
Jakarta, CNBC Indonesia – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyoroti masih kuatnya fundamental perusahaan-perusahaan di Indonesia di tengah kekhawatiran pasar modal terhadap usulan MSCI yang berpotensi mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menilai, persoalan tata kelola dan transparansi pasar modal perlu ditangani secara serius. Namun, hal tersebut tidak serta-merta mencerminkan bahwa fundamental bisnis seluruh perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) berada dalam kondisi buruk.
Menurutnya, masukan dari investor maupun penyedia indeks global perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat kualitas pasar modal Indonesia. Di sisi lain, kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan mengembangkan bisnis juga harus dinilai secara objektif.
“Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif,” ujar Pandu dalam sosial media Instagram, Jumat (23/10/2026).
Pandu memaparkan, dari 146 emiten yang memiliki pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, sebanyak 134 perusahaan tercatat masih membukukan laba.
Selain itu, secara agregat, laba emiten pada semester I-2026 tumbuh 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pendapatan perusahaan meningkat 7% secara tahunan.
Kondisi tersebut, menurut Pandu, menunjukkan bahwa masih terdapat perusahaan Indonesia dengan kemampuan menghasilkan keuntungan dan prospek bisnis yang perlu dicermati investor di tengah gejolak pasar.
Tak hanya itu, sebanyak 121 emiten non keuangan tercatat memiliki total kas sebesar Rp583 triliun pada kuartal II-2026. Jumlah tersebut meningkat 13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Besarnya kas yang dimiliki perusahaan dapat memberikan ruang bagi perseroan untuk mendukung ekspansi dan pengembangan usaha, meskipun keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional dan kondisi keuangan masing-masing perusahaan.
Dananatra mendukung penuh OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan, dan seluruh pemangku kepentingan sesuai perannya masing-masing.
“Pasar modal yang kuat bukan hanya soal indeks naik. Perusahaan berkualitas harus bisa mendapatkan pendanaan dan masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhannya,” tutupnya.
(rob/rob)



















