
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Jumat (23/10/2026), seiring kekhawatiran terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang menekan saham teknologi Amerika Serikat (AS).
Pelemahan tersebut terjadi setelah sektor teknologi AS terkoreksi tajam pada perdagangan sebelumnya, dengan investor mencermati kebutuhan pendanaan untuk pengembangan infrastruktur AI.
Mengutip CNBC International, indeks Kospi Korea Selatan turun 2,42%, sedangkan Nikkei 225 Jepang melemah 0,49%. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,21%.
Saham teknologi AS tertekan setelah kekhawatiran terhadap belanja AI menyeret sektor tersebut turun sekitar 3% pada perdagangan Kamis. Nvidia anjlok 4,4%, Alphabet melemah 3,2%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) merosot 8,1%.
CEO Nvidia Jensen Huang mengatakan bahwa ketersediaan modal untuk pengembangan AI mulai menjadi tantangan di tengah tingginya kebutuhan pendanaan. Menurut dia, permintaan modal jauh lebih besar dibandingkan ketersediaan dana, khususnya pada segmen neocloud yang menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur AI.
Presiden Yardeni Research Ed Yardeni menyebut perdagangan saham terkait AI telah memasuki wilayah gelembung atau bubble, tetapi menurutnya pengurangan tekanan pada valuasi tidak selalu berdampak buruk. Ia menilai koreksi pada saham AI tidak akan serta-merta memicu masalah bagi perekonomian, seraya menyoroti pasar obligasi sebagai pesaing saham dalam memperebutkan alokasi modal.
Di pasar obligasi AS, imbal hasil Treasury tenor 10 tahun turun 18,5 basis poin menjadi 4,961% pada perdagangan Kamis, seiring meningkatnya minat terhadap aset yang dianggap aman. Imbal hasil obligasi tenor 30 tahun turun 15 basis poin, sementara tenor dua tahun terkoreksi 17,5 basis poin.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent melonjak setelah muncul laporan bahwa AS dan Israel tengah menyusun rencana serangan baru terhadap Iran di tengah konflik regional yang berlangsung sejak akhir Februari. Harga Brent naik 4% dan ditutup pada US$113,17 per barel, menjadi level penutupan tertinggi sejak Mei.
Di pasar saham AS, indeks S&P 500 menuju kenaikan tipis kurang dari 0,1% sepanjang pekan, sedangkan Nasdaq tercatat turun 0,5%. Dow Jones Industrial Average berada di jalur penguatan 1,7% selama periode yang sama.
Dari sisi ekonomi, pelaku pasar akan mencermati rilis final indeks sentimen konsumen University of Michigan. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk menilai kondisi kepercayaan konsumen AS.
(rob/rob)



















