
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali membuka perdagangan di zona merah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (15/10/2026). Mata uang Garuda masih berada di bawah tekanan setelah melemah pada perdagangan sebelumnya.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.900/US$ atau melemah tipis 0,03% dibandingkan penutupan Rabu (14/10/2026) di Rp17.895/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,47% ke posisi 102,068.
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini turut dibayangi perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS) dan prospek kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Inflasi AS pada September 2026 mencapai 3,7% secara tahunan, meningkat dari 3,4% pada Agustus dan melampaui perkiraan pasar sebesar 3,6%. Data yang dirilis Rabu kemarin menunjukkan bahwa kenaikan harga terutama didorong oleh lonjakan biaya energi.
Secara bulanan, inflasi tercatat sebesar 0,6%, tertinggi sejak April 2026. Sementara itu, inflasi inti meningkat menjadi 2,6% secara tahunan dari 2,4% pada bulan sebelumnya.
Kepala Ekonom AS AllianceBernstein Eric Winograd menilai kenaikan harga energi masih akan menekan daya beli masyarakat.
“Meski sebagian besar hilangnya daya beli disebabkan oleh kenaikan biaya energi, tidak ada alasan untuk memperkirakan tekanan tersebut akan mereda dalam waktu dekat,” ujar Winograd, dikutip dari Reuters.
Setelah rilis inflasi tersebut, perhatian pasar kini beralih ke diskusi Ketua The Fed Kevin Warsh dengan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva dalam pertemuan IMF-World Bank di Bangkok, Thailand, hari ini pukul 10.30 WIB.
Investor akan mencermati pandangan Warsh mengenai kondisi ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Selain itu, AS juga dijadwalkan merilis data indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) September 2026 hari ini. Pada Agustus, PPI naik 0,4% secara bulanan, sementara secara tahunan meningkat menjadi 5,4% dari 4,8% pada Juli.
Data tersebut akan memberikan gambaran tambahan mengenai tekanan harga di AS. Jika inflasi terus bertahan tinggi, The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang dapat mendukung dolar AS dan menambah tekanan terhadap rupiah.
(evw/evw)


















