
Daftar Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten tekstil dan garmen PT Pan Brothers Tbk (PBRX) mencatatkan rugi periode berjalan US$ 5,19 juta sepanjang semester I-2026, berbalik dari laba US$ 93,07 juta pada periode yang sama tahun lalu. Kerugian itu terjadi justru saat pendapatan perseroan tumbuh dua digit.
Mengacu pada laporan keuangan konsolidasian tidak diaudit per 30 Juni 2026, penjualan PBRX naik 12,14% menjadi US$ 134,69 juta, dari US$ 120,11 juta pada semester I-2025. Beban pokok penjualan ikut naik menjadi US$ 122,87 juta, sehingga laba bruto tumbuh lebih tipis 7,41% menjadi US$ 11,83 juta.
Margin bruto perseroan justru menyusut menjadi 8,78%, dari 9,17% pada periode yang sama tahun lalu. Di level operasional, PBRX masih mencatat rugi usaha US$ 804.689, membaik hampir 50% dibandingkan rugi usaha US$ 1,6 juta pada semester I-2025.
Pukulan terbesar datang dari pos pendapatan lainnya. Pada semester I-2025, PBRX membukukan pendapatan lain-lain jumbo US$ 102,25 juta, yang sebagian besar berasal dari keuntungan modifikasi utang senilai US$ 101,57 juta, buah dari restrukturisasi melalui skema Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Pos “durian runtuh” akuntansi itu tidak berulang tahun ini, dengan pendapatan lainnya hanya US$ 1,25 juta.
Alhasil, PBRX membalikkan laba sebelum pajak US$ 94,24 juta menjadi rugi sebelum pajak US$ 4,74 juta. Setelah beban pajak US$ 452.262, perseroan mencatat rugi periode berjalan US$ 5,19 juta, berbanding laba US$ 93,07 juta pada semester I-2025.
Rugi yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat US$ 5,74 juta, membuat rugi per saham menjadi US$ 0,00027.
Beban Keuangan Masih Menghantui
Beban keuangan PBRX pada semester I-2026 mencapai US$ 4,90 juta, naik tipis dari US$ 4,83 juta. Dari jumlah itu, beban bunga tercatat US$ 706.271, sementara sisanya US$ 4,20 juta merupakan amortisasi biaya transaksi terkait restrukturisasi pinjaman.
Sementara itu, beban umum dan administrasi relatif stagnan di US$ 11,11 juta dari US$ 11,05 juta, dengan gaji dan lembur karyawan sebagai komponen terbesar senilai US$ 5,24 juta. Jumlah karyawan grup per 30 Juni 2026 tercatat 23.762 orang, bertambah dari 22.794 orang setahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset PBRX naik tipis menjadi US$ 210,29 juta per 30 Juni 2026, dari US$ 208,91 juta pada akhir 2025. Namun total liabilitas ikut naik menjadi US$ 155,26 juta, sehingga ekuitas terkikis 6,95% menjadi US$ 55,03 juta. Saldo defisit perseroan tercatat US$ 284,75 juta.
Yang paling mencolok, kas dan setara kas menyusut lebih dari separuh menjadi US$ 7,63 juta, dari US$ 15,62 juta pada akhir tahun lalu. Arus kas dari aktivitas operasi masih negatif US$ 4,59 juta, meski membaik dari negatif US$ 6,75 juta pada semester I-2025.
Di sisi lain, piutang usaha bersih melonjak menjadi US$ 24,32 juta dari US$ 17,88 juta, sementara persediaan bersih naik menjadi US$ 99,55 juta dari US$ 91,15 juta.
Rasio pinjaman bersih terhadap ekuitas (net debt to equity) naik menjadi 1,53 kali, dari 1,20 kali pada akhir 2025. Angka ini masih di bawah batas maksimum 2,5 kali yang dipersyaratkan dalam fasilitas hasil penyelesaian PKPU, namun sudah melampaui target internal manajemen sebesar maksimum 2,00 kali.
Uniqlo dan Adidas Kuasai Hampir Separuh Penjualan
Berdasarkan segmen geografis, Asia tetap menjadi pasar terbesar dengan kontribusi US$ 62,13 juta, disusul Amerika US$ 40,73 juta, Eropa US$ 24,88 juta, dan wilayah lainnya US$ 6,95 juta.
Ketergantungan pada segelintir pembeli besar masih terlihat. Uniqlo menyumbang penjualan US$ 48,95 juta atau sekitar 36% dari total penjualan bersih, sedangkan Adidas berkontribusi US$ 14,06 juta atau sekitar 10%. Keduanya menguasai hampir 47% penjualan PBRX.
Catatan Kelangsungan Usaha
Dalam Catatan 43 laporan keuangan, manajemen menyatakan masih terdapat ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan atas kemampuan grup mempertahankan kelangsungan usahanya (going concern).
Manajemen memaparkan dua langkah utama untuk mengatasi kondisi tersebut: mengonversi pinjaman sindikasi, obligasi, dan pinjaman bilateral non-aktif menjadi ekuitas sesuai putusan homologasi guna memperbaiki ekuitas dan rasio lancar, serta mencari pelanggan baru.
Sebagai catatan, homologasi PKPU PBRX bersama entitas anak ESGI, PSS, dan PPEB efektif sejak 3 Januari 2025, dengan putusan pengesahan perjanjian perdamaian dibacakan di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat pada 23 Desember 2025. Skema tersebut mencakup penerbitan Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai maksimal US$ 156,69 juta, yang bila dikonversi akan mewakili 55% modal saham perseroan secara fully diluted.
Laporan keuangan ini telah disetujui Direksi untuk diterbitkan pada 31 Juli 2026 dan berstatus tidak diaudit.
(fsd/fsd)


















