
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia-Pasifik bergerak variatif pada perdagangan Rabu (9/9/2026), setelah harga minyak mentah melonjak akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kenaikan harga minyak tersebut kembali memicu kekhawatiran investor terhadap inflasi serta prospek suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,23%, sementara indeks Topix turun 0,35%. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,36% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 0,47%.
Indeks acuan Australia S&P/ASX 200 juga bergerak menguat tipis. Pergerakan bursa Asia berlangsung setelah pasar saham AS tertekan pada perdagangan Selasa, yang menjadi sesi pertama setelah libur panjang akhir pekan dalam rangka Labor Day.
Harga minyak mentah Brent sempat melonjak menembus US$99 per barel setelah penutupan perdagangan Selasa. Kenaikan tersebut terjadi menyusul laporan bahwa Iran melancarkan serangan kedua terhadap kapal-kapal Angkatan Laut AS pada pekan ini yang sebelumnya belum terungkap.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turut bergerak naik dan sempat menembus US$94 per barel dalam perdagangan setelah jam bursa. Lonjakan harga minyak terjadi setelah harga komoditas tersebut sebelumnya telah menguat pada perdagangan reguler Selasa.
Kenaikan harga minyak memberikan tekanan terhadap tiga indeks utama Wall Street pada perdagangan Selasa. Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 1,2%, mencatatkan penurunan harian terburuk dalam hampir tiga pekan.
Indeks S&P 500 turut terkoreksi 0,6%, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,3%. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap risiko geopolitik dan dampaknya terhadap inflasi.
Selain pasar saham, kenaikan harga minyak juga mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS lebih tinggi. Yield Treasury AS tenor 10 tahun sempat menembus level 4,8% pada Selasa karena investor mencermati potensi tekanan inflasi dari kenaikan harga energi.
Pergerakan yield tersebut turut membebani pasar saham AS pada sesi perdagangan Selasa. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Chief Investment Officer Kestra Investment Management Kara Murphy menyebut kondisi pasar saat ini sebagai semacam hambatan sementara. Dalam wawancara dengan CNBC dalam program “Closing Bell”, Murphy mengatakan perhatian pasar mulai bergeser dari laporan keuangan perusahaan menuju risiko yang dihadapi pasar.
“Ini sedikit seperti speed bump,” kata Murphy. Ia menilai fokus investor kini mulai beralih karena katalis dari sisi laporan keuangan perusahaan semakin berkurang.
Pada perdagangan Rabu, tidak terdapat rilis data ekonomi utama maupun laporan kinerja perusahaan besar yang dijadwalkan menjadi perhatian pasar. Investor selanjutnya akan mencermati sejumlah data inflasi yang akan dirilis pada akhir pekan untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
(fsd/fsd)


















