
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah mencoba bangkit pada pembukaan perdagangan hari ini menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal II-2026.
Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Rabu (5/8/2026), rupiah terapresiasi sebesar 0,32% ke posisi Rp17.957/US$.
Penguatan tersebut terjadi setelah mata uang Garuda ditutup melemah 0,19% ke level Rp18.015/US$ pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Rupiah kemarin bahkan sempat menyentuh posisi terlemah hariannya di Rp18.045/US$.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,03% ke posisi 99,887.
Pergerakan rupiah hari ini terjadi di tengah penantian pasar akan pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia periode kuartal II-2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada siang nanti.
Berdasarkan konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia dari 15 lembaga dan institusi, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5,12% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II-2026.
Secara kuartalan, ekonomi diproyeksikan tumbuh 3,56% dibandingkan kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qtq).
Pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% secara tahunan, tetapi terkontraksi 0,77% secara kuartalan. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicatatkan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang mencapai 21,81% secara tahunan.
Apabila hasil pengumuman BPS sesuai dengan konsensus pasar, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 akan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Namun, angkanya masih sama dengan pertumbuhan kuartal II-2025 yang mencapai 5,12% secara tahunan.
Office of Chief Economist Bank Mandiri memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi daripada konsensus, yakni sebesar 5,20% secara tahunan pada kuartal II-2026.
“Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia melambat menjadi 5,20% yoy pada kuartal II-2026, turun dari 5,61% yoy pada kuartal I-2026, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,12% yoy pada kuartal II-2025,” tulis Office of Chief Economist Bank Mandiri dalam risetnya.
Selain data ekonomi domestik, rupiah turut dipengaruhi oleh perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Harapan tercapainya kesepakatan antara kedua negara kembali meningkat dan mendorong minat pelaku pasar terhadap aset berisiko.
Harapan meredanya perang membuat harga minyak mentah AS anjlok 5,7% pada perdagangan sebelumnya. Penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan inflasi global sekaligus mengurangi beban impor energi Tanah Air.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut menurun seiring berkurangnya kekhawatiran terhadap inflasi. Peluang kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada September juga turun menjadi 59% dari 68% pada Senin.
Penurunan jumlah lowongan pekerjaan AS periode Juni turut menekan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut meredakan sebagian kekhawatiran terhadap kebijakan moneter ketat The Fed, meski DXY masih menguat tipis pada perdagangan Asia pagi ini.
(evw/evw)


















