
Jakarta, CNBC Indonesia- Wall Street mulai mengubah cara pandang terhadap investasi besar-besaran perusahaan teknologi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Investor kini tidak hanya melihat seberapa besar perusahaan menggelontorkan modal untuk mengembangkan AI.
Saat ini, kemampuan mereka “menghasilkan arus kas” untuk membiayai ekspansi tersebut menjadi kunci. Bak cash is the king, investor ingin melihat apakah perusahaan-perusahaan itu benar-benar menghasilkan dana segar.
Microsoft dan Oracle misalnya, keduanya mendapat respons positif dari investor karena dinilai mampu membiayai ambisi AI mereka tanpa terus-menerus bergantung pada pendanaan eksternal. Sebaliknya, Alphabet, induk Google, dan Amazon justru mendapat tekanan setelah laporan keuangan mereka menunjukkan besarnya kebutuhan kas untuk investasi infrastruktur AI.
Saham Alphabet anjlok lebih dari 12% pada perdagangan Kamis menjadi penurunan harian terdalam sepanjang sejarah perusahaan. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$500 miliar atau setara Rp9.000 triliun kapitalisasi pasar.
Sementara itu, saham Amazon turun lebih dari 6% dalam perdagangan setelah jam bursa (after-hours) menyusul publikasi laporan keuangan kuartal III-2026. Adapun saham Microsoft ditutup hampir tidak berubah pada perdagangan Kamis setelah sempat menguat.
Pergerakan Microsoft terjadi di tengah laporan bahwa perusahaan tersebut berencana menghimpun dana US$25 miliar melalui penerbitan obligasi investment grade di AS. Ini menjadi penerbitan obligasi sejenis yang pertama dalam lebih dari sembilan tahun.
Perbedaan respons pasar tersebut menunjukkan perubahan ekspektasi investor. Setelah sebelumnya memberikan penghargaan kepada perusahaan teknologi yang agresif mengamankan kapasitas komputasi, termasuk melalui utang, kini investor menuntut bukti bahwa pertumbuhan bisnis AI mampu “menghasilkan uang” untuk membiayai investasi berikutnya.
Meta telah memberikan sinyal awal pekan lalu. Meski membukukan pertumbuhan pendapatan di atas perkiraan dan memberikan prospek positif, saham perusahaan milik Mark Zuckerberg itu tertekan oleh kekhawatiran investor terhadap besarnya arus kas yang terserap untuk belanja modal.
Sebaliknya, saham Oracle ditutup menguat hampir 11% pada Rabu. Perusahaan milik Larry Ellison tersebut menyatakan berencana membatasi pendanaan eksternal dan memperkirakan arus kasnya akan kembali positif pada paruh kedua tahun fiskal 2028.
“Di antara empat perusahaan hyperscaler, kami melihat pertumbuhan bisnis cloud dan permintaan terhadap perangkat AI,” kata kepala strategi pasar di Zacks Investment Management, Brian Mulberry, dikutip Reuters, Jumat (30/10/2026).
“Namun, dalam hal menjalankan bisnis sekaligus menghasilkan uang, Microsoft tampaknya menjadi satu-satunya yang mampu melakukan semuanya secara bersamaan,” tambahnya.
Meski Microsoft juga mulai mencari pendanaan melalui penerbitan utang, nilainya masih jauh lebih kecil dibandingkan sejumlah pesaingnya sepanjang tahun ini. Google telah menghimpun lebih dari US$140 miliar melalui penerbitan utang dan saham.
Sementara itu, Meta mengumpulkan US$62,5 miliar. Amazon sendiri meraih US$98 miliar melalui penerbitan obligasi.
Amazon dan Google Tertekan
Bila dilihat lebih rinci, sebenarnya Amazon mencatat arus kas keluar sebesar US$42,4 miliar selama 12 bulan hingga 30 September 2026. Perusahaan juga melaporkan belanja modal sebesar US$77,26 miliar pada kuartal III-2026, jauh lebih besar dari perkiraan pasar.
CEO Amazon Andy Jassy mengatakan perusahaan akan membelanjakan dana dalam jumlah yang jauh lebih besar pada 2027, setelah mengalokasikan sekitar US$220 miliar sepanjang tahun ini.
“Angka utama dalam laporan keuangan tidak sepenting cerita arus kas di baliknya. Amazon memberikan kekecewaan ganda, ditambah proyeksi yang tidak cukup meyakinkan investor yang sebelumnya sudah terguncang oleh penurunan saham Alphabet,” ujar analis senior di Investing.com Jesse Cohen.
Untuk meredakan kekhawatiran pasar, Amazon menyoroti pertumbuhan bisnis AI yang mencapai tiga digit. Jassy mengatakan dirinya justru semakin yakin investasi tersebut akan menghasilkan bisnis dengan kemampuan mencetak arus kas bebas yang jauh lebih besar.
Di sisi lain, Alphabet mengalokasikan 121,4% dari arus kas operasionalnya untuk belanja modal pada kuartal September. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Microsoft yang sebesar 68%, dengan tidak memperhitungkan sewa pembiayaan.
Rasio belanja modal yang lebih rendah memberikan ruang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan pembelian kembali saham, membagikan dividen, atau membayar utang. Sebaliknya, rasio di atas 100% menunjukkan belanja perusahaan telah melampaui kas yang dihasilkan dari kegiatan operasional sehingga kekurangannya harus ditutup menggunakan cadangan dana atau pinjaman.
“Alphabet dan Microsoft menunjukkan kondisi yang sangat berbeda,” kata kepala riset di S&P Global Visible Alpha, Melissa Otto.
Menurut dia, kinerja Microsoft memperlihatkan pertumbuhan yang disiplin, sedangkan Google menghabiskan banyak uang dan bisnis intinya tidak memenuhi ekspektasi. Kondisi tersebut juga memunculkan pertanyaan apakah perkembangan AI mulai mengambil pangsa pasar dari bisnis mesin pencari Google.
Pendapatan Google Search hanya tumbuh 12% pada kuartal September, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 14,7%. Padahal, CEO Alphabet Sundar Pichai mengatakan jumlah pencarian tumbuh dengan laju tercepat dalam lima tahun terakhir.
Bisnis “mesin pencari” yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama Google menghadapi persaingan dari chatbot dan agen AI. Hal tersebut mengubah cara masyarakat mencari informasi.
Pada saat yang sama, Alphabet justru berencana meningkatkan belanja modal secara signifikan pada 2027. Kepala keuangan Alphabet Anat Ashkenazi menyampaikan rencana tersebut kepada analis.
Namun Belanja AI Google Dongkrak Bisnis Cloud
Meski membebani arus kas, investasi besar Alphabet mulai mendorong pertumbuhan bisnis cloud perusahaan. Pendapatan Google Cloud melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$30,71 miliar.
Namun, besarnya pengeluaran investasi membuat pertumbuhan tersebut belum cukup meredakan kekhawatiran investor. Arus kas keluar Alphabet mencapai US$9,07 miliar setelah perusahaan mencatat arus kas negatif untuk pertama kalinya pada kuartal Juni.
Wakil presiden sekaligus pejabat investasi senior di Check Capital, Jeremy Saltzberg, yang memiliki saham Alphabet, mengatakan bisnis Google saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan tiga hingga 10 tahun lalu.
Ia menilai belanja besar diperlukan agar Alphabet tetap kompetitif di tengah persaingan pengembangan model AI di Silicon Valley, terutama ketika OpenAI dan Anthropic dinilai berada di posisi terdepan.
“Kami melihat ini sebagai olahraga para raja. Jika Anda tidak memiliki US$150 miliar untuk dibelanjakan tahun depan untuk belanja modal, bahkan tidak perlu ikut bertanding,” ujar Saltzberg.
Microsoft Pemenangnya?
Berbeda dari para pesaingnya, Microsoft berhasil menghasilkan arus kas bebas sebesar US$18,6 miliar pada kuartal pertama tahun fiskal 2027. Angka tersebut hampir US$10 miliar lebih tinggi dari perkiraan Wall Street.
Pencapaian itu diraih meski perusahaan menggelontorkan US$45,2 miliar untuk memperluas infrastruktur komputasinya. Bisnis komputasi awan Azure juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 48%, melampaui ekspektasi pasar.
Microsoft bahkan memperkirakan pertumbuhan bisnis cloud akan lebih cepat pada kuartal berjalan. Kinerja tersebut mengindikasikan Microsoft mulai menemukan pasar AI yang lebih luas, tidak hanya bergantung pada segelintir pelanggan bermodal besar seperti OpenAI yang selama ini membutuhkan kapasitas komputasi sangat besar.
CEO Microsoft Satya Nadella mengatakan perusahaan mulai melihat lebih banyak pelaku bisnis yang beralih dari sekadar mencoba teknologi AI terbaru menjadi pengguna yang berkomitmen melalui kontrak jangka panjang.
“Hal-hal yang sebelumnya terlihat sangat menarik mulai berkurang daya tariknya,” kata Nadella dalam konferensi dengan analis.
“Saya menginginkan jangkauan yang luas. Kami memiliki pelanggan besar yang ingin membeli dari kami. Selama harganya tepat, kami bisa menjual kepada mereka. Jika tidak, kami akan bersabar untuk membangun bisnis dengan jangkauan yang lebih luas,” ujarnya.
(sef/sef)



















