
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan hari ini. IHSG dibuka di level 5.397,34, naik 9,43 poin atau 0,18%.
Pada menit yang sama di awal sesi I, pukul 09.00 WIB, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 5.405,88, atau menguat 0,33%. Level terendah tercatat di 5.387,61. Setelah pembukaan, penguatan indeks terpangkas dan IHSG bergerak di kisaran 5.394,13, naik 6,23 poin atau 0,12% dari penutupan sebelumnya.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 13,83 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp322,92 miliar. Pergerakan indeks masih sangat dinamis di awal sesi dan dapat berubah seiring berjalannya perdagangan.
Pada perdagangan Jumat ini, pasar masih akan mencermati beberapa perkembangan dari dalam negeri, terutama terkait kebijakan pemerintah, kondisi industri perbankan, dan perkembangan likuiditas perekonomian.
Selain itu, Ambruknya Wall Street juga menjadi perhatian pasar hari ini sebagai sentimen global.
Untuk sentimen dalam negeri, perhatian saat ini tertuju pada pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pengelolaan sumber daya alam hingga rencana perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Kemudian, pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai level tertinggi dalam satu dekade, perkiraan peningkatan penyaluran kredit baru pada akhir tahun, serta program pemerintah untuk memperluas akses rekening bank menjadi perhatian.
Pelaku pasar juga menantikan rilis data uang beredar September 2026 oleh Bank Indonesia (BI), setelah pertumbuhannya melambat selama dua bulan berturut-turut.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mengubah aturan penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tak luput dari perhatian investor. Mulai 2 November 2026, saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) tak lagi masuk perhitungan IHSG.
Mengutip keterbukaan informasi BEI, kebijakan ini bertujuan membuat indeks lebih mencerminkan dinamika pasar. Sebelumnya, hanya saham di Papan Akselerasi yang dikecualikan dari penghitungan IHSG.
Sementara sentimen dari global antara lain, pengumuman data inflasi Jepang di bulan September yang akan disampaikam pada Jumat pagi hari ini.
Inflasi tahunan Jepang meningkat menjadi 2,1% pada September 2026, naik dari 1,9% dalam dua bulan sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Desember 2025, sekaligus menandai kembali naiknya inflasi inti di atas target Bank of Japan (BOJ).
Berdasarkan data Statistics Bureau of Japan, inflasi inti yang tidak memasukkan harga pangan segar, tetapi tetap mencakup energi, mencapai 2,1% secara tahunan. Angka tersebut meningkat dari 1,7% pada Agustus dan menjadi yang tertinggi dalam sembilan bulan terakhir. Realisasi ini juga sesuai dengan ekspektasi pasar.
(rob/rob)



















