• Latest
Siap-siap BI Makin Galak! Rupiah Tertekan & Harga-harga Melambung

Siap-siap BI Makin Galak! Rupiah Tertekan & Harga-harga Melambung

June 3, 2026
Dipajaki Bukan Berarti Dinyatakan Halal

Dipajaki Bukan Berarti Dinyatakan Halal

October 15, 2026
Danantara Targetkan Dana Filantropi Rp1,66 T/Tahun, Ini 3 Fokusnya

Danantara Targetkan Dana Filantropi Rp1,66 T/Tahun, Ini 3 Fokusnya

October 15, 2026
BSI International Expo 2026 Bidik Transaksi Rp 4 Triliun, Sasar Gen Z

BSI International Expo 2026 Bidik Transaksi Rp 4 Triliun, Sasar Gen Z

October 15, 2026
Bos BSI Blak-Blakan Tujuan Rights Issue, Kejar Free Float Saham 15%

Bos BSI Blak-Blakan Tujuan Rights Issue, Kejar Free Float Saham 15%

October 15, 2026
Bisnis Hilirisasi Antam (ANTM) Melesat, Ini Buktinya

Bisnis Hilirisasi Antam (ANTM) Melesat, Ini Buktinya

October 15, 2026
BSI (BRIS) Bidik Kantor Cabang Jeddah Buka Januari 2027

BSI (BRIS) Bidik Kantor Cabang Jeddah Buka Januari 2027

October 15, 2026
Soroti Karhutla, Ini Respons 9 Perusahaan Termasuk Emiten Haji Isam

Soroti Karhutla, Ini Respons 9 Perusahaan Termasuk Emiten Haji Isam

October 15, 2026
100% Kebun Sawit di Kalteng, MKTR Klaim Operasi Tetap Normal

100% Kebun Sawit di Kalteng, MKTR Klaim Operasi Tetap Normal

October 15, 2026
Danantara Minta Garuda (GIAA) Tegas Soal Target Pasar

Danantara Minta Garuda (GIAA) Tegas Soal Target Pasar

October 15, 2026
Morgan Stanley Terciduk Asik Jual-Beli Saham GOTO, Cuan Berapa?

Morgan Stanley Terciduk Asik Jual-Beli Saham GOTO, Cuan Berapa?

October 15, 2026
Dana Haji Tembus Rp184 Triliun, BPKH Kebut Transformasi Digital

Dana Haji Tembus Rp184 Triliun, BPKH Kebut Transformasi Digital

October 15, 2026
Pendapatan Turun, Rugi WSBP Bengkak Jadi Rp410 Miliar

Pendapatan Turun, Rugi WSBP Bengkak Jadi Rp410 Miliar

October 15, 2026
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
Thursday, October 15, 2026
Asian Property News
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy
No Result
View All Result
Asian Property News
No Result
View All Result
Home People & Culture

Siap-siap BI Makin Galak! Rupiah Tertekan & Harga-harga Melambung

4 months ago
in People & Culture
Siap-siap BI Makin Galak! Rupiah Tertekan & Harga-harga Melambung
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah ekonom di Indonesia memperkirakan, Bank Indonesia (BI) akan terus mempertahankan kebijakan moneter ketat atau hawkish imbas dari terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, ditambah dengan makin tingginya tekanan inflasi.

Hal ini salah satunya disampaikan oleh Head of Banking Research and Analytics BCA Victor George Petrus Matindas dan Ekonom BCA Samuel Theophilus Artha dalam laporan bulanannya bertajuk “CPI: Slowly creeping up”.

Mereka menyebut, tekanan inflasi pada Mei 2026 sudah memberikan tanda potensi kenaikan harga-harga di Indonesia akan berlanjut, dengan realisasi mencapai 3,08% secara tahunan (YoY) dan 0,28% secara bulanan (MoM) pada Mei 2026, meningkat dari 2,42% YoY dan 0,13% MoM pada April.

“Ancaman inflasi yang semakin nyata ini kemungkinan akan memaksa Bank Indonesia untuk mempertahankan sikap kebijakan moneter yang ketat (hawkish) untuk sementara waktu,” kata mereka dikutip dari Monthly Economic Briefing BCA Economic and Industry Research, Rabu (3/6/2026).

Menurut tim ekonom BCA, inflasi bulanan yang relatif tinggi mencerminkan dampak dari guncangan harga energi (energy shock). Dari tiga kelompok utama inflasi, harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat kenaikan paling tajam sebesar 0,52% MoM, yang disebabkan oleh kenaikan tarif penerbangan dan harga energi nonsubsidi.

Faktor tambahan lainnya adalah lonjakan harga beberapa bahan pangan tertentu, meskipun perlu dicatat bahwa komponen-komponen tersebut (bersama emas) memang sering mengalami fluktuasi harga yang tinggi.

“Meskipun sektor transportasi hanya memberikan kontribusi langsung yang terbatas terhadap IHK (dengan bobot sekitar 11,9%), kontribusi tidak langsungnya melalui sektor logistik jauh lebih besar, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan. Oleh karena itu, dampak keseluruhan kenaikan harga energi tidak hanya tercermin pada tarif transportasi, tetapi juga pada kenaikan harga barang dan jasa secara umum,” ujar tim ekonom BCA.

Selain itu, depresiasi tajam nilai tukar Rupiah (melemah sekitar 6,5% sejak awal tahun/YtD) menurut mereka juga berpotensi meningkatkan biaya input produksi lebih lanjut, yang pada akhirnya dapat memaksa produsen menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin mereka.

Saat ini mata uang Garuda pun telah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level psikologis baru. Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.26 WIB, rupiah melemah 0,39% ke level Rp17.900/US$.

Pelemahan ini semakin dalam dibandingkan posisi pembukaan perdagangan, ketika rupiah dibuka melemah 0,22% ke level Rp17.870/US$. Level ini sekaligus menjadi all time low terbaru bagi rupiah terhadap greenback. Setelah menembus level psikologis Rp17.900/US$, rupiah kini semakin mendekati level psikologis berikutnya di Rp18.000/US$.

Oleh sebab itu, mereka menilai Bank Indonesia sudah terlihat semakin agresif dalam mempertahankan nilai tukar Rupiah, yang tercermin dari imbal hasil SRBI tenor 12 bulan yang mencapai 6,92% pada lelang terakhir.

Mengingat suku bunga acuan BI saat ini berada di 5,25%, Bank Indonesia menurut BCA masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut tanpa secara signifikan mengganggu likuiditas di pasar.

“Oleh karena itu, proyeksi saat ini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga tambahan sebesar 50 basis poin (0,50%) sepanjang tahun 2026,” tegas tim ekonom BCA.

Pernyataan serupa disampaikan oleh tim ekonom Bank Permata. Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman mengatakan, adanya potensi kenaikan suku bunga BI (BI-Rate) sekali lagi pada tahun ini karena berbagai masalah inflasi dan tekanan kurs.

Namun, skenario dasar (baseline) tetap memperkirakan bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di 5,25%, karena kenaikan 50 basis poin (0,50%) yang telah dilakukan sebelumnya dipandang sebagai langkah antisipatif dan berorientasi ke depan untuk menjaga stabilitas makroekonomi serta nilai tukar pada tahun 2026.

“Dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga BBM bersubsidi pada tingkat saat ini, inflasi tahunan diperkirakan mencapai sekitar 2,72% pada akhir tahun 2026. Namun, apabila berbagai risiko yang disebutkan sebelumnya benar-benar terjadi dan kondisi memburuk, inflasi dapat meningkat lebih tajam sehingga memperbesar kemungkinan dan alasan bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya,” kata Faisal.

(arj/arj)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

Diawasi Bappepti-BI, Bursa Berjangka Makin Dipercaya Investor

January 5, 2026
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

Deretan Saham yang Diramal Right Issue 2026!

December 18, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Dipajaki Bukan Berarti Dinyatakan Halal

Dipajaki Bukan Berarti Dinyatakan Halal

October 15, 2026
Danantara Targetkan Dana Filantropi Rp1,66 T/Tahun, Ini 3 Fokusnya

Danantara Targetkan Dana Filantropi Rp1,66 T/Tahun, Ini 3 Fokusnya

October 15, 2026
BSI International Expo 2026 Bidik Transaksi Rp 4 Triliun, Sasar Gen Z

BSI International Expo 2026 Bidik Transaksi Rp 4 Triliun, Sasar Gen Z

October 15, 2026
Asian Property News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • People & Culture
  • Lifestyle
  • Market
  • Economy

Copyright © 2025 .