• Latest
Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.900

Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.900

October 15, 2026
Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

October 15, 2026
IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Breaking! IHSG Anjlok Diatas 1%

Breaking! IHSG Anjlok Diatas 1%

October 15, 2026
Gelar RUPSLB, Emiten Favorit Lo Kheng Hong ABMM Mau Ganti Direksi

Gelar RUPSLB, Emiten Favorit Lo Kheng Hong ABMM Mau Ganti Direksi

October 15, 2026
Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

Dolar AS Strong & Minyak Memanas, BI Mati-matian Jaga Rupiah

October 15, 2026
IHSG Dibuka Melemah 0,44% di Awal Sesi I

IHSG Dibuka Melemah 0,44% di Awal Sesi I

October 15, 2026
IHSG Ditutup Menguat 0,29% ke Level 5.948

IHSG Ditutup Menguat 0,29% ke Level 5.948

October 15, 2026
IHSG Ditutup Naik 0,29%, Asing Lepas 10 Saham Ini

IHSG Ditutup Naik 0,29%, Asing Lepas 10 Saham Ini

October 15, 2026
IHSG Ditutup Menguat 0,29%, Simak 5 Pilihan Saham Hari Ini

IHSG Ditutup Menguat 0,29%, Simak 5 Pilihan Saham Hari Ini

October 15, 2026
Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6%

Bursa Asia Berguguran, Kospi Anjlok 5,6%

October 15, 2026
Penumpang KRL Makin Padat, Danantara Desak KAI Susun Masterplan

Penumpang KRL Makin Padat, Danantara Desak KAI Susun Masterplan

October 15, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Thursday, October 15, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home Market

Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.900

1 hour ago
in Market
Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini, Dolar AS Naik ke Rp17.900
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali membuka perdagangan di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (15/10/2026). Mata uang Garuda masih berada di bawah tekanan setelah melemah pada perdagangan sebelumnya.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.900/US$ atau melemah tipis 0,03% dibandingkan penutupan Rabu (14/10/2026) di Rp17.895/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,47% ke posisi 102,068.



Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini turut dibayangi perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS) dan prospek kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Inflasi AS pada September 2026 mencapai 3,7% secara tahunan, meningkat dari 3,4% pada Agustus dan melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%. Data yang dirilis Rabu kemarin menunjukkan bahwa kenaikan harga terutama didorong oleh lonjakan biaya energi.

Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,6%, tertinggi sejak April 2026. Sementara itu, inflasi inti meningkat menjadi 2,6% secara tahunan dari 2,4% pada bulan sebelumnya.

Kepala Ekonom AS AllianceBernstein Eric Winograd menilai kenaikan harga energi masih akan menekan daya beli masyarakat.

“Meski sebagian besar hilangnya daya beli disebabkan oleh kenaikan biaya energi, tidak ada alasan untuk memperkirakan tekanan tersebut akan mereda dalam waktu dekat,” ujar Winograd, dikutip dari Reuters.

Setelah rilis inflasi tersebut, perhatian pasar kini beralih ke diskusi Ketua The Fed Kevin Warsh dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand, hari ini pukul 10.30 WIB.

Investor akan mencermati pandangan Warsh mengenai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Selain itu, AS juga dijadwalkan merilis data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) September 2026 hari ini. Pada Agustus, PPI naik 0,4% secara bulanan, sementara secara tahunan meningkat menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli.

Data tersebut akan memberikan gambaran tambahan mengenai tekanan harga di AS. Jika inflasi terus bertahan tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang dapat mendukung dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.

 

(evw/evw)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

Waskita Beton (WSBP) Mau Ubah Utang Jadi Saham, Nilainya Rp1,71 T

October 15, 2026
IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok di Atas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

IHSG Anjlok Diatas 1%, Ini Penyebabnya

October 15, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .