
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Morgan Stanley and Co International PLC kembali mengurangi kepemilikannya di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Dalam satu hari, raksasa keuangan asal Amerika Serikat (AS) itu menjual dan membeli saham GOTO sekaligus, dengan harga jual lebih tinggi dari harga beli.
Laporan kepemilikan saham yang disampaikan melalui Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Kamis (15/10/2026) mencatat dua transaksi pada Senin (12/10/2026):
- Penjualan 1.749.199.000 saham biasa GOTO di harga Rp29 per saham, senilai Rp50,73 miliar.
- Pembelian 151.774.300 saham di harga Rp27 per saham, senilai Rp4,10 miliar.
Kedua transaksi berstatus kepemilikan langsung dengan tujuan investasi.
Hasilnya, Morgan Stanley mencatat penjualan bersih (net sell) 1.597.424.700 saham GOTO. Kas bersih yang diterima dari kedua transaksi mencapai Rp46,63 miliar.
Kepemilikan Morgan Stanley turun dari 70.267.481.384 saham menjadi 68.670.056.684 saham. Porsi hak suaranya menyusut dari 6,103% menjadi 5,9642%, atau berkurang 0,1388 poin persentase.
Dalam laporan tersebut, kelompok yang terorganisasi terdiri dari Morgan Stanley and Co International PLC dan Morgan Stanley and Co. LLC-Client Account.
Selisih Harga Rp2 per Saham
Harga jual Rp29 lebih tinggi Rp2 dari harga beli Rp27 pada hari yang sama. Selisih itu setara 7,41%.
Jika dihitung pada volume yang saling berpasangan (matched), yakni 151,77 juta saham yang dibeli, selisih harga jual dan beli menghasilkan sekitar Rp303,55 juta.
Sisa saham yang dijual, yakni sekitar 1,6 miliar saham, berasal dari kepemilikan sebelumnya. Keuntungan dari porsi ini bergantung pada harga perolehan awal, yang tidak diungkapkan dalam laporan.
Sebagai gambaran, Morgan Stanley pernah memborong saham GOTO di harga Rp23 pada Agustus dan Rp25 pada awal September. Dibandingkan harga jual Rp29, selisihnya masing-masing 26,09% dan 16%. Bila seluruh 1,75 miliar saham yang dilepas berasal dari pembelian di harga tersebut, potensi selisihnya berkisar Rp7 miliar hingga Rp10,5 miliar.
Namun, perhitungan ini bersifat ilustratif. Sebagian transaksi Morgan Stanley tercatat atas nama rekening nasabah (client account), dan harga perolehan per lot tidak dipublikasikan.
Rangkaian Transaksi Morgan Stanley
Transaksi ini menambah panjang deretan aksi jual-beli Morgan Stanley di saham GOTO dalam dua bulan terakhir.
Sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia sebelumnya, Morgan Stanley memborong 3,8 miliar saham GOTO di harga Rp23 pada 21 Agustus 2026, senilai Rp87,3 miliar. Pada 2 September 2026, perusahaan kembali menyerok sekitar 21,92 miliar saham di harga Rp25, senilai Rp547,98 miliar. Pembelian itu mendongkrak kepemilikannya dari 5,72% menjadi 7,6%.
Dua hari kemudian, Morgan Stanley melepas sekitar 7,4 miliar saham di harga rata-rata Rp25,39 senilai sekitar Rp187 miliar. Pada 18 September 2026, perusahaan membeli 400 juta saham di harga Rp27, lalu menjualnya kembali sebanyak 450 juta saham di harga yang sama pada 23 September 2026.
Per 23 September, kepemilikan Morgan Stanley tercatat 80,41 miliar saham atau 6,98%. Dengan posisi sebelum transaksi 12 Oktober sebesar 70,27 miliar saham, kepemilikannya sudah menyusut sekitar 10,15 miliar saham dalam rentang tersebut.
Gembok Gocap Dibuka, Saham GOTO Bergejolak
Aksi Morgan Stanley terjadi di tengah gejolak saham GOTO. Sejak Mei 2026, saham GOTO tertahan di harga minimum Rp50 atau “gocap”. Mulai 28 September 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) menurunkan batas harga minimum di pasar reguler dan tunai menjadi Rp1.
Setelah batas harga itu dibuka, saham GOTO langsung tertekan. Saham ini sempat menyentuh auto reject bawah (ARB) dua hari berturut-turut ke Rp37, lalu terus turun hingga Rp27 pada sesi I perdagangan 2 Oktober 2026, sebelum memantul ke Rp30.
Pada hari yang sama, investor asing mencatatkan jual bersih saham GOTO senilai Rp927,64 miliar, terbesar di antara saham lain di bursa.
Manajemen GOTO menilai gejolak harga saham dipicu faktor teknis, bukan kinerja bisnis. Saham GOTO telah dikeluarkan dari indeks FTSE GEIS Mid Cap sejak 22 Juni 2026 dan dari MSCI Global Standard Indexes sejak 31 Agustus 2026.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan GOTO, R.A. Koesoemohadiani, menjelaskan dalam surat ke BEI bahwa dana pasif yang mengacu pada indeks tersebut harus menjual saham GOTO. Namun, rendahnya volume perdagangan membuat penjualan itu tidak dapat dilakukan di pasar reguler. Setelah batas harga minimum dihapus, pemegang saham yang tertahan akhirnya bisa menjual.
“Perseroan meyakini harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental bisnis yang terus menguat,” tulis manajemen.
Dari sisi kinerja, GOTO membukukan laba bersih dua kuartal berturut-turut. Pada kuartal II-2026, laba bersih GOTO mencapai Rp252 miliar, naik sekitar 47% dari Rp171 miliar pada kuartal sebelumnya. Pendapatan bersih tumbuh 31% secara tahunan menjadi Rp5,7 triliun.
Batalkan 32 Miliar Saham Treasuri
Sehari setelah transaksi Morgan Stanley dilaporkan efektif, GOTO menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (14/10/2026). Pemegang saham menyetujui seluruh agenda rapat.
Salah satu keputusan RUPSLB adalah pembatalan 32,19 miliar saham treasuri seri A hasil pembelian kembali (buyback) periode 12 Juni 2024-11 Juni 2025. Saham ini semula dialokasikan untuk program kepemilikan saham karyawan dan manajemen (ESOP/MSOP), yang kemudian dibatalkan perseroan.
Presiden Komisaris GOTO, Agus Martowardojo, menyebut pembatalan tersebut akan “meningkatkan porsi kepemilikan mereka secara proporsional”.
RUPSLB juga menyetujui pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo dari jabatan Wakil Direktur Utama.
Selain itu, GOTO masih mengantongi restu buyback hingga Rp3,5 triliun yang berlaku sejak 19 Juni 2026 hingga 18 Juni 2027.
(fsd/fsd)



















