
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah belum beranjak dari level psikologis Rp18.000/US$ pada awal perdagangan Senin (19/10/2026). Mata uang Garuda dibuka stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah mengalami tekanan tajam pada akhir pekan lalu.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp18.000/US$, tidak berubah dibandingkan penutupan Jumat (16/10/2026) di posisi yang sama.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau relatif stagnan di posisi 101,832.
Pergerakan rupiah pada awal perdagangan hari ini masih dibayangi kekhawatiran terhadap kondisi pasar keuangan domestik setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,32% pada Jumat pekan lalu.
Tekanan tersebut terjadi menyusul pengumuman MSCI yang membuka kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Meski demikian, perubahan status tersebut belum menjadi keputusan final. MSCI masih membuka konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027, sementara keputusan akhirnya dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
Ketidakpastian ini menjadi perhatian investor karena perubahan klasifikasi tersebut berpotensi memicu penyesuaian portofolio dan arus keluar dana asing dari pasar saham domestik, yang dapat menambah tekanan terhadap rupiah.
Kepala Departemen Makroekonomi INDEF, Muhammad Rizal Taufikurrahman mengatakan, meskipun pembahasan nasib pasar saham Indonesia di MSCI masih dilakukan hingga keputusan final di Juni 2027, tetapi investor dapat mengurangi eksposur sebelum keputusan final.
“Penjualan saham asing yang diikuti pembelian dolar berpotensi menekan rupiah, sementara memburuknya persepsi risiko dapat menjalar ke SBN dan menaikkan biaya pembiayaan,” ujar Rizal kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).
Karena itu, Rizal menegaskan intervensi BI harus disertai transparansi kepemilikan saham, penindakan manipulasi, dan disiplin fiskal yang kredibel.
Sementara itu, dari luar negeri, ekonomi China menunjukkan perbaikan setelah pertumbuhannya kembali meningkat pada kuartal III-2026.
Mengutip Reuters, produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui ekspektasi pasar sebesar 4,4% dan meningkat dari 4,3% pada kuartal sebelumnya.
Secara kuartalan, ekonomi China tumbuh 1,2%, lebih tinggi dari perkiraan 1,1% dan pertumbuhan 0,9% pada kuartal sebelumnya.
Perkembangan ini menjadi perhatian Indonesia mengingat China merupakan salah satu mitra dagang utama. Pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat berpotensi mendukung permintaan ekspor Indonesia dan memberikan sentimen positif bagi rupiah.
(evw/evw)



















