
Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah emiten perkebunan merespons permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi perhatian publik. Mayoritas perusahaan menyatakan aktivitas operasional dan target produksi tetap berjalan normal, meski ada emiten yang masih menelusuri dampak kebakaran di wilayah operasionalnya.
Berdasarkan keterbukaan informasi di BEI, sembilan emiten yang memberikan penjelasan terkait karhutla tersebut antara lain, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Mahkota Group Tbk (MGRO), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), PT Gozco Plantations Tbk (GZCO), PT J.A. Wattie Tbk (JAWA), dan PT Andira Agro Tbk (ANDI).
Secara umum, mayoritas emiten menyatakan karhutla tidak berdampak material terhadap pendapatan, laba, maupun nilai aset. Perusahaan juga menegaskan target produksi 2026 tetap berjalan sesuai rencana dan tidak terjadi penghentian operasi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown).
Meski demikian, tingkat dampak yang dilaporkan tidak sepenuhnya seragam. Emiten Haji Isam, PGUN mengungkapkan adanya karhutla di sekitar area konsesi, sedangkan GZCO menilai dampaknya tidak signifikan. Sementara ANDI masih melakukan penelusuran internal untuk memastikan dampak terhadap kegiatan usahanya.
Menariknya, salah satu emiten Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) mengungkapkan terdapat karhutla di sekitar area konsesinya. Namun, perseroan menyatakan kejadian tersebut tidak menghentikan operasional utama.
Namun, kegiatan pemanenan dan pengolahan di pabrik kelapa sawit PGUN disebut tetap berjalan normal. Perseroan juga menilai dampak finansial langsung relatif terisolasi dan tidak material terhadap pendapatan maupun laba bersih.
PGUN menyatakan aset biologis dan aset tetap masih terlindungi dengan baik, tanpa kerusakan material yang memerlukan penghapusbukuan (write-off).
Seluruh kegiatan operasional PGUN terpusat di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, yang menyumbang 100% produksi dan pendapatan perseroan. Seluruh produksi CPO PGUN juga dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku biodiesel jenis FAME dari perusahaan afiliasinya, JARR.
Dalam mitigasi, PGUN menargetkan tim dapat tiba di titik api maksimal 15-30 menit setelah laporan diterima, bergantung pada aksesibilitas lokasi.
Selain dampak operasional dan keuangan, status hukum terkait karhutla menjadi salah satu aspek yang disoroti dalam jawaban para emiten kepada BEI.
Mayoritas perusahaan menyatakan tidak sedang menghadapi proses hukum maupun sanksi administratif terkait kejadian tersebut. Namun, pernyataan itu merupakan kondisi berdasarkan penjelasan masing-masing emiten pada tanggal surat, sehingga perkembangan selanjutnya tetap perlu dicermati.
Bagi investor, risiko karhutla tidak hanya berkaitan dengan potensi kerusakan kebun atau gangguan produksi. Kebakaran juga berpotensi memengaruhi rantai pasok, kualitas udara, produktivitas tenaga kerja, hingga reputasi perusahaan dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan.
Di sisi lain, kesiapan sarana pemadam, sistem peringatan dini, pengelolaan air, serta koordinasi dengan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan risiko tersebut.
Dengan mayoritas emiten menyatakan operasional dan target produksi masih berjalan sesuai rencana, perhatian investor selanjutnya tertuju pada perkembangan kondisi di lapangan, realisasi produksi hingga akhir tahun, serta kemungkinan munculnya dampak finansial atau konsekuensi hukum apabila terjadi perkembangan baru terkait karhutla.
(rob/rob)



















