.
Di sisi lain, sejumlah saham masih menjadi incaran investor global. PT Petrosea Tbk. (PTRO) menjadi saham yang paling banyak dikoleksi asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp82,12 miliar.
Saham perbankan pelat merah juga diborong asing, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) senilai Rp72,70 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rp58,21 miliar, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp32,92 miliar. Selanjutnya terdapat PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) sebesar Rp24,16 miliar dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) Rp18,66 miliar.
Berikut daftar net foreign buy dan net foreign sell investor asing pada perdagangan sesi I Kamis (6/8/2026).
Net Foreign Buy
- PT Petrosea Tbk. (PTRO) – Rp82,12 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) – Rp72,70 miliar
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) – Rp58,21 miliar
- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) – Rp32,92 miliar
- PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) – Rp24,16 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) – Rp18,66 miliar
- PT Timah Tbk. (TINS) – Rp15,10 miliar
- PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) – Rp14,84 miliar
- PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) – Rp14,08
- miliar PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) – Rp14,06 miliar
Net Foreign Sell
- PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) – Rp86,58 miliar
- PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) – Rp64,15 miliar
- PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) – Rp62,19 miliar
- PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) – Rp60,57 miliar
- PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) – Rp58,38 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) – Rp54,03 miliar
- PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) – Rp44,65 miliar
- PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) – Rp42,11 miliar
- PT DMS Propertindo Tbk. (KOTA) – Rp34,56 miliar
- PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) – Rp27,86 miliar
(fsd/fsd)



















