
Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) memastikan kondisi likuiditas di pasar uang domestik masih terjaga di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Berbagai langkah pelonggaran likuiditas yang ditempuh bank sentral mulai menunjukkan hasil, tercermin dari turunnya suku bunga pasar uang antarbank (IndONIA) hingga berkurangnya outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan secara makro kondisi likuiditas saat ini masih terkendali. Salah satu indikatornya terlihat dari pergerakan Indonesia Overnight Index Average (IndONIA) yang telah turun dari level puncaknya pada Juni lalu.
“Kalau kita lihat secara makro, likuiditas cukup terkendali. Suku bunga antarbank atau IndONIA yang pernah mencapai level tertinggi 6,61% pada Juni, kini turun menjadi 5,91%,” kata Destry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).
Menurut Destry, perbaikan kondisi likuiditas tidak terlepas dari kebijakan ekspansi likuiditas yang terus dilakukan BI. Selain itu, BI juga secara bertahap menurunkan imbal hasil SRBI sehingga mengurangi daya tarik instrumen tersebut dan memberi ruang likuiditas lebih besar ke sektor keuangan.
Ia menjelaskan, yield SRBI tenor 12 bulan kini berada di kisaran 6,7%, turun dibandingkan sebelumnya yang mencapai 7,7%. Sejalan dengan itu, outstanding SRBI juga mengalami penurunan dari Rp1.096 triliun menjadi Rp1.013 triliun.
“Dengan outstanding SRBI yang terus mengalami penurunan, ruang likuiditas di perekonomian menjadi semakin besar,” ujarnya.
BI juga memperkuat ekspansi likuiditas melalui instrumen swap dan repo. Sepanjang tahun ini, tambahan likuiditas yang disalurkan melalui kedua instrumen tersebut telah mencapai Rp387 triliun.
Di sisi lain, untuk meredam tekanan arus modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik, BI meluncurkan kebijakan insentif lindung nilai (hedging) melalui instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Destry mengatakan insentif yang diberikan berada pada kisaran 10%-30% dan diharapkan dapat meningkatkan minat investor asing untuk menempatkan modalnya di Indonesia.
“Kami mengeluarkan kebijakan baru dalam bentuk insentif hedging baik melalui swap maupun DNDF. Sampai saat ini pembentukan modal asing yang masuk sudah mencapai US$6 miliar,” kata Destry.
Selain itu, BI terus mengoptimalkan kebijakan likuiditas makroprudensial untuk mendukung penyaluran kredit perbankan. Hingga minggu pertama September 2026, nilai insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang telah disalurkan mencapai Rp461 triliun.
Bank sentral juga menerbitkan ketentuan baru untuk meningkatkan efektivitas penyaluran kredit. Dalam kebijakan tersebut, bank yang menempatkan lebih dari 19% dananya pada surat berharga seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan SRBI tidak akan memperoleh insentif likuiditas tambahan selain insentif pembiayaan sebesar 4%.
Sebaliknya, bank yang porsi kepemilikan surat berharganya di bawah 19% dan aktif menyalurkan kredit akan memperoleh tambahan insentif sebesar 2%.
“Dengan demikian mereka bisa memperoleh total insentif hingga 6% dari kebijakan KLM,” ujar Destry.
Ke depan, BI menegaskan akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui penguatan likuiditas dan penyaluran kredit perbankan.
(haa/haa)



















