• Latest
Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam

Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam

September 28, 2026
Trump Tolok Tawaran Damai Iran, Harga Minyak Terbang Lagi

Trump Tolok Tawaran Damai Iran, Harga Minyak Terbang Lagi

September 28, 2026
Komisi XI DPR Panggil BI Bahas Arah Kebijakan ke Depan, Bukan Evaluasi

Komisi XI DPR Panggil BI Bahas Arah Kebijakan ke Depan, Bukan Evaluasi

September 28, 2026
IHSG Masih Merah, Ini 5 Saham Rekomendasi Hari ini

IHSG Masih Merah, Ini 5 Saham Rekomendasi Hari ini

September 28, 2026
Bos Astra International (ASII) Borong 250 Ribu Saham di Harga Rp4.762

Bos Astra International (ASII) Borong 250 Ribu Saham di Harga Rp4.762

September 28, 2026
Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi Strong Dollar

Bos BI Beri Peringatan, Mata Uang Dunia Tengah Hadapi Strong Dollar

September 28, 2026
Batas Minimal Harag Saham Rp 1 Dimulai, IHSG Anjlok ke 6.100-an

Batas Minimal Harag Saham Rp 1 Dimulai, IHSG Anjlok ke 6.100-an

September 28, 2026
Laba BRI (BBRI) Tembus Rp34,77 Triliun per Agustus 2026

Laba BRI (BBRI) Tembus Rp34,77 Triliun per Agustus 2026

September 28, 2026
Emiten Energi Bakrie (ENRG) Rights Issue Jumbo, Cari Duit Rp4,1 T

Emiten Energi Bakrie (ENRG) Rights Issue Jumbo, Cari Duit Rp4,1 T

September 28, 2026
IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

September 28, 2026
Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD

Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Dekati Rp 18.000 per USD

September 28, 2026
BEI Hapus Minimun Harga Saham, IHSG Anjlok 1%

BEI Hapus Minimun Harga Saham, IHSG Anjlok 1%

September 28, 2026
BEI Hapus Minimun Harga Saham, IHSG Anjlok 1% Pertengahan Sesi I

BEI Hapus Minimun Harga Saham, IHSG Anjlok 1% Pertengahan Sesi I

September 28, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Monday, September 28, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home People & Culture

Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam

1 hour ago
in People & Culture
Beban Naik, Deretan Kinerja Emiten Plastik RI Ini Terancam
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten plastik hilir menghadapi tekanan berlapis di tengah kenaikan beban pokok penjualan dan utang jangka pendek. Relaksasi bea masuk impor bahan baku yang rencananya ditetapkan pemerintah sebesar 0% hingga kini belum terealisasi dan akan berdampak pada tingginya beban perusahaan tahun ini.

Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, sejumlah emiten yang bergerak di sektor industri plastik hilir mencatatkan Cost of Goods Sales (COGS) dan liabilitas jangka pendek terutama utang bank yang meningkat dibandingkan tahun lalu. Faktor tersebut dapat menggerus laba emiten dan kemampuannya membayar dividen untuk tahun buku 2026.

Sebagian emiten masih mencatat pertumbuhan laba pada pengungkapan laporan keuangan terakhirnya seperti PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID), PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) dan PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) yang semula rugi menjadi untung, namun PT Asiaplast Industries Tbk (APLI) dan PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) masing-masing mencatat penurunan laba.

Di sisi lain, seluruh emiten tersebut tercatat mengalami kenaikan COGS mulai dari 12% hingga 52% dan utang bank jangka pendek double digit.

Sekjen Asosiasi Industri Plastik Hilir Indonesia Henry Chevalier mengatakan, kenaikan COGS dalam laporan keuangan emiten mencerminkan masih tingginya biaya produksi meskipun harga bahan baku sudah mulai mereda pada September tahun ini.

“Kalau kenaikan COGS ini masih terus berlanjut maka dengan sendirinya dapat mengikis laba perusahaan, jadi kami masih menunggu realisasi PMK terkait bea masuk bahan baku 0% yang dapat membantu penurunan beban tersebut,” kata Henry dikutip, Senin (28/9/2026).

Menurut dia, ketidakpastian regulasi dapat mengancam usaha industri plastik hilir di tengah ketergantungan impor bahan baku. Namun pihaknya mengapresiasi pemerintah atas relaksasi bea masuk anti dumping yang telah diterapkan belum lama ini.

“Saya tidak tahu apakah karena sudah diberikan relaksasi bea masuk anti dumping maka yang 0% impor bahan baku itu hingga saat ini belum juga terealisasi, tapi paling tidak berikan kepastian untuk kami,” ujarnya.

Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan, kenaikan harga minyak dan gangguan pasokan naphtha, bahan baku utama industri petrokimia, dapat merambat hingga ke harga resin yang digunakan produsen kemasan plastik.

“Pelemahan daya beli membuat perusahaan akan mengalami kesulitan untuk meneruskan kenaikan beban tersebut kepada konsumen akhir,” kata Yosua.

Emiten plastik kemasan rata-rata mencatat kenaikan COGS lebih dari 14% begitupun dengan utang jangka pendek terutama kepada bank yang juga akan berpengaruh pada beban keuangan di era suku bunga tinggi pasca kenaikan Fed Funds Rate awal bulan ini sebesar 25 basis poin ke level 3,75-4%.

“Ini akan berpotensi menekan volume penjualan yang berpengaruh pada kinerja keuangan. Selain itu, suku bunga the Fed yang meningkat dapat memicu suku bunga bank Indonesia meningkat pula, sehingga beban bunga emiten juga meningkat,” katanya.

Di saat yang sama, terjadinya oversupply di China menimbulkan tantangan baru bagi emiten plastik dalam negeri di tengah ketidakpastian kondisi global. Produsen China jauh lebih efisien dan mampu menekan biaya sehingga industri plastik dalam negeri berisiko kalah saing jika biaya masih tinggi.
“Produsen kita berpotensi tidak bisa menjual dengan harga yang kompetitif, bisa kalah saing dari produk China,” ujarnya.

Menurut Yosua, kombinasi harga bahan baku, nilai tukar, dan biaya pendanaan membuat 2026 menjadi tahun yang menantang bagi industri plastik. Perusahaan dengan neraca lebih sehat dan kemampuan lebih besar untuk meneruskan kenaikan biaya bahan baku kepada pelanggan cenderung memiliki daya tahan lebih baik.

“Tahun ini bisa dilihat sebagai stress test bagi perusahaan plastik. Bukan hanya revenue growth yang perlu diperhatikan investor, tetapi apakah perusahaan mampu menjaga gross margin ketika resin naik dan pada saat yang sama mengendalikan leverage dan finance cost,” katanya

Yosua menambahkan, jika harga resin dan biaya logistik mulai normal pada 2027, emiten-emiten tersebut berpotensi mencatat margin recovery. “Perusahaan sudah melakukan repricing dan efisiensi pada 2026, sehingga ketika input cost turun, penurunan tersebut berpotensi langsung terlihat pada gross margin dan laba,” tutup Yosua.

(ayh/ayh)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Trump Tolok Tawaran Damai Iran, Harga Minyak Terbang Lagi

Trump Tolok Tawaran Damai Iran, Harga Minyak Terbang Lagi

September 28, 2026
Komisi XI DPR Panggil BI Bahas Arah Kebijakan ke Depan, Bukan Evaluasi

Komisi XI DPR Panggil BI Bahas Arah Kebijakan ke Depan, Bukan Evaluasi

September 28, 2026
IHSG Masih Merah, Ini 5 Saham Rekomendasi Hari ini

IHSG Masih Merah, Ini 5 Saham Rekomendasi Hari ini

September 28, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .